• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 27 November 2022

Matraman

Sambut Harlah NU, Pemikiran Mbah Wahab Ditulis Jadi Buku

Sambut Harlah NU, Pemikiran Mbah Wahab Ditulis Jadi Buku
Launching buku Mbah Wahab Hasbullah di Universitas Wahab Hasbullah Tambakberas bersama Gus Amik (penulis). (Foto: NOJ/ Syarif Abdurrahman).
Launching buku Mbah Wahab Hasbullah di Universitas Wahab Hasbullah Tambakberas bersama Gus Amik (penulis). (Foto: NOJ/ Syarif Abdurrahman).

Jombang, NU Online Jatim

Menjelang peringatan hari lahir (Harlah) ke-95 Nahdlatul Ulama (NU) yang bertepatan pada 31 Januari, cucu pendiri NU KH Abdul Wahab Hasbullah bernama Muhammad Izzul Islam An-Najmi menerbitkan sebuah buku. Buku tersebut berisi tentang Mbah Wahab.

 

Secara nasab, penulis merupakan putra kedua dari KH Roqib Wahab bin KH Abdul Wahab Hasbullah. Buku tersebut diberi judul Pluralitas dalam Bingkai Nasionalisme (Telaah atas Pemikiran dan Perjuangan KH Abdul Wahab Hasbullah).

 

Menurut Muhammad Izzul, buku ini ditulis untuk memberikan alternatif baru tentang pemikiran dan perjuangan KH Abdul Wahab Hasbullah. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai pluralitas yang dibingkai semangat nasionalisme dan konsep Islam berbasis kontruksi pluralitas keberagamaan.

 

“Buku ini sebagai wujud cinta saya kepada leluhur dan rasa ingin mengupas pemikiran Kiai Wahab dari cara yang berbeda. Sekalian hadiah harlah ke-95 NU,” jelasnya, Rabu (27/01/2021).

 

Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini menambahkan, bukunya mengupas pemikiran Kiai Wahab dari sudut pandang sang kakek sebagai seorang pengasuh pesantren, pemikir, tokoh bangsa, guru dan sosok ayah.

 

Ia menjelaskan, isu nasionalisme Islam sudah mulai dibahas di Indonesia pada muktamar ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin yang dipelopori Kiai Wahab dan ulama NU. Saat itu NU menyebut wilayah Hindia Belanda (nusantara) sebagai dar al-Islam (wilayah Islam) bukan negara Islam.

 

Keputusan ini penting bagi bangunan kebangsaan. Karena gerbong Islam tradisional yang merupakan kelompok mainstream di republik ini melegitimasi keabsahan nasionalisme Indonesia berdasarkan nilai-nilai Islam.

 

“Keputusan tersebut didasarkan pada kitab Bughyah Al-Mustarsyidin karya Sayyid Abdurrahman Ba’alawi al-Masyhur yang memberikan dua batasan bagi dar al-Islam,” imbuh pria yang akrab disapa Gus Amik ini.

 

Gus Amik menegaskan pemaknaan dar al-Islam sebagai wilayah Islam menunjukkan kesadaran nasionalisme berbasis Islam. Dengan mengakui kepulauan nusantara sebagai wilayah Islam, para kiai mengakui kewilayahan nasionalistik berbasis kebangsaan. Hal ini berbeda dengan wilayah kekhilafahan Islam yang bersifat global.

 

Hematnya, Kiai Wahab tidak kalah lebih maju dibandingkan pendahulunnya Tjokroaminoto dan Dr Soetomo yang mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924.

 

“Ide Kiai Wahab Hasbullah tentang Nasionalisme sudah ada sejak awal dengan membentuk Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Thujjar (1918),” tegas Gus Amik.

 

Ia juga menulis cara Kiai Wahab mendidik dan mengayomi anak didiknya sejak dari jenjang permulaan paling bawah hingga turun ke masyarakat. Kelebihan Kiai Wahab terletak pada cara memperlakukan anak didiknya yang sama berdasarkan rasa cinta dan kasih sayang seorang guru kepada murid.

 

Cinta dan kasih sayangnya diberikan kepada siapa saja hingga kepada golongan pemimpin yang datang kepadanya untuk berguru maupun untuk bersahabat. Perlakuan baiknya kepada semua orang tidak memiliki pamrih kepentingan diri sendiri, semata-mata hanya karena sebagi wujud pengabdian kepada Allah SWT.

 

“Kiai Wahab adalah bapak bagi NU dan masyarakat umum dalam mencintai Indonesia dengan cara terhormat. Buku ini kekuatannya karena narasumber orang terdekat Kiai Wahab,” ujar Gus Amik.

 

Sementara itu, Hj Mundjidah Wahab salah satu putri KH A Wahab Hasbullah menggapresiasi buku tentang ayahnya ini. Baginya, di tengah benturan politik identitas yang meningkat di Indonesia, memunculkan tokoh seperti Kiai Wahab salah satu cara terbaik.

 

Lewat kiprah panjang Kiai Wahab, diharapkan masyarakat Indonesia tidak pernah membenci negaranya meskipun konflik terjadi tanpa henti. Kecintaan Kiai Wahab pada negara bukan mencari keuntungan pribadi.

 

“Penyebab luntur rasa nasionalisme di antaranya karena kurang pemahaman yang utuh tentang agama serta ketidakpahaman sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkapnya.

 

Bupati Jombang ini mengatakan sosok Kiai Wahab semasa hidupnya tidak hanya dikenal mengedepankan sikap toleran dan disebut sebagai tokoh peletak dasar moderasi berpikir beragama, berbangsa, dan bernegara.

 

 

Ia berharap, kaum nahdliyin dan umumya warga Negara Indonesia membaca buku karya Gus Amik ketika hendak diskusi atau membedah pemikiran Kiai Wahab. Karena dinilai lebih akurat.

 

“Semoga kehadiran buku ini bisa menambah refrensi dan membuka ranah diskusi baru tentang kiprah Kiai Wahab terhadap NU dan Indonesia,” tutupnya.

 

Penulis: Syarif Abdurrahman

Editor: Romza


Editor:

Matraman Terbaru