• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 29 Mei 2022

Malang Raya

Kiai Ma'ruf Khozin Jelaskan Implementasi Islam Wasathiyah dalam Bernegara

Kiai Ma'ruf Khozin Jelaskan Implementasi Islam Wasathiyah dalam Bernegara
Ketua PW Aswaja NU Center Jawa Timur, KH Ma'ruf Khozin. (Foto: Istimewa)
Ketua PW Aswaja NU Center Jawa Timur, KH Ma'ruf Khozin. (Foto: Istimewa)

Malang, NU Online Jatim

Ketua Pengurus Wilayah (PW) Aswaja NU Center Jawa Timur, KH Ma'ruf Khozin menjelaskan, bahwa di dalam Al-Qur'an, Allah SWT banyak menyebutkan tentang sikap di tengah antara dua hal yang saling bertentangan. Hal ini menurutnya dikenal dengan istilah wasathiyah atau moderat.

 

"Sisi yang di tengah inilah yang perlu kita tanamkan, utamanya dalam menjaga keutuhan negara. Artinya tidak liberal dan tidak radikal," jelasnya dalam webinar yang diadakan oleh Pusat Studi Moderasi Beragama dan Sosial Budaya Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (16/11/2021). Kegiatan ini bertajuk 'Wasathiyyah fi Al Islam, Antara Teori dan Praktek'.

 

Ia menyebutkan, salah satu contoh ayat yang menerangkan tentang wasathiyah, yaitu pada Surat Al-Isro' ayat 29 yang berbunyi: "Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal."

 

"Yakni, Allah menyebutkan dua hal yang saling bertentangan, yakni melarang sikap kikir atau sikap terlalu loyal dan berlebihan," urai Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur tersebut.

 

Secara tersirat, lanjut Kiai Ma'ruf Khozin, sebetulnya di dalam Al-Qur'an masih banyak disebutkan sisi yang kurang dan berlebihan, kemudian sisi tengah-tengah yang perlu ditanamkan.

 

"Misal dalam hal sikap sombong itu tidak baik, sedang terlalu rendah diri juga tidak baik. Sikap tengah-tengah adalah tawadhu, yakni bagaimana tengah-tengah adalah keseimbangan antara dua sesuatu tersebut," katanya.

 

Alumnus Pesantren Ploso tersebut melanjutkan, bahwa ada tiga jenis negara, yaitu Daulah Islamiyah sebagai negara yang menerapkan sistem agama, negara sekuler yang memisahkan antara agama dan negara, dan yang di tengah yakni negara yang secara sistem tidak menggunakan sistem Islam namun menjunjung tinggi ajaran agama warganya.

 

"Indonesia bisa dikatakan sebagai Darul Islam, artinya walaupun tidak seperti Daulah Islam, namun non-Muslim tidak boleh diperangi," tambahnya.

 

Kiai muda yang juga aktif menulis di sosial media tersebut menyebutkan, bahwa posisi di tengah (moderat) dalam bernegara tidaklah mudah, sebab selalu ada kecenderungan ke arah tertentu.

 

"Sehingga banyak orang menganggap Demonstrasi Islam Wasathiyyah disebut antek liberal, karena perkataan tersebut tidak berdasarkan tabayyun kepada orang yang alim yang memiliki pandangan sejuk," tambahnya.

 

Sebagai orang awam, lanjut Kiai Ma'ruf Khozin, seyogyanya tidak mudah mengecap liberal kepada Ulama yang melonggarkan hukum atau terlalu radikal sebab terlalu ketat menghukumi.

 

 

"Bisa jadi Ulama tersebut condong terhadap pendapat-pendapat Ulama terdahulu, sehingga ada kecenderungan tertentu. Maka dari itu, melakukan tabayyun sangatlah penting," pungkasnya.


Malang Raya Terbaru