• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 11 Agustus 2022

Rehat

BAGIAN 1

Mengenal Gus Reza Lirboyo: Sempat Menolak Keinginan Ibunya Berangkat ke Yaman

Mengenal Gus Reza Lirboyo: Sempat Menolak Keinginan Ibunya Berangkat ke Yaman
KH Reza Ahmad Zahid (Foto: Facebook/Ibnu Z)
KH Reza Ahmad Zahid (Foto: Facebook/Ibnu Z)

Oleh: Irwan Ihya’ Ulumuddin

Gus Reza, begitu sapaan akrab Reza Ahmad Zahid. Laki-laki kelahiran Surabaya 22 September 1980 ini adalah putra pertama dari enam bersaudara pasangan KH Imam Yahya Mahrus dan Hj. Zakiyah Miskiyah. Sang ayah, Kiai Imam adalah tokoh kharismatik dan nyentrik, putra pertama KH. Mahrus Ali, sesepuh pengasuh pondok pesantren Lirboyo Kediri. Sedangkan ibunya putri KH. Muhammad Utsman al-Ishaqy, Surabaya, tokoh mursyid thoriqoh shufiyyah terbesar di Indonesia, Thoriqoh al Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah.


Jika ada pepatah mengatakan,“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” maka bisa dibilang Gus Reza menuruni leluhurnya dalam beberapa sisi. Ia biasa berinteraksi secara luwas dengan berbagai golongan, kelas sosial, komunitas, bahkan dengan penganut agama lain. Akan tetapi, Gus Reza selalu berpegangan prinsip kepesantrenan yang kuat. Penulis sejarah, Sholeh Hayat, menyebut perjuangan KH. Mahrus Aly mengalir kepada cucu beliau yang bernama Gus Reza (Kyai dan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan), bahwa darah.

 

Belajar Kitab Kuning dan Kitab Putih
Gus Reza tumbuh di lingkungan pesantren salaf. Meski begitu, dia tidak hanya mengenyam pendidikan melalui kitab kuning ala pesantren salaf saja, tetapi ia juga mempelajari kajian-kajian ilmu umum yang biasa disebut dengan kajian kitab putih sebagai sinonim dari kitab kuning. Gus Reza memanfaatkan waktunya di Lirboyo dengan merangkap pelajaran. Pada tahap dasar,  ia menempuh pendidikan di SDN IV Lirboyo, kemudian melanjutkan di tingkatan MTs dan Madrasah Aliyah di Tribakti Lirboyo. Disamping belajar pendidikan formal, dia juga mengenyam pendidikan salaf di Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien hingga pada tingkatan Wustho. Pada tahun 1999 dia melanjutkan pendidikan di Al Ahqaff University Hadramaut Yaman dengan Jurusan Syari’ah dan Hukum Perundang-undangan Negara, lulus di tahun 2003. 

 

Semasa kecil Gus Reza memulai pengajiannya langsung di bawah bimbingan ayahnya, Kyai Imam Yahya Mahrus. Setelah belajar baca Al-Qur’an, kitab kuning pertama yang ia kaji di depan ayahnya adalah kitab Jurumiyah. Sang ayah mulanya memberikan pengajian dengan makna jawa ala pesantren, setelah sang ayah membaca kitab, Gus Reza disuruh untuk mengulang apa yang telah dibaca ayahnya. Akan tetapi, dengan syarat memakai kitab sang ayah, yang tentu saja kitab tersebut bersih tanpa ada coretan makna jawa pegon. Dengan berusaha sekuat pikiran, Gus Reza mencoba untuk membaca kitab dengan baik dan benar dari sisi gramatikal (nahwu) maupun morfologinya (shorof). 

 

Sikap dan cara sang ayah mendidik putranya tidak jauh berbeda dengan santri lainnya. Bahkan justru bisa dikatakan lebih ketat. Bila sang ayah mendapati kesalahan dalam membaca, maka dengan keras sang ayah menegur dan menyuruh untuk mengulang bacaan dari awal. Tidak hanya itu, bila terdapat kesalahan dalam membaca sering kali bentakan keluar dari mulut sang Ayah. Tak jarang, beberapa benda melayang” ketika sang anak tidak memperhatikan secara baik. Pada tahap berikutnya, kitab-kitab lain seperti Tuhfatus Saniyah, Waroqot, Fathul Qorib, Fathul Mu’in dan beberapa kitab lainnya juga terus dipelajari secara bandongan. 

 

Selain mengaji kepada sang ayah, Gus Reza juga berguru kepada santri senior Lirboyo asal Malang, KH. Azizi Hasbulloh. Setelah jam sekolah malam di Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien (MHM) selesai sekitar pukul 20.30 Wib, Gus Reza tidak langsung pulang ke rumah, tetapi dia mampir ke gubug Pak Azizi untuk mengaji sorogan kitab Fathul Qorib dan membahas permasalahan-permasalan fiqhiyyah waqi’iyyah (faktual). Selama tiga jam waktu dihabiskan untuk mengaji dan bermusyawarah bersama dengan Pak Azizi dengan membuka kitab-kitab kuning klasik mencoba mencari jawaban dan dalil untuk permasalahan-permasalahan Fiqhiyyah. Sangking gemarnya mengkaji permasalahan-permasalahn fiqhiyyah, selama di Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien, Gus Reza aktif mengikuti kegiatan Bahtsul Masail, bahkan dia membuat komunitas Bahtsul Masail tersendiri yang tersentralkan di sebuah gubug di tengah sawah, belakang pondok pesantren HM Putra. Komunitas kajian itu diberi nama gubug ‘Duben’ yang berarti ‘Durung Bener’ (belum benar) berharap terus untuk menjadi benar dan mencari kebenaran. Komunitas ini berjalan dengan semarak dan semangat, halaqah atau perkumpulan musyawarah dilakukan hampir setiap malam. Sesekali menjadi rujukan para santri yang menginginkan jawaban dari permasalahan fiqih. Komunitas inilah yang kemudian menjadi embrio akan munculnya Lembaga Bahtsul Masa’il dan Musyawarah Kitab Fathul Qorib di lingkungan pesantren ayahnya, Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah.

