• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 28 Juni 2022

Madura

Siswa SMP NU Sumenep Disiapkan Jadi Penggerak Antiperundungan

Siswa SMP NU Sumenep Disiapkan Jadi Penggerak Antiperundungan
Siswa-siswi SMP NU Sumenep mengikuti pelatihan antiperundungan, Rabu (15/09/2021). (Foto: NOJ/Firdausi)
Siswa-siswi SMP NU Sumenep mengikuti pelatihan antiperundungan, Rabu (15/09/2021). (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Maraknya bullying di beberapa sekolah menyebabkan ketidakseimbangan psikologis anak. Kadang dilakukan berulang-ulang, bahkan sebagian anak nekat untuk melukai sesama temannya. Berangkat dari problem ini, Sekolah Menengah Pertama Nahdlatul Ulama (SMP NU) Sumenep menghelat pelatihan antiperundungan di sekolah setempat, Rabu (15/09/2021).

 

Hadir dalam kegiatan itu Kepala Dinas Pendidikan Sumenep yang sekaligus membuka program pelatihan ini berpesan agar program ini juga dipahami oleh guru, siswa  dan semua pihak agar nanti lingkungan sekolah berfokus pada prestasi untuk membentuk Profil Pelajar Pancasila.

 

Penyajinya dari kalangan internal, yakni guru SMP NU yang sudah mendapat pelatihan dari Pusat Pengembangan Karakter yang digelar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbud Ristek) yang bekerjasama dengan United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF). Guru tersebut adalah Ruhsotun Hasanah (guru Mapel Bimbingan dan Konseling) dan Ainur Rahman (guru Mapel Bahasa Indonesia).

 

Zainal Abidin, Kepala Sekolah SMP NU Sumenep mengutarakan, perundungan atau bullying adalah perilaku tidak menyenangkan baik secara verbal, fisik, ataupun sosial di dunia nyata maupun dunia maya yang membuat seseorang merasa tidak nyaman, sakit hati dan tertekan baik dilakukan oleh perorangan atau pun kelompok.

 

“Perundungan dianggap telah terjadi bila seseorang merasa tidak nyaman dan sakit hati atas perbuatan orang lain padanya,” tuturnya saat membuka acara.

 

Dijelaskan pula, sekolah merupakan salah satu lingkungan yang rentan terhadap terjadinya aksi perundungan.

 

“Perundungan di lingkungan sekolah akan berdampak lama dan mendalam. Tidak hanya bagi korban tetapi juga pada pelaku. Kejadian tindak perundungan di Indonesia masih tergolong tinggi. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2018 diketahui bahwa 50 persen anak menjadi korban perundungan di sekolah,” ungkap Sekretaris Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif NU Sumenep itu.

 

Menurut Zainal, pengenalan bentuk-bentuk perundungan yang tidak selama ini disadari oleh siswa akan menyadarkannya tindakan tersebut dan menghindarinya.

 

“Siswa akan dilatih membuat konten-konten positif sebagai bentuk kampanye anti perundungan,” imbuhnya.

 

Dia menegaskan, program anti perundungan merupakan bagian program dari Sekolah Penggerak yang berdampak positif pada akhlak dan proses pembelajaran. Agen anti perundungan dapat mengkampanyekan di media sosial untuk mengimbangi konten-konten negatif yang ada.

 

“Kami yakin, siswa-siswi SMP NU Sumenep akan menjadi agen antiperundungan,” pungkasnya.

 

Editor: Nur Faishal


Madura Terbaru