• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 2 Juli 2022

Metropolis

Buya Arrazy Hasyim Sarankan Pesantren Kaji Kitab Hadits Induk

Buya Arrazy Hasyim Sarankan Pesantren Kaji Kitab Hadits Induk
H Arrazy Hasyim pendiri dan pengasuh Ribath Nouraniyah di Sidoarjo. (Foto: NOJ/Boy A)
H Arrazy Hasyim pendiri dan pengasuh Ribath Nouraniyah di Sidoarjo. (Foto: NOJ/Boy A)

Sidoarjo, NU Online Jatim
H Arrazy Hasyim pendiri dan pengasuh Ribath Nouraniyah lembaga kajian turats, ilmu akidah, tasawuf dan amaliah zikir yang berpusat di Ciputat mengisi kuliah dhuha di Masjid Agung Sidoarjo, Ahad (02/01/20220).
 

KH Muhammad Sholeh Qosim Katib Syuriyah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo  yang menjadi moderator menuturkan para jamaah harus bersyukur karena mengisi awal tahun dengan thalabul ilmi bersama Buya Arrazy.
 

“Kita manfaat menimba ilmu dari buya, beliau sangat intens menjaga fikrah Nahdliyah sebagaimana guru beliau, KH Ali Mustafa Yaqub,” katanya.
 

Pada kesempatan tersebut, H Arrazy Hasyim menjelaskan hasil Muktamar Chechnya. Bahwa definisi Ahlussunnah wal Jama’ah hasilnya sama dengan yang ditulis Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah.
 

“Akidahnya Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi, fiqihnya madzhab 4 Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali. Dan tasawufnya Imam Ghozali dan Imam Abul Qosim Junaidi al-Baghdadi,” jelasnya.
 

Intelektual yang menyelesaikan doktoral di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini selanjutnya menjelaskan menjadi pengurus masjid harus mempunyai hati yang bersih.
 

“Mengurus masjid itu tidak mudah, hati harus bersih dari goresan-gorenan. Kalau sudah bertasawuf Aswaja insyallah goresan sudah bisa mudah dihilangkan,” katanya di hadapan jamaah.
 

Buya Arrazy sapaan akrabnya kemudian menekankan bahwa saat ini bukan zamannya kitab Ianatut Thalibin syarah Fathul Muin.
 

“Jadi, kalau mau debat dengan mereka (kelompok Wahabi) jangan bicara di dalam kitab  Ianatut Thalibin, meraka akan tertawa. Sakarang kalau debat bilang di dalam kitab Shahih Bukhari bab sekian, begitu,” jelasnya.
 

Oleh karena itu dirinya berharap pesantren-pesantren minimal ada satu kitab hadits induk yang diajarkan, entah Shahih Muslim, Abu Dawud atau yang lain.
 

Buya  Arrazy juga menyinggung di akhir zaman akan ada banyak media untuk menghafal Al-Qur’an. Ini sesuai hadits Nabi yang di akhir zaman akan banyak yang hafal Al-Qur’an tidak melewati kerongkongan.
 

“Lebih baik hafal Al-Qur’an sedikit-sedikit tetapi menancap, daripada cepat hafal cepat lupa,” pungkasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru