• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 28 Januari 2023

Metropolis

Gus Yahya: Mengurus 150 Juta Nahdliyin Butuh 2,5 Juta ASN NU

Gus Yahya: Mengurus 150 Juta Nahdliyin Butuh 2,5 Juta ASN NU
Ketum PBNU, Gus Yahya (kiri) saat di acara Rapat Koordinasi Persiapan Resepsi Satu Abad NU di Gedung Musdalifah kompleks Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Selasa (15/11/2022). (Foto: NIJ/Makhfud)
Ketum PBNU, Gus Yahya (kiri) saat di acara Rapat Koordinasi Persiapan Resepsi Satu Abad NU di Gedung Musdalifah kompleks Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Selasa (15/11/2022). (Foto: NIJ/Makhfud)

Surabaya, NU Online Jatim
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyebutkan, terjadi peningkatan jumlah muslim di Indonesia yang mengaku sebagai bagian dari NU di tahun 2022. Penjelasan itu disampaikan saat Rapat Koordinasi Persiapan Resepsi Satu Abad NU di Gedung Musdalifah kompleks Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Selasa (15/11/2022).



“Orang-orang di mana-mana berbondong-bondong mengikuti NU. Berbondong-bondong merasa dirinya bagian dari NU. Hasil survei sebelumnya 50,5 persen. Di tahun 2022, 59,2 persen muslim di Indonesia mengaku NU atau sebanyak 150 juta warga,” imbuhnya saat memberikan arahan kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), lembaga dan pimpinan badan otonom NU se-Jawa Timur.



Dirinya kemudian mengingatkan, agar pengurus NU untuk tidak melihat kebesaran nahdliyin sebagai aset untuk dimanfaatkan. Apalagi melupakan tanggung jawab dalam memenuhi hajat dari kebesaran nahdliyin.



“Tanggung jawab kepada sekian banyaknya warga ini adalah terkait segala macam hajat dan semua aspirasinya. Maka kita harus menemukan satu model pengorganisasian dan menajemen yang nantinya punya kapasitas untuk mengurus warga yang banyak itu”, kata salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Leteh, Rembang tersebut.



Untuk itu, lanjut Gus Yahya, PBNU akan mengembangkan jam'iyyah organisasi NU ini sebagai imaroh. Yakni organisasi dengan sistem pemerintahan, bukan pemerintahan negara, tetapi pemerintahan di lingkungan warga NU.

 

“Maka panjenengan semua ini perlu memahami dan menyadari. Kedudukan panjenengan ini, saat ini sebagai pengurus NU adalah sebagai ulil amri. Maka, tugas selanjutnya adalah bagaimana membangun struktur imaroh ini betul-betul dapat diandalkan dan bisa menjalankan tugas dengan baik,” ujar mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu.



Di situ lah, kata Gus Yahya, latar belakang PBNU dalam merancang suatu agenda raksasa yaitu agenda pelatihan kader NU secara sistematis. Dimulai dari Pendidikan Dasar Pelatihan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU), Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU), dan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKNNU).



“Kenapa itu (pelatihan) kita agendakan? Karena kita butuh untuk membangun imaroh yang punya kapasitas. Negara saja, untuk melayani 275 juta orang merekrut ASN tidak kurang dari 5,7 Juta. Nah untuk mengurus NU dengan 150 juta warga, kita butuh ASN NU dan aparat NU sekurang-kurangnya dua setengah juta orang,” tandasnya diiringi tepuk tangan hadirin.


Metropolis Terbaru