• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Metropolis

Gus Yahya Bilang Jadi Ketua NU Lebih Menantang dari Jubir Presiden

Gus Yahya Bilang Jadi Ketua NU Lebih Menantang dari Jubir Presiden
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Ketum PBNU. (Foto: NUO)
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Ketum PBNU. (Foto: NUO)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama  (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan menjadi memimpin NU paling menantang jika dibanding tanggung jawab lain, seperti menjadi juru bicara Presiden saat mendampingi Gus Dur.

 

Hal itu disampaikan Gus Yahya saat menjadi Narasumber salah satu Televisi Swasta pada Sabtu (15/01/2022). Menurutnya, menjadi ketua adalah capaian yang tertinggi dan tantangan terbesar yang harus dihadapi. “Nanti saya mati cukup puas lah,” ujarnya.

 

Terkait susunan pengurus  yang terbilang cukup gemuk, Gus Yahya menilai wajar. Karena warga NU sangat banyak. Menurut survei terakhir, lanjut dia, warga NU 50,7 persen dari populasi Muslim di Indonesia.

 

“Berarti kira-kira 120 juta. Kalau kita sungguh-sungguh melakukan sesuatu menjangkau seluas mengkin dari warga NU ini, tentu wajar kalua kita butuh personel,” katanya.

 

Di samping itu, papar dia, NU dihadapkan berbagi persoalan yang kompleks yang membutuhkan penangan serius. Bukan hanya performa, tetapi sungguh-sunggguh efektif untuk memecahkan berbagai masalah. Hal ini menurut Gus Yahya jelas membutuhkan personel dengan lebih banyak latar belakang keahliaan.

 

“Di dalam bidang keagamaan, kita ini mengalami perubahan yang luar biasa fundamental. Otomatis kita membutuhkan untuk membangun wacana-wacana yang luas sebagai upaya menjawa tantangan-tantangan dari perubahan peradaban ini,” ungkapnya.

 

Terkiat masuknya perempuan di kepengurusan PBNU, Gus Yahya mengatakan bahwa NU saat ini memang membutuhkan itu. Sebab, jumlah perempuan lebih cepat meningkat dari laki-laki. “Karena itu kita membutuhkan perempuan untuk mengesekusi agenda-agenda itu supaya sungguh-sungguh bisa menjangkau kalangan perempuan dengan strategi yang tepat,” pungkasnya.


Metropolis Terbaru