• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 5 Februari 2023

Malang Raya

Simak, Inilah 4 Poin Pesan KH Marzuki Mustamar di Hari Santri 2020

Simak, Inilah 4 Poin Pesan KH Marzuki Mustamar di Hari Santri 2020
KH Marzuki Mustamar, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur saat upacara Hari Santri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang, Kamis (22/10/2020). (Foto: NOJ/ Istimewa).
KH Marzuki Mustamar, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur saat upacara Hari Santri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang, Kamis (22/10/2020). (Foto: NOJ/ Istimewa).

Malang, NU Online Jatim

Penetapan hari santri tidak lepas dari fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari untuk melawan kolonialisme dan mempertahankan kemerdekaan. Peringatan hari santri ini juga bertujuan untuk mengenang dan meneladani perjuangan kiai dan santri. Namun, ada yang berbeda dengan peringatan tahun 2020 ini, peringatan hari santri pada tahun 2020 ini menjadi peringatan dengan diselimuti duka dan musibah, banyak kiai yang sudah dipanggil Allah SWT dan pandemi global Covid-19.

 

KH Marzuki Mustamar, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur menyampaikan poin-poin diatas dalam sebuah pidato upacara Hari Santri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang, Kamis (22/10/2020).

 

Di tengah pidatonya, Kiai Marzuki menyampaikan beberapa pesan; pertama, warisi ilmu kiai. Para santri diharapkan untuk tekun belajar ilmu, mumpung masih ada kiai-kiai, sebelum kiai-kiai ahli ilmu itu dipanggil oleh Allah Swt.

 

“Pesan saya pertama kepada seluruh santri, ayo ngaji seng tenanan (ayo ngaji yang sungguh-sungguh), ojo gendaan (jangan pacaran), ngopine (ngopinya) dikurangi, menyet-menyet hapene (main HP-nya) dikurangi, ngobrole dikurangi. Sinau tenanan (belajar sungguh-sungguh), jangan ada satu kalimah pun yang gak ngerti maknanya. Setelah ngaji, ndang dimuthola’ah, ndang dimudzakaroh. Kalaupun ada satu dua lafadz yang belum paham, tanyakan pada teman, bahkan guru,” tegas Kiai Marzuki.

 

Kedua ,ikuti jejak para kiai. Kiai-kiai telah memberi teladan untuk tidak hanya cinta kepada agama, akan tetapi juga kepada tanah air.

 

“Kiai-kiai memberi teladan kepada kita, bukan hanya ngaji kitab kuning, bukan hanya mencintai agamanya, bukan hanya menjaga membela agamanya. Lebih dari itu, kiai-kiai memberi contoh kepada kita, juga mencintai tanah airnya, menjaga bangsa dan negaranya, membela bangsa dan negaranya,” tutur Kiai Marzuki.

 

Selain itu, Kiai penulis kitab al-Muqtathofat ini juga memberikan peringatan untuk berhati-hati kepada pesantren-pesantren yang ajarannya tidak seperti pesantren, yang diajarkan adalah kefanatikan bukan ajaran bagaimana santri bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Mereka mengajarkan untuk menenatang negaranya.

 

“Oleh karenanya para santri yang ada di bawah naungan ahlussunnah wal jama’ah, nahdhatul ulama, dihimbau supaya hati-hati. Hati-hati. Ada pelaku-pelaku palsu, yang ngaku kiai, tapi bukan kiai. Bagi kami, kiai itu mesti alim. Ternyata kadang ada orang mendirikan pesantren, padahal tidak alim. Bagi saya, kiai itu ahlussunnah wal jama’ah, ternyata ada orang ngaku mendirikan pesantren bukan ahlussunnah wal jamaah. Bagi kami, kiai itu cinta tanah air, bela negara, dan memang dibuktikan seperti itu, ternyata akhir-akhir ini ada orang atau kelompok ngaku-ngaku kiai-santri, malah memusuhi negaranya sendiri,” papar Kiai Marzuki.

 

 
 
“Kita harus waspada, jangan sampai terjebak pada itu. Ikuti kiai terus, sampek kita kewarisi ilmunya. Ikuti kiai terus, sampek kita ketularan karakternya, ketularan sifatnya, dan mendapat berkah perjuangannya,” Kiai Marzuki menegaskan.

 

Ketiga, meningkatkan pola hidup sehat.Menurut Kiai Marzuki, santri harus menjaga kesehatan dan mengikuti program yang ada di pondok. Perintah Kiai untuk ngaji, wiridan, istighosah, adalah sebagai bentuk ketenangan jiwa yang akan berdampak kepada tingkat imunitas tubuh.

 

“Jangan sampai santri loro-loroen (jangan sampai sakit-sakitan). Ayo olahraga cukup. Keringat dikeluarkan. Pikiran fresh. Ojo sumpek-sumpek. Ojo panik. Ojo susah-susah. Insya Allah, kalau pikiran fresh, mental bagus, lalu istirahat juga cukup, keringat juga keluar. In sya Allah kita sukses melewati pandemi covid ini,” jelas Kiai Marzuki.

 

Keempat, berjuang dengan memasuki semua sektor-sektor kehidupan baik swasta maupun negeri. Jika kiai-kiai dan santri-santri terdahulu telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka sekarang peran santri adalah berjuang dengan mengambil peran di semua aspek strategis kehidupan.

 

“Kalau kiai-santri terdahulu telah berjuang memerdekakan negara ini, berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan mengusir agresi Inggris maupun Belanda, maka kita berjuang dengan masuk di lini-lini kehidupan, baik sektor swasta maupun negeri. Jangan relakan tanah Indonesia dikuasai mereka-mereka yang akan merusak NKRI. Jangan relakan pos-pos penting di BUMN, jangan relakan itu diduduki oleh mereka yang khianat kepada bangsanya sendiri. Jangan relakan pos-pos kementerian diduduki oleh mereka-mereka yang tidak tulus kepada negaradan bangsanya sendiri” terangnya.

 

“Para santri yang terbukti setia tulus pada agama dan bangsanya, harus berjuang sekuat tenaga, harus pinter, harus capable, harus punya kredibilitas, sehingga mampu bersaing menduduki posisi-posisi penting itu, sehingga negara ini sampai kapanpun tetap dipimpin, dikuasai, diperintah oleh mereka yang setia kepada bangsa dan negaranya. Dengan begitu jayalah bangsaku! Jayalah agamaku! Jayalah aqidahku, NU, ahlussunnah wal jama’ah!,” papar Kiai Marzuki di penghujung pidatonya.

 

Penulis: Rifa'atul Mahmudah

Editor: Romza


Editor:

Malang Raya Terbaru