• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 20 April 2024

Keislaman

Tradisi Selikuran Ramadhan, Apakah Bid’ah?

Tradisi Selikuran Ramadhan, Apakah Bid’ah?
Ilustrasi lailatul qadar (Foto:NOJ/waton)
Ilustrasi lailatul qadar (Foto:NOJ/waton)

Orang Madura menyebut tradisi Maleman dengan nama 'Malem Salekoran', orang Jawa menyebutnya Selikuran (sebutan bilangan 21) yang maknanya 'Sing Linuwih le Tafakur'. Artinya, lebih bersemangat ya bertafakur.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tradisi Maleman adalah selamatan pada malam tanggal ganjil di bulan Ramadhan, yakni tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29.


Secara historis, tradisi Maleman tersurat dalam Bauwarna Adat Tata Cara Jawa karya Bratasiswara, yang menyatakan bahwa tradisi tersebut bagian dari memperingati Nuzulul Qur'an dalam Maleman Sriwedari Surakarta yang dihelat pada malam 21 bulan Ramadhan.


Diketahui, tradisi ini terinspirasi dari serat Ambiya. Disebutkan, setiap tanggal gasal, Nabi Muhammad saw turun dari Jabal Nur. Kegiatan ini dilakukan pada hari ke-21 bulan Ramadhan.


Tujuan dihelatnya tradisi Maleman untuk mendapatkan kemuliaan dan mengingatkan pada umat Muslim bahwa pada malam itu agar lebih giat beribadah. Terutama menggapai malam Lailatul Qadar. Karena Nabi saw memerintahkan agar mencari malam istimewa yang ada di 10 terakhir bulan Ramadhan.


تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري)


Artinya: Carilah Lailatul Qadar pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.


Yang lumrah dilakukan oleh Nahdliyin pada tradisi Maleman, berupa sedekah makanan, seperti tumpeng, kue serabi, dan nasi ketan yang diantarkan ke sanak family, sebagian dibawa ke masjid atau mushala untuk jamaah shalat tarawih dan yang bertadarus Qur'an.


Tradisi bersedekah makanan pada tradisi Maleman, tertera dalam kitab fikih, yakni disunnahkan berbuat baik (apapun bentuknya) kepada keluarga, kerabat, tetangga, guru, dan lainnya.


وسن مع التأكيد (برمضان). وعشره الاخير آكد (إكثار الصدقة). وتوسعة على عيال. وإحسان على الاقارب والجيران للاتباع 


Artinya: Sangat disunnahkan di bulan Ramadhan, apalagi sepuluh akhir Ramadhan untuk memperbanyak sedekah, dan menyenangkan keluarganya, berbuat baik kepada kerabat dan tetangga, sesuai ajaran Rasulullah (Fathul Muin, 251)


Dengan demikian, Maleman merupakan tradisi turun temurun yang dilestarikan oleh warga NU dan merupakan warisan ulama yang membawa Islam ke Nusantara. Tradisi tersebut tidak bid’ah, sebab tidak bertentangan dengan agama, bahkan agama Islam menganjurkan pada umat Nabi saw agar memperbanyak berbuat kebaikan, salah satunya bersedekah.


Keislaman Terbaru