• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 4 Februari 2023

Metropolis

NU Jatim Dukung Menag Jadi Penengah Perbedaan Keyakinan

NU Jatim Dukung Menag Jadi Penengah Perbedaan Keyakinan
Katib PWNU Jatim, KH Syafrudin Syarif. (Foto: NOJ/Awj)
Katib PWNU Jatim, KH Syafrudin Syarif. (Foto: NOJ/Awj)

Surabaya, NU Online Jatim

Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) yang baru, H Yaqut Cholil Qaumas telah menyampaikan untuk menjadi penengah beragam keyakinan. Hal tersebut juga selaras dengan komitmen Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

 

“Ini kan masalah lama, sebagai NU, pemikiran kiai-kiai NU itu adalah NU sebagai payung besar,” kata KH Syafrudin Syarif, Jumat (25/12/2020).

 

Katib PWNU Jatim tersebut mengibaratkan NU sebagai ‘tenda besar’ yang melindungi semua bangsa Indonesia.

 

“Perlindungan bangsa Indonesia it’s oke,” ungkap alumnus Pesantren Lirboyo, Kediri tersebut.

 

Kiai Syafrudin menyampaikan bahwa hal tersebut juga berlaku atas pernyataan Menag soal Ahmadiyah dan Syiah. Bahwa mereka juga berhak mendapat perlindungan hukum dari negara seperti kelompok lainnya.   

 

Tetapi yang perlu dilihat, tegas Kiai Safruddin, adalah persoalan kearifan lokal tempat di mana kelompok itu melaksanakan ajarannya.   

“Ini harus kita lihat dulu di mana lingkungan dia berada karena untuk yang Syiah yang di Sampang itu sudah bertobat, menurut saya itu lebih bagus,” terangnya. Karena kearifan lokal, tentu harus diperhatikan. Kalau memang di situ bisa, mau kembali rukun, maka tidak perlu mengotak-atik kembali (persoalan), lanjutnya.

 

Secara khusus, Kiai Syafrudin memberikan penjelasan soal Ahmadiyah sembari mencontohkan ajaran Mirza Ghulam Ahmad di Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

“Warga muslimnya menganggap bahwa Ahmadiyah ya tetap Ahmadiyah, tidak bisa digolongkan sebagai agama Islam karena nabinya berbeda,” tuturnya.

Tetapi muslim di NTB membolehkan dan membiarkan pengikut Ahmadiyah untuk beribadah sesuai dengan kayakinan mereka.

 

Dirinya bahkan mendapatkan informasi saat bertemu Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama atau FKUB NTB setengah bulan lalu.

 

“Ketua FKUB-nya, Profesor Muslim namanya,” ucapnya.

 

Dan dari penjelasan tersebut didapatkan bahwa di NTB Ahmadiyah sudah bersepakat untuk tidak bersepakat. Itu maknanya adalah warga Muslima di NTB sudah bisa menerima Ahmadiyah.

 

“Yang terpenting adalah bagaimana Syiah di Sampang itu bertobat, kemudian bisa kembali rukun, begitu juga dengan yang Ahmadiyah karena tidak bisa digolongkan sebagai agama Islam,” tandasnya.

 

Sebelumnya, usai dilantik sebagai Menag, Gus Yaqut menengaskan bahwa seluruh warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum, tak terkecuali Ahmadiyah dan Syiah.

 

“Sekali lagi, sebagai warga negara, bukan jemaah Syiah dan Ahmadiyah, karena semua warga negara sama di mata hukum. Ini harus clear,” ucapnya tegas.

 

Ia juga menengaskan, salah satu tugas Menag adalah melindungi semua warga negara tanpa memandang kelompok tertentu.

 

“Tidak ada pernyataan saya melindungi organisasi atau kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Sikap saya sebagai Menteri Agama melindungi mereka sebagai warga negara,” tegasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru