• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 19 Agustus 2022

Malang Raya

Gus Baha Jelaskan Cara Ulama Merawat Persaudaraan Kebangsaan

Gus Baha Jelaskan Cara Ulama Merawat Persaudaraan Kebangsaan
KH Bahaudin Nur Salim. (Foto: NOJ/Hilya)
KH Bahaudin Nur Salim. (Foto: NOJ/Hilya)

Malang, NU Online Jatim

Keinginan dasar manusia adalah merasakan kedamaian dan saling bersaudara, sebab konflik membutuhkan pemicu, sedangkan damai tidak membutuhkan pemicu. Demikian KH Bahaudin Nur Salim atau Gus Baha mengawali ceramahnya dalam acara ceramah kebangsaan yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertajuk 'Merawat Persaudaraan Kebangsaan' pada Jumat (19/11/2021) secara virtual di channel YouTube Official LP3IA.

 

"Kepentingan berbangsa dan bernegara ada di atas kepentingan dan nafsu kita, para ulama juga sudah mengajarkan bagaimana agar kedamaian dapat diciptakan," lanjut Gus Baha.

 

Setiap peran dan profesi yang mewarnai negara ini, lanjut Gus Baha memiliki cara masing-masing dalam menjaga kedamaian dan keseimbangan hidup.

 

"Kalau polisi ya dengan menegakkan hukum, pakar ekonomi ya mengurusi urusannya, sedangkan versi ulama adalah mengajarkan untuk melihat dunia dengan sederhana yaitu merasa cukup," ungkap kiai muda asal Rembang tersebut.

 

Gus Baha menganalogikan merasa cukup dengan seorang manusia yang apabila makan satu piring sudah cukup, maka tidak perlu menambah satu wadah besar, apabila tidur di satu kamar sudah cukup, tidak perlu membeli kamar sebanyak seratus bilik.

 

"Bayangkan jika ada orang kaya mempunyai kamar seratus, apakah semua akan dijadikan tempat tidur bergantian masing-masing lima menit, yang timbul bukan malah kepuasan atau kedamaian," tambahnya.

 

Dengan prinsip yang ditanamkan semacam itu, menurut Gus Baha merajut kebangsaan lebih mudah sebab awal dari konflik adalah ketidakpuasan dan mau menang sendiri.

 

Gus Baha mengisahkan bahwa suatu hari, Imam Syafi'i didatangi seorang tamu yang begitu menghormati ketika bertemu, namun menghardik jika di luar.

 

"Jawab Imam Syafi'i itu enteng, ya sudah ada baiknya dia masih mau hormat. Sikap ini menunjukkan pandangan yang luas dan positif atas sebuah perkara agar tidak terjadi konflik," terang Gus Baha.

 

Menurut Gus Baha merajut kebangsaan harus dipikir secara luas dan dimulai dari diri sendiri dan keluarga dengan cara bertanggung jawab atas diri sendiri, atas komunitas yang mengelilingi, kemudian negara yang  memfasilitasi kebutuhan.

 

"Insyaallah akan tercapai baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur (negara yang damai dan diampuni Tuhan)," pungkas Gus Baha.


Malang Raya Terbaru