• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 7 Juli 2022

Rehat

Melihat Geliat Maulid Nabi di Mimika dan Filosofi Tumpeng

Melihat Geliat Maulid Nabi di Mimika dan Filosofi Tumpeng
Kemeriahan lomba tumpeng PC Fatayat NU Mimika, Papua. (Foto: NOJ/ISt)
Kemeriahan lomba tumpeng PC Fatayat NU Mimika, Papua. (Foto: NOJ/ISt)

Ekspresi keberagamaan itu berbeda-beda sesuai adat dan budaya masing-masing masyarakat. Aneka suku bangsa yang ada di Nusantara ini sangat beragam dalam tata caranya berekspresi, termasuk ekpresi kegembiraan atas lahirnya Nabi Muhammad Saw.

 

Ekspresi kegembiraan seperti itu dirasakan oleh sejumlah pengurus Pimpinan Cabang Fatayat NU Mimika, Papua  yang diwujudkan dengan festival tumpeng. Kegiatan akhir bulan lalu di halaman Masjid Nurul Hikmah Pesantren Darussalam Mimika. 

 

Kegiatan merupakan puncak maulidurrasul yang sudah dimulai sejak awal bulan, yakni Festival Shalawat dengan dilanjut lomba tartil, azan, puisi, dan bilal Jumat. 


Makna Tumpeng
"Tumpeng yang dilombakan bebas ukurannya, bahannya, bentuknya, dan kreasi kreasi lainnya. Aspek keindahan tampilan, kesehatan bahan dan cara masak, rasa masakan, dan filosofi bahan-bahan menjadi aspek penilaian dewan juri," terang Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Mimika, Ustadz Sugiarso.


Menurut Plt Ketua Fatayat NU Mimika, Erni Susanti, banyak Pimpinan Ranting Fatayat NU yang ikut lomba. 

"Ada 13 ranting yang ikut lomba dengan berbagai macam bahan, ada polo pendem, buah-buahan, tiwul, sayur mayur, sagu, dan swami," jelasnya.


Sementara itu KH Abdullah Umar Fayumi atau Gus Umar sempat memberikan makna filosofis tumpeng. 

 

"Tumpeng itu maknanya bisa beragam dan subyektif. Ini menjadi bukti kehebatan para wali dalam dakwah," kata Pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum Kajen, Pati, Jawa Tengah  tersebut. 


Menurutnya, tumpeng berjumlah satu dan bentuknya kerucut itu melambangkan tauhid. 

 

"Tidak ada yang dua yang ada hanya satu. Dialah Tuhan Allah. Tumpeng bermakna metu dalan lempeng atau jalan lurus jalannya para Nabi," terang cicit Mbah Mutakim ini. 


"Untuk menyambungkan rasa kita kepada Rasulullah yang berdampak nyata, saya ijazahkan shalawat yang mengandung lima posisi Rasulullah. Lafadznya ‘allahumma shalli  ala sayyidina wa maulana wa habibana wa syafiina wa qurratu a'yunina Muhammad wa ala alihi sahbihi wa sallim," urainya.

 

Menurutnya, lafadz sayyidina bermakna posisi Nabi sebagai Nur Muhammad dan cikal bakalnya alam semesta, tuannya semesta alam segala ciptaan Allah. 

 

“Lafadz maulana bermakna posisi Nabi sebagai Nabi dan Rasul yang memberi petunjuk alam dan kemerdekaan dari kegelapan, kekisruhan, kebiadaban," urainya lebih lanjut.


Posisi Nabi yang ketiga adalah habibana. 

 

“Artinya kekasih kami, kasih sayang. Nabi menjadi tuannya akhlak kasih sayang yang terpancar dari nur Muhamnad yang ada pada semua ciptaan di alam semests ini. Interaksi antar ciptaan didasari oleh rasa kasih sayang," urainya dengan contoh interaksi sesama manusia.


Sedangkan lafadz syafiina, merujuk pada posisi Nabi sebagai pemberi syafaat terakhir. 

 

“Ketika manusia memerlukan sarana atau wasilah untuk tercapainya tujuan dan semua mentok, maka hanya Nabi yang tampil sebagai wasilah terakhirnya, " urai Pengasuh Komunitas Pesantren Laras Jagad ini.


Untuk lafadz qurrati a'yunina bermakna mata yang tenang, sumber kebahagiaan. Ketika lafadz sayyidina, maulana, habibina, syafiina sudah manjing, maka Nur Muhammad yang ada dalam diri kita membawa kepada kebahagian apapun yang diindra di dunia.


Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus Pesantren Darussalam Mimika, PCNU Mimika dari jajaran syuriah dan tanfidziyah, PC Fatayat NU Mimika dan para tokoh setempat. Hadir juga Wakil Rais, Kiai Anshori  dan Sekretaris PWNU Papua, Muhammad Thaif.
 


Editor:

Rehat Terbaru