• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 23 April 2024

Keislaman

Malam Lailatul Qodar Perspektif Al-Qur'an dan Hadis

Malam Lailatul Qodar Perspektif Al-Qur'an dan Hadis
Lailatur Qodar. (Foto: NOJ/NU Online)
Lailatur Qodar. (Foto: NOJ/NU Online)

Umat Nabi Muhammad tidak seperti umat para Nabi sebelumnya yang memiliki usia ratusan bahkan ribuan tahun hidup di dunia. Tentu keistimewaan itu sangat menguntungkan bagi mereka karena bisa berbuat baik dalam kurun waktu yang sangat lama dan panjang.

 

Rasulullah shallahu alaihi wasallam pernah bercerita di hadapan para Sahabat tentang seseorang dari kalangan Bani Israil yang berperang dengan mengenakan baju dan senjata perang selama 1000 bulan. Para Sahabat yang mendengar kisah itu merasa cemburu dan ingin seperti lelaki yang diceritakan tersebut. Tak lama setelah itu, lalu turunlah Surat Al-Qadr. Rasulullah lalu bersabda, “Orang yang melakukan kebaikan di malam itu lebih baik dari lelaki yang berperang selama seribu bulan tersebut.”

 

Selain memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan, malam Lailatul Qodar juga menjadi perantara dihapusnya dosa dan kesalahan kita di masa lalu. Rasulullah memastikan keterangan tersebut melalui hadis sahih.

 

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

 

Artinya: "Siapa yang mengerjakan ibadah pada malam Qadar dengan penuh  keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhari).

 

Malam Lailatul Qodar secara bahasa diartikan malam mulia, malam sempit, malam ketetapan. Ulama pakar tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab meenguraikan, bahwa malam Lailatul Qodar diartikan malam mulia karena kemuliaannya melebihi seribu bulan. Ia juga diartikan malam yang sempit karena seluruh malaikat berbondong-bondong turun ke dunia sampai waktu subuh. Sedangkan malam lailatul Qodar dikatakan malam ketetapan karena Al-Quran turun pada malam itu sebagai ketetapan dan pedoman hidup yang dihadiahkan Allah kepada umat Manusia.

 

Surat Al-Qodr ayat 1 yang menjelaskan Allah menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qodar dipahami oleh Muhammad Sayyid At-Thantawi, Guru Besar Tafsir Universitas Al-Azhar Kairo Mesir sebagai dua macam proses Al-Quran diturunkan. Pertama, Al-Quran diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia pada malam Lailatul Qodar. Kedua, Rasulullah shallahu alaihi wasallam mendapatkan wahyu pertama Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 di gua Hira pada malam Lailatul Qodar. Terkait proses pertama, Al-Quran diturunlan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia merupakan hal yang gaib yang hanya diketahui oleh Allah semata. Kita tidak dituntut untuk bertanya dan mencari jawabannya.

 

Para ulama juga berbeda persepsi terkait, apakah malam Lailatul Qodar terjadi hanya satu kali saat Al-Quran diturunkan atau berulang terjadi setiap tahun? Sebagian mereka berasumsi, malam mulia itu hanya terjadi satu kali sewaktu Al-Quran diturunkan, namun mayoritas ulama meyakini malam Lailatul Qodar terjadi berulang setiap tahunnya dan dirahasiakan oleh Allah.

 

Kepastian waktu terjadinya malam Lailatul Qodar setiap tahun menjadi misteri yang tidak ada satu pun ulama berani menggaransi ketepatan dan kebenaran pendapatnya. Dalam beberapa keterangan hadis, Nabi Muhammad memang tidak menyebutkan secara paten kapan malam Lailatul Qodar menyapa umatnya setiap tahun. Dalam satu keterangan diungkapkan, bahwa malam mulia itu terjadi di malam ganjil sepuluh terakhir di bulan Ramadan. Sayangnya, sekali lagi tidak ada keterangan yang mutlak dan pasti kapan malam Lailatul Qodar terjadi.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

 

Artinya: “Carilah malam lailatul qodar itu pada malam ganjil sepuluh terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhori)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه وسلم: مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ.

