• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Pemerintahan

Sambut Lailatul Qadar, Pagelaran Reog di Ponorogo Dihentikan

Sambut Lailatul Qadar, Pagelaran Reog di Ponorogo Dihentikan
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko di hadapan warga yang menyaksikan atraksi Reog. (Foto: NOJ/Zen M
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko di hadapan warga yang menyaksikan atraksi Reog. (Foto: NOJ/Zen M

Ponorogo, NU Online Jatim
Setiap malam, Pemerintah Kabupaten Ponorogo selalu menggelar pentas Reog. Kegiatan dimulai usai shalat tarawih, dan dapat disaksikan warga secara cuma-cuma karena berlangsung di jalanan tengah kota. 


Akan tetapi, dalam rangka menjemput lailatul qadar, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menghentikan pagelaran Reog tersebut. Keputusan diambil untuk memberikan kesempatan kepada umat Islam mengisi akhir Ramadhan dengan ibadah dan diharapkan meraih lailatul qadar.


Namun demikian, Kang Bupati Sugiri tetap meminta doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia. Yakni agar Reog dicatatkan sebagai nominasi tunggal yang diajukan selaku warisan budaya tak benda yang diakui Organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO).


Hal itu dikatakannya pada gelaran penutupan pagelaran Reog Ponorogo Milik Indonesia, di Alon-alon kabupaten setempat, Kamis (21/04/2022). 


"Kita Reog-an terakhir, karena besok sudah malam ganjil," tutur Kang Bupati Sugiri. 


Dirinya mengungkap pada malam ganjil di bulan Ramadhan bagi umat Muslim adalah waktu untuk menjemput berkah lailatul qadar. 


"Kita Reog-an, kita berbudaya tapi santri," tegasnya. 


Kang bupati menambahkan dengan ketabahan dan kesadaran serta perjuangan bersama-sama untuk Reog, mampu mengetuk hati Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia yakni Nadiem Makariem agar mengusulkan Reog ke UNESCO. 


"Sekali lagi lepas apakah Malaysia mengklaim atau tidak, kita tidak tahu persis, karena saya jauh dengan Malaysia. Saya di Ponorogo Malaysia jauh di sana," imbuhnya. 


Namun, lanjutnya Reog tidak boleh kalah dan harus dinomor satukan. Karena merupakan prinsip besar. 


"Perjuangan panjenengan semua siang dan malam pasti itu amal. Perbuatan baik itu demi Reog Ponorogo yang kita cintai," pungkasnya. 


Editor:

Pemerintahan Terbaru