• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Madura

Ketua LDNU Sumenep: Tujuan Hidup Mencari Keberkahan

Ketua LDNU Sumenep: Tujuan Hidup Mencari Keberkahan
Kiai Imam Sutaji mengisi materi di acara Taujihad Mahasantri Ma'had Aly Al-Ihsan Jaddung. Foto: Istimewa
Kiai Imam Sutaji mengisi materi di acara Taujihad Mahasantri Ma'had Aly Al-Ihsan Jaddung. Foto: Istimewa

Sumenep, NU Online Jatim 

Kiai Imam Sutaji, Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep mengatakan, menuntut ilmu di pesantren yang diharapkan mendapat keberkahan.


Pernyataan itu disampaikan di acara Tawjihad Mahasantri Baru di Pondok Pesantren Ma'had Aly Al-Ihsan Jaddung, Pragaan, Sumenep, Kamis (26/05/2022) malam. 


"Kalian boleh punya harta yang banyak. Sekalipun punya uang yang banyak, adakah hari ini yang bisa membeli waktu, keimanan dan keselamatan? Oleh karenanya, kenyataan hidup adalah sesuatu yang tidak perlu disesali. Jangan sesali apa yang tidak pernah kita dapat. Tetapi, marilah kita berubah dengan proses yang tepat," pintanya saat mengisi materi ke-NU-an. 


Kiai Imam Sutaji mengajak, yakinkan bahwa bersama guru bisa belajar bersama mengarungi kehidupan ini. Dengan harapan mendapat ridha dari Allah. 


"Walaupun sedikit ilmunya tapi keberkahan menyertainya, maka ilmu tersebut tidak pernah habis dipakai orang satu kampung. Jika harakah kita tidak ada keberkahan, walaupun ia memiliki gelar akademik yang mentereng, dipakai diri sendiri tidak cukup. Jangankan membahagiakan orang lain, membahagiakan diri sendiri tidak mampu," tegasnya. 


Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk itu menegaskan, hidup yang diharapkan hanya satu, yakni keberkahan. Ia mengimbau, jika orang yang terkenal dan pintar tidak bisa mengelola dengan baik, maka bisa jadi bahaya. Karena keterkenalan adalah penyakit hati. 


"Laki-laki paling senang dikenal orang pintar. Perempuan paling suka disebut cantik. Mengapa? Karena sebagian pria tidak suka berpikir tapi lebih suka melihatnya. Ingat, perempuan hanya butuh pengakuan dan penghargaan. Jangan sakiti perasaan perempuan bagaikan kaca. Jika pecah, sulit dijamah kembali," ungkapnya. 


Diingatkan pula, di materi pertama Kiai Ahmad Mubarok Yasin telah mengulas sejarah pesantren dan muassisnya. Seluruh peserta mendengar berita tentang keshalihan, ibadah, dan perjuangannya yang begitu besar jasa-jasanya. 


"Para almarhumin mencintai kita. Mereka ingin santri-santrinya menjadi orang shalih dan shalihah sampai keturunannya. Yang wafat menjadi sejarah yang tak lekang oleh waktu, tak habis oleh pergeseran masa, dan nama-nama muassis berada di lisan-lisan penerus yang menggantikannya," terangnya. 


Dosen Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-Guluk itu menjelaskan, Islam yang diajarkan oleh muassis Al-Ihsan, selalu qanaah atau menerima tanpa harus menaruh dendam dan iri dengki. Tetapi Islam yang selalu mengajarkan kebahagiaan orang lain dan ikut bersimpati atas kesedihan orang lain. 


"Allah telah memilih kalian. Jika mencapai cinta, maka kalian berada dibawah bendera muassis. Itu masih cinta, bagaimana bagi santri yang mengamalkannya. Mudah-mudahan kalian dipilih Allah, awliya agar berdekatan dengan Al-Ihsan," tandasnya. 


Tawjihad Ma'ahad Aly Al-Ihsa Jaddung dilaksanakan selama dua hari dengan materi kelembagaan oleh pengasuh pesantren. Sedangkan materi ke-Aswaja-an dan ke-NU-an diampu oleh Instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Jawa Timur. 


Editor:

Madura Terbaru