• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Malang Raya

Pesan Kiai Marzuki kepada Santri saat Apel HSN 2021

Pesan Kiai Marzuki kepada Santri saat Apel HSN 2021
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim saat memimpin Apel Hari Santri di Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Gasek, Malang. (Foto: NOJ/ Moch Miftachur Rizki)
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim saat memimpin Apel Hari Santri di Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Gasek, Malang. (Foto: NOJ/ Moch Miftachur Rizki)

Malang, NU Online Jatim

Serangkaian Hari Santri 2021 oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur salah satunya diisi Apel Hari Santri. Kegiatan yang digelar secara virtual ini dipusatkan di Pondok Pesantren Sabilur Rosyad, Gasek, Malang, Jum’at (22/20). Bertindak sebagai inspektur upacara KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim.

 

Pantauan NU Online Jatim dilokasi juga dilakukan pembacaan ikrar santri, yakni Panca Setia Santri yang dipimpin oleh seorang santri putri Pesantren Sabilur Rosyad, Gasek. Kemudian dilanjut dengan amanat pimpinan Apel Hari Santri, KH Marzuki Mustamar.

 

Dalam kesempatan ini, Kiai Marzuki menyampaikan sejumlah pesan kepada santri di Jawa Timur. Pertama, hendaknya santri tetap beribadah, beramal baik, mempraktikkan muamalah dan munakah secara benar.

 

"Tetap ngaji, mondok di pesantren ulama. Kalau ada fatwa apapun yang bertentangan, abaikan saja. Tetaplah ngaji, ikuti ulama," ujar dosen Fakultas Humaniora UIN Malang ini.

 

Kedua, punya sikap wathaniyah. Yakni santri harus terus berkomitmen menjaga keutuhan NKRI. Selain santri, pihak aparat penegak hukum juga harus mengawal kedamaian dan intoleransi di Indonesia.

 

“Bila ditemukan hal yang bertentangan dengan prinsip dalam berbangsa, mohon segera ditindak. Baik itu hal yang mengatasnamakan agama ataupun yang lainnya. Karena konteksnya mudharat dan tidak menimbulkan kemaslahatan," tegasnya.

 

Santri hendaknya juga terus membekali diri dengan berbagai skill pengetahuan. Agar nantinya santri dapat mengisi pos-pos penting di pemerintahan. “Seperti Kementerian, BUMN, perusahaan dan seterusnya,” ungkapnya.

 

Ketiga, Santri diharapkan tidak hanya mengaji dan belajar agama, namun juga belajar apapun, seperti ilmu sains, sebagai bekal menjaga negeri. Karena ke depan persaingan semakin berat, terlebih di era globalisasi yang harus bisa bersaing dengan bangsa asing.

 

"Saya bangga ada santri yang akhlaknya baik, di kampus UM, UB, Unair dan lainnya yang masuk jurusan eksakta, dan mampu meraih IPK tinggi. Ini akan menjadi peluru ulama nantinya di kancah publik," tegasnya.

 

Keempat, santri harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sesuai bidangnya. Bagi yang Hafidz, sebisa mungkin tidak hampir satu tahun hafalnya. Selain itu, ditambah dengan pengetahuan baca kitab yang matang dan cepat.

 

“Mempelajari kitab Jauharul Maknun (Ilmu Balaghah), Tafsir, atau Kutubus Sittah tidak perlu waktu yang lama jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah,” katanya.

 

Lebih lanjut, Kiai Marzuki menuturkan, bahwa masyarakat terdiri dari berbagai macam golongan. Sefanatik apapun terhadap Islam, Aswaja, atau NU hendaknya juga dibarengi dengan sikap realistis terhadap lingkungan sekitar.

 

 

“Karena kehidupan di luar itu kita tidak hanya bergaul dengan orang-orang yang sepaham atau satu daerah tempat tinggal, tapi nanti akn berkumpul dengan orang-orang lintas daerah, paham, dan lainnya. Kepada mereka, kita harus menyampaikan pentingnya menjaga NKRI,” pungkasnya.


Malang Raya Terbaru