• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 14 Agustus 2022

Metropolis

Dakwah Era Kekinian Butuh Beragam Terobosan

Dakwah Era Kekinian Butuh Beragam Terobosan
Dibutuhkan beragam terobosan agar dakwah kian merata ke semua kalangan. (Foto: NOJ/ISt)
Dibutuhkan beragam terobosan agar dakwah kian merata ke semua kalangan. (Foto: NOJ/ISt)

Surabaya, NU Online Jatim
Adanya Corona Virus Disease 19 (Covid-19) sebagai pandemi yang menyebar di berbagai negara tentu sangat berdampak. Namun dibutuhkan dakwah kebangsaan demi menguatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Hal inilah yang mengemuka dari kegiatan webinar Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Dakwah Nahdhatul Ulama (LDNU) Jawa Timur, Selasa (28/09/2021). Tema yang diangkat adalah  ‘Problematika Dakwah bagi Kalangan Milenial di Era Pandemi’. 

 

KH Ilhamullah Sumarkan selaku Ketua PW LDNU Jatim mengatakan bahwa acara ini merupakan respons positif NU terhadap konsistensi dakwah di masa pandemi.

 

“Dakwah itu mengajak untuk keimanan, berilmu dan menjadi terbaik. Hikmah itu bisa dilaksanakan di semua lini terutama media sosial. Tetaplah berdakwah dengan media yang ada dan cara terbaik,” katanyasaat sambutan.

 

KH Moch Bukhori Muslim selalu pemateri menjelaskan strategi dakwah lebih penting dari materi. Tetapi dai lebih penting daripada thariqah, dan ruh dai itu lebih baik daripada dai itu sendiri.

 

“Ada dua yang harus dipegang yaitu prinsip berkesinambungan seorang dai dan prinsip dinamis. Ambil yang baru dan baik serta aktif mengupayakan yang terbaik,” kata kiai yang juga Sekretaris Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.

 

M Noor Harisudin sebagai pemateri kedua mengambil poin tentang strategi dakwah untuk penguatan keislaman dan kebangsaan di era digital 4.0. Dengan itu, dakwah yang sesungguhnya ada di semua lini kehidupan.

 

“Berdakwah tidak hanya mereka yang ada di panggung dan perguruan tinggi, tapi harus ada di semua lini. Maka saat ini dakwah yang dilakukan harus memakai beberapa sarana dan media,” ujar guru besar UIN KHAS Jember itu. 

 

Selanjutnya, Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember tersebut mengungkap bahwa dakwah kebangsaan bertujuan menguatkan tujuan bersama. Dalam hal ini agar manusia bisa hidup berdampingan dan menyatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan berdasarkan UUD 1945.

 

“Dakwah kebangsaan diperlukan karena saat ini masih ada yang meragukan NKRI, adanya pendangkalan pemahaman keagamaan, dugaan eksklusifisme dan ekstremisme beragama, pudarnya nilai kebangsaan serta percepatan visi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” jelas Wakil Ketua PW LDNU Jawa Timur tersebut.

 

Sebagai kaitannya dengan nasionalisme, dakwah harus menghindari sikap ekstrem yang mengarah pada tindak kekerasan dan teror umat yang berbeda. Dari hal ini, akan mudah dalam mewujudkan dakwah yang memberdayakan.

 

“Dakwah semestinya lebih pada penguatan pendidikan, ekonomi, sikap wasathiyah dalam beragama serta membangun jejaring dan kerukunan antar sesama,”tegasnya.

 

Di sisi lain, Akh Muzakki mengungkapkan, peta jalan baru dakwah terdiri dari identifikasi masalah dan tantangan terkini, bottom line data melalui riset pasar, serta program aksi. Inilah yang disebut dengan dakwah jalan baru. 

 

Adapun tantangan terkini yang harus dihadapi para dai, yaitu generation gap, beragama di tengah consumer culture, beragama di tengah paku realistis, dan matinya kepakaran ilmu agama.

 

“Karakter generasi milenial yang lebih menyukai visual dibandingkan tekstual, membuat pentingnya ke depan harus ada projek visualisasi dari ceramah para dai yang diconvert di media sosial,” terang Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini. 

 

Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut menyarankan dakwah dengan membentuk dai milenial, yang bekerja sama dengan Lakpesdam NU, IPNU, dan IPPNU.

 

“Sehingga menjadi influencer, atau endorseman dalam syiar agama,” tuturnya.

 

Kegiatan dimoderatori Mahir Amin dan diikuti peserta dari kalangan akademisi dan aktivis NU.

 

Penulis: Siti Junita, Erni Fitriani


Editor:

Metropolis Terbaru