 

Gus Reza sangat menjiwai dan menekuni apa yang menjadi aktifitasnya di pesantren, karena hal tersebut senada dengan keinginan isi hatinya. Hari-harinya selalu dihiasi dengan mengaji dan mengkaji masalah-masalah keagamaan dan berprinsip teguh dengan kitab salaf. Tiba pada suatu masa sang ibu menyuruhnya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan harus keluar dari Lirboyo untuk menuntut ilmu di tempat lain, dan pada waktu itu pilihannya adalah Hadramaut, Yaman.

 

Tentu saja arahan ibunya itu menyebabkan gejolak di dalam hati Gus Reza, seorang yang sudah tumbuh di lingkungan pesantren salaf kemudian mendapatkan perintah untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi yang notabene sebuah pendidikan yang mengedepankan normatifitas dan rasionalitas. Penolakan sempat terucap oleh Gus Reza, akan tetapi sang ibu tetap bersikukuh agar anaknya melanjutkan ke perguruan tinggi, sambil menangis ia mengucap, “Apa kamu tidak melihat kakekmu (KH. Mahrus Aly), seorang kiai besar yang salaf dari pesantren salaf akan tetapi memiliki pemikiran yang maju, sehingga mendirikan perguruan tinggi Tribakti’. 

 

Gus Reza tidak bisa menjawab dengan kata-kata kecuali berpamitan kepada ibunya dan kembali ke kamarnya. Apa yang disampaikan ibunya betul-betul menjadi beban pikiran. Dalam hatinya ada semacam pertarungan antara dua prinsip, tetap di jalur salaf tradisional tanpa neko-neko atau legalitas formal, ijazah, sertifikat dan lain sebagainya atau melanjutkan pada dunia pendidikan formal di perguruan tinggi. Semalam gelisah, berusaha menimbang dan mempertimbangkan sendiri mana yang terbaik untuk dirinya, yang pada akhirnya tidak bisa mengelak dari perintah sang ibu seakan bayang sang kakek yang disebut oleh ibunya menjadi motivator untuk mengatakan sami’na wa atho’na. 

 

Mengaji dan Kuliah di Hadramaut Yaman
Sesuai dengan namanya Hadramuat, sebuah maqolah mengatakan “Man Hadlara fa Mat” (barang siapa yang hadir maka akan mati). Sebuah provinsi tua di negara Yaman yang dipenuhi gunung-gunung batu dan padang pasir. Dengan hawa panas dan dingin yang sangat mencekam. Seakan seluruh keinginan menjadi mati di sini, tidak ada alasan untuk berbuat sesuatu kecuali taqarub, belajar dan mengaji.


Kota Tarim terkenal dengan sebutan ‘Kota para Wali’, di situlah Gus Reza melanjutkan pendidikan dan duduk di bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi yang bernama al-Ahqaff University. Di kota Tarim ini juga, Gus Reza menghabiskan waktunya selama empat tahun hingga menyelesaikan tingkat S1. Selain belajar di bangku kuliah, Gus Reza juga mengikuti pengajian-pengajian yang digelar di ribath-ribath (pesantren-pesantren) seperti Ribath Tarim, yang pada masa itu dalam asuhan al Habib Hasan bin Abdullah as Syathiry dan al Habib Salim bin Abdullah as Syathiry. Ribath Darul Musthofa, asuhan al Habib Umar bin Hafidz bin Syeikh Abu Bakar dan beberapa pengajian-pengajian yang digelar oleh para babaib dan masyayikh di masjid-masjid seperti pengajian silsilah kitab al imam Abdullah bin ‘Alawy al Haddad bersama dengan al Habib Husein Balfaqiih. 

 

Gus Reza merasakan hal yang berbeda ketika belajar di Tarim-Hadramaut. Nuansa pengajian lebih kental, sistem pembelajaran ala pesantren lebih terasa di sini. Di kampusnya, materi kuliah tidak hanya sekedar dibahas atau didiskusikan, melainkan harus dihapal seperti menghapal kitab atau nadzom di pondok pesantren. Dia mengingat apa yang disampaikan oleh ayahnya, Kyai Imam Yahya Mahrus, bahwa mondok di luar daerah atau luar negeri tidak hanya sekedar menambah ilmu, tetapi juga menambah wawasan dan pengalaman. Hal yang paling dirasakan adalah pengalaman interaksi dengan masyarakat sekitar dan wawasan bahasa Arab baik itu bahasa yang fushah atau ‘amiyyah.

 

Awal belajar di Al Ahqaff, Gus Reza termasuk minim dan pasif tentang percakapan bahasa Arabnya. Selama tiga bulan dia tidak dapat berkomunikasi bahasa Arab dengan lancar, bahkan tidak jarang Gus Reza menjadi bahan tertawaan teman-temannya karena percakapan bahasa Arabnya masih cekak. Setelah diperintah oleh ayahnya untuk berpindah asrama dan berkumpul dengan orang-orang Arab, akhirnya dia berusaha belajar percakapan bahasa Arab. Kebetulan dia bertempat di sebuah asrama atau gedung al Buthoiha yang semua penghuninya adalah orang Arab. Konon, penulis kitab Sulam at Taufiq, Sayyid Abdullah bin Husein bin Thahir, pernah bertempat tinggal di gedung ini. (Bersambung)
 


Rehat Terbaru