• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 21 Mei 2022

Madura

Kiai Marzuki Mustamar Ajak Warga NU Jaga Kearifan Lokal

Kiai Marzuki Mustamar Ajak Warga NU Jaga Kearifan Lokal
KH Marzuki Mustamar saat di Bluto, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
KH Marzuki Mustamar saat di Bluto, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Di Arab Saudi, makam dzurriyah nabi, sahabat, auliya, syuhuda yang gugur di medan perang, digusur oleh Wahabi. Berbeda di Indonesia, makam para dzurriyah nabi, auliya, syuhada dirawat, bahkan mendapat dana bantuan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Jika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diganti menjadi negara wahabiyah, maka makam wali songo akan bubar.
 

Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar di acara pelantikan Pimpinan Cabang (PC) Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Sumenep, Ahad (23/01/2022). Acara dipusatkan di aula Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Sumenep.
 

“Hanya di Indonesia makam wali utuh. Bahkan Bali yang mayoritas beragama Hindu, makam auliya masih utuh. Sama halnya dengan candi Borobudur dan Prambanan yang merupakan situs Hindu-Budha masih terjaga. Perlu diketahui, orang-orang yang buka lapak di daerah candi, yang jaga parkiran dan lainnya adalah umat Islam. Itulah kerukunan yang ada di Indonesia,” katanya.
 

Secara historis, lanjutnya, mayoritas muassis NU berguru ke Makkah, seperti seperti Syaikhona Muhammad Khalil, Hadratussykeh KH M Hasyim Asy’ari, KH Hasan Genggong dan lainnya. Namun ketika wahabi menang, guru-gurunya dibunuh. Kitabnya dirampas, dimusnahkan, bahkan ada beberapa kalimat di dalam kitab yang tidak disetujuinya, diubah dan dicetak ulang.
 

“Kitab Shahih Bukhari Muslim dan Ibnu Katsir yang diajarkan oleh KH Nawawi bin Abdul Djalil Sidogiri, KH Maimun Zubair Al-Anwar Sarang, KH Abdullah Faqih Langitan, dan lainnya, adalah kitab yang asli. Pasalnya, sebelum konflik berdarah tersebut terjadi di Makkah, para kiai NU membawa pulang kitab aslinya ke Indonesia. Kitab Bukhari Muslim yang asli hanya ada di Nusantara,” jelasnya.
 

Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Kota Malang ini menegaskan, tak ada satu pun kitab-kitab yang diajarkan di pesantren Indonesia berubah satu hurufnya atau tidak mengalami pemalsuan. Dengan demikian, ribuan kitab di Indonesia masih asli. Jika wahabi mengubah tatanan negara Indonesia, maka berakhirlah era Islam yang asli dan berubah Islam imitasi. 
 

“Perlu diketahui, nabi lahir di Makkah. Namun perayaan yang besar-besaran hanya ada di Indonesia. Bahkan aparat keamanan pun ikut shalawatan. Selain itu, rutinan pembacaan Ratibul Haddad di pedesaan masih menggema di Indonesia. Padahal penyusunnya Habib Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad berasal dari Hadramaut Yaman. Negeri ini adalah kaum pengamal ajaran Islam Ahalussunnah wal Jamaah. Jadi, membubarkan NKRI, sebenarnya memusuhi pengamal Aswaja,” ungkapnya.
 

Tak hanya itu, ta’lif Simthudduror, Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi di Yaman, shalawatnya menggelegar di Indonesia. Lewat Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, jalan raya akan tertutup oleh ratusan umat.  
 

“Imam Syafi’i makamnya di Mesir, tapi muslim yang ketika subuh qunut, adanya di Indonesia. Bahkan Pengikut Syafi'i terbesar ada di Indonesia. Sama juga, makam Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ada di Baghdad. Tapi haul dan manaqibnya dilakukan secara besar-besaran di Indonesia,” ulas dosen di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut. 
 

Selanjutnya, dirinya mengajak kepada pengurus NU untuk menjaga negeri ini. Sebab Nusantara adalah benar-benar negeri Aswaja. “Siapa kita? NKRI? Pancasila?, Yes,” pungkasnya.


Editor:

Madura Terbaru