• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 30 Juni 2022

Madura

Pesan Damai Alissa Wahid saat Orasi Moderasi Beragama

Pesan Damai Alissa Wahid saat Orasi Moderasi Beragama
Alissa Qodrunnada Munawaroh Wahid atau Alissa Wahid. (Foto: NOJ/ Moh Khoirus Shadiqin)
Alissa Qodrunnada Munawaroh Wahid atau Alissa Wahid. (Foto: NOJ/ Moh Khoirus Shadiqin)

Sumenep, NU Online Jatim

Alissa Qodrunnada Munawaroh Wahid atau Alissa Wahid menyoroti berbagai hal yang marak terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Hal itu ia sampaikan saat orasi Moderasi Beragama pada peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-76 tahun Kementerian Agama Republik Indonesia, Selasa (04/01/2021).


Ning Alissa, sapaan akrabnya, menyoroti peristiwa kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang-orang beragama. Hal tersebut kian miris karena korban dituntut tunduk dan patuh dengan dalih agama.


"Di sudut yang jauh, banyak anak-anak perempuan menjadi korban kekerasan seksual oleh orang-orang yang dihormatinya," kata putri sulung Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu.


Perempuan kelahiran Jombang itu menyampaikan, bahwa di Indonesia masih banyak umat beragama dengan sabar menunggu kapan dia apat beragama dengan tenang. Sebab, dalam sejumlah kejadian masih ada orang yang melakukan ancaman bagi ketenangan umat agama lain.


"Mereka dengan sabar menunggu kapan bisa beribadah dengan penuh suka cita, tanpa ancaman dari pihak-pihak tertentu," ujarnya.


Ia pun mengatakan, bahwa di berbagai penjuru Nusantara masih terlihat umat beragama yang hidupnya jauh dari kualiatas yang diinginkan. Indonesia memang negara religius tetapi indeks pembangunan rakyatnya masih rendah. Padahal, indek pembangunan itu menjadi patokan kualitas umat beragama.


"Maka, hal itu akan menjadi pertanyaan, apakah itu tidak sama dengan kualitas umat beragama?," kata Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian ini.


Tak cukup itu, ia menyebutkan bahwa di Indonesia masih banyak praktek keagamaan yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di antara praktik itu ialah adanya sikap intoleransi dan kekerasan atas nama agama.


Untuk itu, alumni Universitas Gajah Mada (UGM) ini meminta untuk kembali merefleksikan arti kemerdekaan. Menurutnya, pada pembahasan kemerdekaan, meski persoalan agama dan negara sempat menjadi perdebatan sengit, namun akhirnya mencapai titik sepakat.
 


"Kita sudah sepakat, Indonesia bukan negara agama. Akan tetapi, agama-agama telah menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan kita bersama sebagai bangsa," pungkasnya.


Madura Terbaru