• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 3 Desember 2022

Madura

Derajat Ibu Menurut Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’abud

Derajat Ibu Menurut Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’abud
Kegiatan podcast Al-Muqri TV. (Foto: NOJ/Firdausi)
Kegiatan podcast Al-Muqri TV. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Al-Habib Abd Qodir bin Zaid Ba’abud mengatakan, ibu seperti seorang bidadari yang Allah turunkan di dunia. Karena, adanya siang dan malam memilki fungsi masing-masing. Begitu juga wanita dan laki-laki yang Allah berikan kesetaraan yang sama dan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.

 

“Ayah dan ibu memiliki kelebihan dan kekurangan, yang pada hakikatnya bagian dari unsur yang saling melengkapi,” ujarnya saat menjawab pertanyaan host di acara podcast yang ditayangkan oleh Al-Muqri TV, Rabu (29/06/2022).

 

Tak hanya itu, saking hebatnya seorang wanita, paling segar dan lezatnya kalimat yang keluar dari bibir manusia adalah kalimat dari ibu. Karena ibu memiliki rasa kasih sayang yang tidak bisa diberikan pada seorang lelaki.

 

“Ibu memiliki indera perasa yang lebih. Terbukti saat masa Rasulullah, seorang ibu melihat kondisi fisik anaknya pasca peperangan tidak terlihat bentuk tubuhnya atau tiada, ibu bisa menentukan dengan rasa atau bisa menemukan jenazah anaknya,” ungkap santrinya Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Yaman itu.

 

Mubaligh asal Probolinggo itu mengutarakan, dalam keadaan apapun atau walau tidak diungkapkan secara lisan, seorang ibu pasti mengatakan pada anaknya, jika ada 1.000 lelaki ataupun perempuan yang mencintaimu, ketahuilah bahwa ibulah yang pertama kali mencintainya.

 

“Hanya ibulah yang menerima kekurangan kita. Seorang suami terkadang memiliki batasan untuk menerima seorang wanita. Ketika batasan itu dilampaui, maka suami tidak akan menerimanya. Berbeda dengan ibu, sejelek apapun seorang anak, walaupun dibenci orang lain, ibu akan menadahkan tangannya sambil meneteskan air mata, lalu berkata ke sini wahai anakku,” terangnya.

 

Di masa Nabi, lanjutnya, seorang anak berlari menghampiri ibunya usai perang berakhir. Seketika sang ibu menangis gembira sambil memeluk erat anaknya. Berbeda dengan sedihnya seorang ibu ketika anaknya meninggal dunia, perasaannya seperti anak disembelih dipangkuannya. Itulah kesedihan ibu, sehingga dijadikan barometer oleh anak bahwa sedihnya ibu di dalam hidup saat melihat anaknya wafat. 

Di saat yang sama, KH M Zainur Rahman Hammam Ali selaku host menceritakan bahwa, kedudukan ibu dalam masyarakat Madura sangat tinggi, seperti halnya tertuang dalam pribahasa Bhupa’, Bhabu’, Ghuru, Rato (ayah, ibu, guru, pemimpin/pemerintah).

 

“Empat orang tersebut yang tidak boleh diremehkan atau masuk dalam daftar yang harus dimuliakan. Usut demi usut, rata-rata kiai-kiai yang alim di Madura, salah satu indikatornya adalah tirakat ibunya. Misalnya, orang biasa atau bukan keturunan kiai, memiliki anak yang bisa mendirikan pesantren. Setelah diselidiki, faktor yang paling dominan adalah tirakat ibunya,” tutur Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep itu.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Karang Kapoh Prenduan itu menambahkan, salah satu kebiasaan warga Madura adalah seorang ibu bersedekah yang dikhususkan untuk anaknya dan berpuasa sunnah di setiap hari kelahirannya. 

 

“Dengan demikian, salah satu indikator seorang anak menjadi alim dan bermanfaat pada masyarakat luas adalah mentirakati anaknya tanpa lelah,” tandasnya.


Madura Terbaru