• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Metropolis

Ketua NU Bawean Jelaskan Hakikat Pesta Demokrasi

Ketua NU Bawean Jelaskan Hakikat Pesta Demokrasi
Ketua PCNU Bawean, Kiai Muhammad Fauzi Ra'uf saat menyampaikan sambutan dalam peringatan Harlah ke-101 tahun NU. (Foto: NOJ/Aminuddin)
Ketua PCNU Bawean, Kiai Muhammad Fauzi Ra'uf saat menyampaikan sambutan dalam peringatan Harlah ke-101 tahun NU. (Foto: NOJ/Aminuddin)

Gresik, NU Online Jatim 

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bawean, Kiai Muhammad Fauzi Ra'uf menjelaskan tentang hakikat pesta demokrasi atau Pemilu dalam acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-101 tahun NU.


Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah elemen tokoh pemerintah dan agama yang dipusatkan di Aula Kantor PCNU Bawean, Sangkapura, Sabtu (10/02/2024).


Menurutnya, tidak ada yang paling penting dalam momen Harlah ini kecuali untuk muhasabah atau introspeksi bagi setiap pengurus di setiap tingkatan. Tugas NU sebenarnya hanya satu yaitu khidmatul ummah (melayani umat).


“Dalam kesempatan ini di samping kita memperingati Harlah juga memohon kepada Allah SWT agar pesta demokrasi yang tinggal beberapa hari lagi ini bisa membawa berkah bagi kita semua,” ujarnya.


Ia menyebut, yang terkandung dalam khidmatul ummah yang pertama adalah ri'ayatul ummah (merawat umat/masyarakat). Jadi, pengurus NU harus melayani masyarakat dalam setiap aspek.


"Yang namanya merawat, berarti harus memikirkan segala aspek kehidupan masyarakat termasuk mengayomi. Jangan sampai pengurus NU jadi provokator, tetapi harus menjadi promotor dalam menggiring suasana politik yang agak memanas seperti sekarang ini agar tetap aman, damai dan menyejukkan,” terangnya.


Kedua, himayatul ummah, maksudnya yaitu apa saja yang dapat mengganggu kenyamanan umat harus ditangani, baik dari sisi solidaritas maupun akidah. Kemudian, hal yang selalu menjadi gaduh dalam suasana Pemilu yakni tidak mengerti hakikat pesta demokrasi dan tidak siap menerima perbedaan.


"Dalam proses menentukan pemimpin itu ikhtilaf, jangan sampai di hubung-hubungkan dengan agama," tegasnya.


"Kadang-kadang kita tidak siap berbeda, padahal perbedaan itu hal yang lumrah. Bahkan kita tidak akan terjadi tanpa adanya dua pasangan manusia yang berbeda antara laki-laki dan perempuan,” tambahnya.


Metropolis Terbaru