• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Matraman

Gus Kautsar: Santri Sukses tidak akan Kehilangan Kesantrianya

Gus Kautsar: Santri Sukses tidak akan Kehilangan Kesantrianya
Gus Kautsar dan Gus Haq saat acara Mauidzoh Hasanah di Ponpes Gedongsari Nganjuk. (Foto : NOJ/Afandi)
Gus Kautsar dan Gus Haq saat acara Mauidzoh Hasanah di Ponpes Gedongsari Nganjuk. (Foto : NOJ/Afandi)

Nganjuk, NU Online Jatim
KH Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar), Kiai muda dari Pesantren Al Falah Ploso Kediri, Jawa Timur (Jatim) menjelaskan tentang seorang santri sejati.
 

Menurutnya, santri mampu memilah suatu hal yang lebih baik dan bermanfaat  di masyarakat. Walaupun santri tersebut sudah sukses, namun tidak akan kehilangan jati diri ke-santri-annya.
 

“Seorang santri sejati tahu mana yang baik, mana yang lebih baik. Mana yang enak, (dan) mana yang lebih enak. Mana yang bermanfaat, (dan) mana yang lebih bermanfaat,” ujar Gus Kautsar, Sabtu (13/03/2022) malam.
 

Gus Kautsar menyampaikan hal tersebut dalam acara Haflah Akhirussanah Madrasah Irsyabiyah Pondok pesantren (Ponpes) Gedongsari, Desa Tagaron, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Ponpes yang diasuh oleh KH Ali Murtadlo dan KH Ahmad Muntaha.
 

Dalam kesempatan tersebut, Gus Kautsar lebih dulu menjelaskan tentang keberkahan ilmu, suka mengaji, keterkaitan ilmu dengan amal dan jati diri santri serta banyak hal lainnya.
 

Ia mengungkapkan, seorang santri perlu memiliki rasa kesenangan dan kecintaan mengaji. Meskipun ilmu yang didapat masih dirasakan sedikit, namun akan bisa menjadi berkah.
 

“Apa yang bisa kita capai kalau tidak ahli Ilmu, kalau sampai kita gak ngaji? Tapi kalau kamu bisa ngaji, apa yang bisa kita raih, apa yang tidak bisa kita raih,” ungkapnya.
 

Dalam momen itulah, ia menyampaikan bawha ada nilai keistimewaan yang dimiliki oleh para santri di Ponpes Gedongsari
 

“Gedongsari ini memang ada yang perlu dipertahankan mati-matian, apa itu ?, kecintaan (santri) yang tulus, pengabdian yang total terhadap para Masyayikh, terhadap guru-gurunya,” ungkap putra KH Nurul Huda Djazuli tersebut.
 

Karena hal itulah, santri dianggap pantas menjadi apapun di masyarakat. Tentu, menurutnya, santri pantas menjadi kiai, tokoh masyarakat dan tokoh lainya.
 

“Yang penting kamu takut kepada Allah SWT. Kamu mau jadi Polisi silahkan, mau jadi apapun terserah. Apa mau jadi kayak Pak Dewan (anggota DPRD) ?, yang penting punya-o rasa takut (dengan) warna santri-mu,” katannya.
 

Untuk jati diri santri yang sejati, ia menjelaskan, hal itu seperti dalam bait Kitab Alfiyah. Yaitu, tentang ‘Lirraf’i wa nashbi wa jarrina shalah. Ka a’rif bina fainnana nilnal minah’.
 

“Seorang santri tidak akan pernah berubah dalam situasi apapun, tetap tidak kehilangan kesantrianya. Lirraf’i, walaupun dia lagi di atas, sugih, sukses, luar biasa, tetep warna santri-neWa nashbi, stabil dalam kondisi biasa-biasa saja, sedangan-sedangan saja. Wa jarrina, dalam kondisi jatuh pun, ngasolah, tetep warna santri-ne tidak akan hilang,” lanjutnya.
 

Wakil Katib PWNU Jatim ini mengingatkan, agar santri dari Ponpes Gedongsari tetap memegang nilai-nilai dari kiai-nya saat dimana pun.
 

 

“Kamu mau jadi apa saja, kapan saja dalam situasi apapun, ojo (jangan) sampek kehilangan (santri ponpes) Gedong-mu, ojo (jangan) sampek kehilangan warna kiai-kiai mu,” imbuhnya.


Editor:

Matraman Terbaru