• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 2 Oktober 2022

Metropolis

Alumni Lirboyo Ini Usaha Sepatu Minim Modal, Kini Omset Setengah Miliar Lebih

Alumni Lirboyo Ini Usaha Sepatu Minim Modal, Kini Omset Setengah Miliar Lebih
Mohammad Amirudin dengan sepatu produksinya (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)
Mohammad Amirudin dengan sepatu produksinya (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Mohammad Amirudin merupakan alumni Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri. Ia nyantri sejak tahun 1992-1998. Saat ini Pak Amir sapaan akrabnya, memiliki usaha sepatu rumahan yang omsetnya perbulan telah mencapai setengah miliar lebih.  


Pak Amir menceritakan saat awal merintis usahanya berbekal pesan Pengasuh Pesantren Lirboyo KH Anwar Mansur. Bahwa santri Lirboyo  kalau sudah di rumah harus tetap mengaji. Sebagai santri, Pak Amir  melaksanakan pesan Kiai Anwar secara serius dengan tetap mengajar diniyah di kediamannya, tepatnya di Dusun Pesantren RT 12 RW 05 Desa Medali Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.


Empat tahun setelah boyong dari pesantren, Pak Amir menikah dengan kondisi belum mempunyai pekerjaan tetap selain mengajar ngaji.


“Sewaktu sowan ke pesantren dengan teman-teman.  Kami mendapat pesan dari Kiai Anwar supaya memiliki usaha kecil-kecilan supaya dapat mengajar dengan ikhlas,” ujarnya kepada NU Online Jatim, Selasa (07/06/2022) malam.


Sejak mendengar pesan Kiai Anwar tersebut, Pak Amir lantas mulai punya keinginan untuk bekerja. Sempat terbesit dalam benaknya untuk berjualan di pasar, namun belum tahu apa yang akan dijual.


“Akhirnya pada saat khutbah, di antara dua khutbah saya mengingat pesan Kiai Idris Lirboyo bahwa berdoa di antara dua khutbah adalah mustajab. Saya pun berdoa agar punya pekerjaan,” kisahnya.


Akhirnya setelah shalat Jumat, Pak Amir dalam pikirannya terbayang untuk memproduksi sepatu. Setelah pulang ke rumah, Pak Amir menyampaikan keinginannya untuk usaha produksi sepatu kepada istri.  Namun saat itu istri tidak setuju dengan alasan tidak mempunyai modal dan pengalaman membuat sepatu.


Namun keinginan Pak Amir sudah bulat untuk usaha sepatu. Uang dikumpulkannya sebanyak Rp3 juta untuk modal awal.


“Pada suatu waktu ada orang yang tidak tau dari mana tiba-tiba menawari kerja sama supaya saya membuat sepatu dan dia akan menjualkan di daerah Bali,” katanya.


Karena tidak punya pengalaman membuat sepatu, Pak Amir meminta diajari kepada temannya dari Tangerang yang kebutulan juga memiliki usaha sepatu. Singkat cerita, sepatu yang diproduksi Pak Amir jadi dan laku dijual di Bali. Pak Amir pun diminta untuk memproduksi lebih banyak sepatunya.


“Saat itu saya bingung karena tidak mempunyai modal besar untuk memproduksi sepatu dengan jumlah banyak. Alhamdullah orang Bali itu mau meminjami modal. Sejak ini usaha sepatu saya mulai lancar,” ujarnya.


Di tengah perjalanan usaha Pak Amir mulai diuji oleh Allah. Orang yang menjualkan sepatu produksinya di Bali tertipu sebesar Rp500 juta. Sehingga tidak bisa lagi membantu penjualan sepatu di Bali.  


“Waktu ke Surabaya ada orang bertanya di mana Desa Kedungwali untuk mencari sepatu. Saya jawab di rumah saya ada sepatu, saya punya usaha produksi sepatu. Setelah melihat sepatu saya dia suka dan pesan banyak. Dari sini mulai sepatu dijual skala nasional,” tandasnya.


Kini Pak Amir berhasil menjual 150 kodi sepatu per pekan hasil produksi 40 lebih pekerja. Harga per kodi sebesar Rp1 juta. Jadi satu bulan omset masuk Rp600 jutaan.


“Alhamdulillah ini berkah NU, yang ngurusi NU akan barakah. Ini harus yakin. Karena saya aktif di LBM MWCNU dan PCNU. Juga menjabat sebagai salah satu Syuriah Ranting,” pungkasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru