• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 7 Desember 2022

Matraman

Reog Warnai Upacara Hari Santri di Nganjuk

Reog Warnai Upacara Hari Santri di Nganjuk
Seni reog beraksi usai Upacara Hari Santri Nasional di Wlangan (Foto: NOJ/ Hafidz Yusuf)
Seni reog beraksi usai Upacara Hari Santri Nasional di Wlangan (Foto: NOJ/ Hafidz Yusuf)

Nganjuk, NU Online Jatim

Ada yang menarik pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2021 di Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk pada Jumat (22/10). Selain upacara, peringatan hari santri yang digelar di Hutan Gunung Pegat tersebut juga dimeriahkan oleh kesenian reog.

 

Sorak sorai seluruh tamu undangan dan peserta yang hadir pun semakin membuat suasana menjadi lebih meriah. Hal itu dikarenakan penampilan sang reog yang memukau dan atraktif, sehingga cukup menghibur para peserta yang mungkin lelah tapi tetap semangat.

 

Panitia HSN Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Wilangan, Atourrohman Syahroni menyampaikan, pihaknya sengaja mengangkat tema Islami dipadukan dengan lingkungan dan budaya. Menurutunya, sejarah perkembangan Islam di Indonesia tidak dapat lepas dari akulturasi budaya yang ada.

 

Dalam sejarah reog, saluran Islamisasi di masyarakat  Ponorogo  oleh Bathara Katong disalurkan lewat berbagai media. Di antaranya kesenian reog sebagai media politik dan strategi kultural yang universal.

 

“Kesenian Reog merupakan kesenian yang sangat mengakar di kehidupan masyarakat khususnya Ponorogo. Oleh karenanya, Bethara Katong memilih kesenian ini sebagai media dakwahnya dalam menyebarkan agama Islam,” ujarnya kepada NU Online Jatim.

 

Lebih lanjut Atok, sapaan akrabnya menjelaskan, musik gamelan yang awalnya digunakan oleh Ki Ageng Kutu untuk adu kekuatan dan adu kesaktian, dimanfaatkan oleh Bethara Katong sebagai bagian dari media dakwah. Suara nyaring dari gamelan tersebut sangatlah keras, sehingga menarik masyarakat untuk datang ke arah sumber suara tersebut.

 

“Ketika masyarakat mulai berkumpul, Bethara Katong memulai untuk memasukkan unsur-unsur Islam tersebut dengan menunjukkan makna dari setiap alat gamelan yang digunakan sebagai pengiring,” jelasnya.

 

Ketua NU Care-LAZISNU Wilangan tersebut mengatakan, perkembangan Islam di Pulau Jawa  tidak lepas dari media politik. Berkat kekuasannya, Batahara Kathong dapat mengislamkan masyarakat Ponorogo tanpa peperangan.

 

“Karena prinsip Bathara Katong memang sama dengan para wali saat itu, yaitu Menang Tanpo Ngasorake (menang tanpa merendahkan),” terangnya.

 

Salah satu peserta upacara, Ari Khozin Efendy, mengaku kagum dengan pagelaran reog. Selain sebagai hiburan, menurut Ari, hal itu juga sebagai pengingat sejarah.

 

 

“Sangat senang dan kagum tentunya, semoga tahun depan bisa lebih meriah dari ini,” pungkasnya.

 

Penulis: Hafidz Yusuf


Editor:

Matraman Terbaru