• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 17 Agustus 2022

Malang Raya

Hari Pers, Pimpinan LTNNU Jatim Imbau Santri Berpikir Kritis

Hari Pers, Pimpinan LTNNU Jatim Imbau Santri Berpikir Kritis
Dr M Faisol fatawi, Wakil Ketua LTNNU Jatim. (Foto: NOJ/MJ)
Dr M Faisol fatawi, Wakil Ketua LTNNU Jatim. (Foto: NOJ/MJ)

Malang, NU Online Jatim

Hari ini Selasa, (09/02/2021) bertepatan dengan Hari Pers Nasional. Pegiat literasi, M Faisol Fatawi selaku Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta'lif wan Nasr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur mengungkapkan, bahwa saat ini banyak orang yang cenderung sering menerima dan memproduksi kabar hoaks.

 

"Berita hoaks itu tantangan utama. Untuk itu, salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh generasi milenial di era digital atau 4.0 adalah harus memiliki critical thinking atau berpikir kritis," katanyasaat ditemui di kediamannya.

 

Di hari pers ini, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang ini menuturkan, untuk kalangan santri, mestinya hari pers ini dijadikan sebagai sarana untuk kebangkitan.

 

"Dalam arti membangun kita sebagai kaum santri untuk apa? Untuk bisa mewarnai dalam dunia literasi, itu salah satu caranya. Karena pesantren itu lumbung-lumbung pengetahuan agama," paparnya.

 

Dirinya menilai pesantren sebagai gudangnya ilmu pengetahuan yang harus memiliki luaran berupa literasi yang tinggi.

 

"Tidak hanya sebagai tempat kajian, tapi juga mereproduksi kembali, dan memproduksi. Kalau itu sudah hilang, harus terus digalakkan lagi. Al-quran sendiri memerintahkan Iqra yaitu membaca, itu pertama kali kita yang di pesantren," ungkapnya.

 

Membaca bagi dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini adalah sebagai gerbang utama yang kemudian harus dikeluarkan berupa karya tulis.

 

"Kalau orang sudah membaca pasti memiliki pengetahuan, kalau pengetahuan ada, bagaimana agar pengetahuan bisa dinikmati orang, yaitu dengan cara ditulis. Literasi membaca dan literasi menulis.

 

"Jika membaca jalan menulis tidak jalan akhirnya stagnan," tuturnya.

 

Dirinya berharap, santri saat ini mampu menjadi agen literasi di masa mendatang.

 

"Oleh karena itu, santri sebagai agen memiliki tanggung jawab misi menjadi santri yang produktif. Mengkaji, membaca, kemudian memproduksi pengetahuan atau mereproduksi pengetahuan. Pengetahuan itu didesain sedemikian rupa sesuai tuntutan zaman. Agar kemudian bisa dinikmati oleh masyarakat," jelasnya.

 

Tentang pers sendiri, ia menilai sekarang di era digital bisa dimanfaatkan. Bisa berujung positif bisa negatif. Lalu dalam membuat berita seyogyanya tetap menerapkan etika.

 

"Etika tersebut antara lain, disinkronkan dengan nilai agama. Jadi membuat berita harus berdasarkan fakta. Bukan hanya kemudian ingin terkenal dan viral. Maka dibuat tidak sesuai dengan fakta. Bahasanya  juga bahasa muqtadhol hal (red: sesuai konteks). Sehingga tidak memicu orang marah, penyampaiannya sesuai dengan kaidah jurnalisme, tidak provokatif, karena sekali terlempar ke masyarakat, ini memiliki dampak yang luar biasa," terangnya.

 

Doktor di bidang Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya berharap, pers kedepan bangkit khususnya kalangan kaum bersarung.

 

"Saya berharap dengan hari pers ini menjadi kebangkitan dan memberikan kesadaran kita semua khususnya kaum santri, bisa mewarnai dunia pers," pungkasnya.

 

Penulis: Madchan Jazuli

Editor: Risma Savhira


Malang Raya Terbaru