• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 29 Januari 2022

Rehat

Sejarah dan Makna Maulid Nabi menurut Prof Quraish Shihab

Sejarah dan Makna Maulid Nabi menurut Prof Quraish Shihab
Prof Quraish Shihab jelaskan sejarah dan makna maulid Nabi Muhammad SAW. (Foto: NOJ/WKm)
Prof Quraish Shihab jelaskan sejarah dan makna maulid Nabi Muhammad SAW. (Foto: NOJ/WKm)

Bagi cendekiawan muslim terkemuka, Prof Quraish Shihab, bahwa tradisi maulid Nabi Muhammad SAW memiliki sejarah yang unik. Demikian pula ekspresi umat Islam dalam memeriahkan kelahiran Nabi juga beragam. Hanya saja, harus terukur dan tidak melakukan hal negatif.

 

Menurut Prof Quraish Shihab, perayaan maulid Nabi dengan cara meriah baru dilaksanakan pada zaman Dinasti Abbasiyah. Khususnya pada masa kekhalifahan Al-Hakim Billah.  

 

 

“Dia merayakan maulid (Nabi) dengan keluar bersama permaisurinya. Dengan pakaian yang indah,” katanya sebagaimana video yang diunggah akun YouTube Mata Najwa

 

Prof Quraish menambahkan, sejak saat itu perayaan maulid Nabi diselenggarakan hingga hari ini. Dengan cara yang berbeda-beda. Ia mencontohkan, di Mesir misalnya, maulid Nabi dirayakan dengan membuat boneka dari manisan.  

 

“Dinamai Araisil Maulid (Arouset al-Moulid). Di situ digambarkan ada permaisuri dengan pakaian putihnya. Ada khalifah dengan naik kuda,” jelasnya. 

 

Prof Quraish menuturkan, hal itu dilakukan sebagai bentuk syukur dan mendidik anak-anak agar cinta kepada Nabi Muhammad SAW.  

 

Menurutnya, perayaan maulid Nabi berkembang hingga hari ini. Antara komunitas muslim di satu tempat dengan yang lainnya berbeda dalam merayakan. Di Sulawesi Selatan misalnya, maulid Nabi dirayakan dengan membuat lampu-lampu dari simpron kemudian dihias dengan aneka aksesoris. 

 

“Jadi apa makna itu? Memang Allah memperintahkan ‘qul wabifadlillahi wabirahmati fabidzalika falyafrahu wa khairum mimma yajma’un.’ Berkar rahmat Allah, berkat anugerah Allah hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik,” paparnya.  

 

“Ini yang dijadikan ulama untuk merayakan maulid (Nabi),” tambahnya.  

 

Menyikapi perkembangan perayaan maulid Nabi, Prof Quraish mengakui, perkembangan perayaan ada yang positif dan negatif. Perkembangan yang baik harus diterima. Sementara, jika yang negatif harus ditolak.  

 

“Di Mesir pun ada acara nyanyi-nyanyian, tari-tarian yang tidak dibenarkan,” ucapnya. 

 

Dia menegaskan, inti dari perayaan maulid Nabi adalah untuk memperkenalkan Nabi Muhammad SAW. Kenal adalah pintu untuk mencintai. Sehingga dengan mengenal Nabi Muhammad SAW, maka umat muslim kini bisa mencintainya. 

 

“Karena itu menjadi wajib kita mengenal beliau (Nabi Muhammad SAW). Apa artinya kita disuruh bersyahadat. Anda berkata ‘saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad rasul.’ Kenal gak (dengan) Nabi Muhammad. Saksi anda saksi bohong gak kenal dia. Maka kita ingin memperkenalkannya,” paparnya. 

 

Meski demikian, Prof Quraish juga mengkritik perayaan maulid Nabi yang berlebih-lebihan. Seperti membuat acara makan besar-besaran yang juga menghabiskan dana besar, sementara lingkungannya membutuhkan infrastruktur pemberdayaan seperti poliklinik, taman baca, dan lain sebagainya. 

 

“Itu lebih baik dari pada kita habiskan uang untuk merayakan. Kita punya perayaan maulid saat ini, kita memperkenalkan Nabi Muhammad SAW,” tegasnya.


Editor:

Rehat Terbaru