• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Metropolis

Ngaji Filsafat, Fahruddin Faiz Jelaskan Lima Ciri Manusia

Ngaji Filsafat, Fahruddin Faiz Jelaskan Lima Ciri Manusia
Fahruddin Faiz, Intelektual Muslim dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Foto: NOJ/FDS)
Fahruddin Faiz, Intelektual Muslim dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Foto: NOJ/FDS)

Mojokerto, NU Online Jatim

Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Mojokerto menggelar Syawalan Bareng Ngaji Filsafat bertajuk ‘Kemanusiaan’ dengan pemateri yakni Fahruddin Faiz, yang merupakan Intelektual Muslim dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan tersebut bertempat di Pendopo Kalam Aksara Lampahan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, Jum’at (06/05/2022).

 

“Diri kita terbuka mau berfikir. Hari ini banyak orang yang malas berfikir bahkan tidak mau berfikir, itu bahaya sering saya sebut dimana-mana manusia hakikat eksistensinya itu berfikir. Manusia itu sering kalau dalam filsafat di definisikan sebagai animal rasional atau hayawanun natiq, jadi binatang yang berfikir,” kata Fahruddin Faiz.

 

Menurutnya, manusia itu memiliki lima ciri yakni makhluk Mukarrom, Mukallaff, Mukhoyyar, dan Madtsi. Manusia itu makhluk, jadi manusia itu diciptakan keistimewaan-keistimewaan oleh Allah khusus untuk manusia, semua manusia di muliakan oleh Allah.

 

“Makna kedua dari manusia itu kalau kita sadar semoga kita tidak punya pandangan buruk, rendah, perilaku yang dzolim pada siapapun manusia. Kalau masih ada berarti kita belum jadi manusia sejati. Kalau ada orang dewasa tapi kelakuannya kayak anak kecil seperti egois sekali ingin enaknya terus, tidak peduli orang lain berarti dia belum manusia,” ucapnya.

 

Kedua, manusia itu mukarrom, semua dimuliakan oleh Allah maka yang pantas bagi manusia itu adalah sadar kemuliaannya dan memuliakan orang lain. Wa laqod karomna bani adama yang artinya Allah itu banyak sekali memberi keistimewaan kemuliaan bahkan lebih dari malaikat.

 

“Kita itu sangat dicintai oleh Allah, malaikat sampai disuruh sujud pada kita. Allah tidak tega menurunkan kita di bumi maka wa allamal adama asma’a kullaha yang artinya Allah mengajari kita dulu dengan segala macam kebutuhan di bumi. ini kalau bahasa filsafat ada namanya ide bawaan, sebenarnya kepala kita penuh dengan referensi-referensi pas kita lahir,” terangnya.

 

Pria kelahiran Mojokerto 16 Agustus 1975 itu menjelaskan, manusia dengan akal sehatnya saja itu tahu mana yang baik dan buruk, ini pantas dan tidak pantas itu bisa begitu. Itu bagian dari kemuliaannya Allah pada manusia. Hakikat manusia yang ketiga itu di taklif, bahwa manusia ini makhluk yang mukallaf. 

 

“Kalau ada banyak kisah di Al Qur’an itu menunjukkan betapa banyak dramatisnya manusia yang mau diberi taklif, amanat ini dulu pernah ditawarkan ke gunung, angin dan sebagainya semuanya merasa berat dan menolak, hanya manusia yang mau,” ungkapnya.

 

Yang keempat, manusia itu makhluk yang mukhoyyar, yaitu makhluk yang diberi kewenangan memilih. Ini akan banyak sekali melahirkan filosofi-filosofi tentang manusia dan kebebasan. 

 

“Kita itu oleh Allah makhluk yang istimewa, tapi keistimewaan kita itu dalam bentuk potensi,” tandasnya.

 

Terakhir madtsi, yaitu ada balasannya, yang melakukan kebaikan nikmati hasilnya, yang melakukan keburukan rasakan sendiri efeknya. 

 

“Tidak harus di surga dan neraka, sejak awal kalian juga merasakan efeknya. Jadi, manusia dewasa itu bebas memilih, tetapi hati-hati setiap pilihan ada konsekuensinya,” pungkas alumni S-3 Jurusan Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2014).

 

Penulis: Feri Dwi Sukamto


Metropolis Terbaru