 

Artinya: "Dari Ibnu 'Umar: Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang ingin mencari malam Lailatul Qadar hendaklah ia mencarinya pada malam dua puluh tujuh.” (HR. Ahmad)

 

Ibnu Batthol dalam Syarah Sohih Al-Bukhari mengurai beragam pendapat para Sahabat dan Tabi’in, Ibnu Abbas, Aisyah, dan Bilal bin Robah menyatakan Lailatul Qodar terjadi setiap malam 24 Ramadan. Pendapat ini diikuti oleh Qatadah dan Hasan Al-Basri. Ibnu Mas’ud menyakini malam 10 Ramadan adalah malam terbaik yang tepat disebut Lailatul Qodar. Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit lebih condong pada malam 19 Ramadan. Sedangkan Abu Said Al-Khudri mempercayai malam 21 Ramadan dan Abdullah bin Umar malam 23 Ramadan.

 

Meskipun banyak perbedaan pendapat tentang waktu malam Lailatul Qodar, Rasulullah memberikan gambaran ciri-ciri malam Lailatul Qodar yaitu pagi dan siang setelah malam itu terasa sejuk, tenang, dan sinar matahari tidak menyengat. Abdullah bin Mas’ud menyampaikan ciri Malam Lailatul Qodar dari Rasulullah:

 

وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِيْ صَبِيْحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شِعَاعَ لَهَا

 

Artinya: “Cirinya Matahari terbit di pagi malam Lailatul Qodar tidak menyengat dan (langit) terlihat putih cerah.” (HR. Muslim)

 

Jabir bin Samuroh juga menjelaskan ciri malam Lailatul Qodar:

 

مِنْ حَدِيثِ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ مَرْفُوعًا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ مَطَرٍ وَرِيحٍ وَلِابْنِ خُزَيْمَةَ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ مَرْفُوعًا فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَهِيَ لَيْلَةٌ طَلْقَةٌ بَلْجَةٌ لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ تَتَّضِحُ كَوَاكِبُهَا وَلَا يَخْرُجُ شَيْطَانُهَا حَتَّى يُضِىءُ فَجْرُهَا

 

Artinya: "Dari Hadis Jabir bin Samuroh (disandarkan ke Rasulullah): Ciri Lailatul Qodar itu malamnya hujan dan berangin. Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadis dari Jabir (disandarkan ke Rasulullah) juga: Ciri Lailatul Qodar itu bercahaya, terang, tidak panas, dan tidak dingin. Bintang-bintang terlihat jelas. Setan tidak berani keluar sampai Fajar terbit menyinarinya."

 

Ali bin Ahmad Al-Jurjawi dalam karyanya Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu mengungkapkan bagaimana semestinya sikap kita terkait beragam pendapat para ulama terkait terjadinya malam Lailatu Qodar. “Ketidakpastian kapan terjadinya malam Lailatul Qodar agar kita bersungguh-sungguh setiap malam, terlebih di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan dan tidak bermalas-malasan.  Seperti halnya Allah merahasiakan cinta-Nya pada perintah-Nya agar kita semangat dalam menaati-Nya, Allah juga menyembunyikan amarah-Nya pada larangan-Nya agar kita berhati-hati tidak bermaksiat kepada-Nya, Allah menutupi para wali atau kekasih-Nya agar kita menghormati dan memuliakan semua manusia,” tulisnya.[

 

Setiap malam bulan Ramadan hendaknya kita memperbanyak membaca doa yang pernah diajarkan Rasulullah kepada Aisyah.

 

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: " قُولِي: اللَّهُمَّ ‌إِنَّكَ ‌عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي ".

 

Artinya: "Dari 'Aisyah: "Saya bertanya kepada Rasulullh SAW: Bagaimana jika saya dapat mengetahui malam Qadar itu, apa yang saya baca pada malam itu ? Jawab beliau: Bacalah! " Ya Allah sungguh Engkau pengampun, suka mengampuni kesalahan, maka ampunilah kesalahanku." (HR. Tirmidzi).

 

Rasulullah shallahu alaihi wasallam juga Sungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan. Aisyah berkata, “Jika masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sabuknya.” (HR. Ahmad). Pemimpin para Nabi itu juga melakukan I’tikaf dan memperbanyak keintiman Bersama Allah. Aisyah juga menyatakan, “Rasulullah selalu I’tikaf di sepuluh akhir malam ramadan sampai beliau wafat.” (HR. Bukhari). Rasulullah juga memperbanyak sedekah dan kebaikan untuk menyambut malam Lailatul Qodar. Ibnu Abbas, “Rasulullah orang yang paling dermawan dan Rasulullah semakin dermawan saat di bulan Ramadan.” (HR. Bukhari).


Keislaman Terbaru