• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Madura

Wakil Ketua NU Sumenep Ulas Perjuangan Ulama Rebut Kemerdekaan

Wakil Ketua NU Sumenep Ulas Perjuangan Ulama Rebut Kemerdekaan
Kiai Ach Subairi Karim (kanan) menyampaikan materi refleksi kemerdekaan di sekretariat PAC GP Ansor Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi).
Kiai Ach Subairi Karim (kanan) menyampaikan materi refleksi kemerdekaan di sekretariat PAC GP Ansor Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim
Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pragaan, Sumenep, menggelar refleksi kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 pada Jumat (20/08/2021). Dalam kegiatan ini panitia menghadirkan Kiai Ach Subairi Karim sebagai narasumber.

 

Kiai Subairi sapaanya mengutarakan, peran pesantren, madrasah, langgar, dan masjid seolah-olah ditutup-tutupi dalam buku-buku sejarah tingkat nasional, sehingga pergerakannya tidak dikenal oleh siswa. Padahal berbicara Islam di Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari peran kelembagaan pesantren.

 

“Memisahkan Islam Indonesia dengan peran pesantren, ibarat memisahkan laut dari asinnya atau memisahkan kopi dari manisnya. Karena Islam yang dibawa oleh keempat elemen tersebut tidak dipisahkan dari lingkungan NU. Jangan kaget jika orang Madura agamanya dikenal NU, sebab amaliyahnya mendarah daging,” kata Wakil Ketua Pengurus Cabang
Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep tersebut.

 

Menurut Kiai Subairi, ini tantangan bagi NU bahwa peran 4 lembaga tersebut dalam kemerdekaan Indonesia ditutup-tutupi. Maka harus bisa terbuka tabir kebenaran itu di era saat ini.

 

“Ketika era reformasi, baru ada penegasan dan pelurusan sejarah bahwa kemerdekaan yang digaungkan oleh NU tampak jelas dan nyata pada khalayak luas,” imbuhnya.

 

Demikian pula, organisasi di tingkat nasional, sebut saja Boedi Utomo sebagai organisasi pemuda yang didirikan oleh dr Sutomo dan mahasiswa STOVIA. Juga Serikat Islam (SI) yang kemudian beralih nama menjadi Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H.O.S Cokroaminoto memang benar memiliki peran.

 

Tetapi sebelum NU dideklarasikan, ada peran di dalamnya, seperti lahirnya Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH Abd Wahab Chasbullah.

 

“Lahirnya wadah Nahdlatul Wathan menjadi cikal bakal terbentuknya Nahdlatut Tujjar dan Tashwirul Afkar. Kelompok kalangan pemuda ini merupakan kelompok kajian atau paradigma berfikir anak muda di masa penjajahan yang memikirkan agar Indonesia terbebas dari penjajahan. Jika berbicara pesantren, maka pasti berbicara NU, karena NU memiliki konsen terhadap penjajahan. Terlebih pesantren yang terus bergerak dalam mengisi kemerdekaan,” ungkap alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut secara menggebu-gebu.

 

Mantan Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan tersebut menegaskan, pesantren masa lalu menjadi pioner masyarakat. Sebab pesantren memiliki pergerakan nyata yang dilakukan oleh ulama.

 

Seperti membentuk laskar Hizbullah dan Sabilillah yang sengaja dilatih untuk membebaskan warga dari penjajahan. Bahkan ada juga barisan kiai yang dikhususkan untuk kalangan kiai sepuh.

 

“Laskar yang dibentuk oleh ulama melebarkan sayapnya hingga ke pelosok desa yang ditandai dengan sandi, yaitu pohon sawo. Setiap ada pohon sawo, maka di sanalah menandakan bahwa ada gerakan yang menginginkan kemerdekaan. Sebut saja KH Abdullah Sajjad yang menjadi panglima laskar dan ditemani oleh keponakannya KH M Khazin Ilyas saat bergerilya,” kenangnya.

 

Tak hanya itu, saat ini pengurus NU dan dzurriyah Kiai Sajjad memperjuangkannya agar dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Karena beliau wafat di tangan penjajah dengan menggunakan politik adu domba dan belah bambu.

 

“Pesantren Annuqayah dan pesantren lainnya menjadi  gerbong untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Gerakan kemerdekaan seolah-olah milik Bung Tomo saja, padahal yang sesungguhnya, Sutomo selalu meminta fatwa pada Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari sebelum melakukan peperangan,” ungkapnya.

 

Pria yang kini menjabat sebagai dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman (Stidar) Ganding itu menceritakan, Indonesia dijajah selama 3 seperempat abad hingga tahun 1942. Di tahun itu, datanglah Jepang selama 3 tahun, yakni dari tahun 1942-1945.

 

“Nipon yang katanya mengaku sebagai saudara tertua Indonesia mengiming-imingi kemerdekaan. Namun kenyataannya nihil. Mereka sama dengan Belanda yang melakukan penangkapan pada ulama yang berperan sebagai tokoh di masyarakat. Ingat, saat zaman penjajahan ulama ditangkap dikatakan kriminalisasi. Berbeda saat ini, jika ulama
ditangkap oleh pemerintah, berarti yang ditangkap adalah tindakan perlawanannya terhadap hukum,” tegasnya, sontak audien tertawa lepas.

 

Secara historis, penetapan hari kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus bukan lahir begitu saja. Tetapi berdasarkan hasil istikharah para kiai. Karena kiai saat itu menjadi simbol pergerakan rakyat. Sedangkan rakyat istiqamah bermakmum di belakangnya.

 

“Dalam 350 tahun lamanya pergerakan selalu ada. Satunya-satunya yang tidak bisa diotak-atik spiritnya adalah pesantren. Saking bencinya pada Belanda, ulama saat itu mengharamkan menggunakan celana dan dasi di lingkungan pesantren. Jika memakainya, maka dianggap menyerupai penjajah,” curahnya sambil menyitir hadits Nabi.

 

Tak hanya itu, saat detik-detik kemerdekaan, para founding father merapat pada Hadratsussyekh KH M Hasyim Asy’ari sebagai simbol alim ulama yang hebat dan luar biasa. Karena gerakannya mampu menyampaikan ghirah yang memompa semangat perjuangan anak bangsa.

 

“Suatu hari, datanglah utusan Bung Karno ke Kiai Hasyim. Ia meminta untuk menentukan tanggal kemerdekaan. Oleh beliau diistikharahkan dengan melibatkan para kiai. Menjelang H-3 kemerdekaan, Ir Soekarno sowan pada kiai Hasyim, di sanalah ditentukan hari Jum’at tanggal 9 Ramadhan bertepatan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Penetapan hari Jum’at, karena sayyidul ayyam, dan bulan Ramadhan adalah sayyidus suhur,” terangnya.

 

 

Dirinya menegaskan, setiap tanggal 9 Ramadhan tepatnya pukul 10.00 WIB, Kiai Hasyim menginstruksikan kepada seluruh warga NU untuk mengheningkan cipta dan mengenang kemerdekaan Indonesia. Karena saat itu, proklamasi digaungkan oleh Bung Karno.

 

“Merefleksikan kemerdekaan Indonesia kepada budaya dan agama. Karena misi lainnya para ulama adalah menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin,” pungkasnya.

 

Editor: Romza


Editor:

Madura Terbaru