• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Metropolis

Saatnya Perspektif Islam Jadi Dasar Pemahaman Isu Gender

Saatnya Perspektif Islam Jadi Dasar Pemahaman Isu Gender
Porf Ali Maschan Moesa saat mengisi Ngaji Ramadlan. (Foto: NOJ/Hilya)
Porf Ali Maschan Moesa saat mengisi Ngaji Ramadlan. (Foto: NOJ/Hilya)

Surabaya, NU Online Jatim

Kajian gender yang akhir-akhir ini tak sedikit digaungkan oleh para aktivis dengan pemikiran yang cenderung berorientasi pada pemikiran barat yang perlu diwaspadai. Maraknya kajian gender yang dikampanyekan kepada kaum hawa tiada habisnya diperbincangkan. Bahayanya, apabila argumentasi yang dibangun terkadang mengarah pada interpretasi pribadi belaka dan cenderung mengidentikkan salah satu gender lebih tinggi dari yang lainnya.

 

Hal tersebut dijelaskan oleh Prof Dr H Ali Maschan Moesa di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur pada  Jumat (23/04/2021). Kegiatan itu dikemas dalam Ngaji Ramadlan dan do’a bersama untuk keselamatan KRI Nanggala 402 yang hilang kontak  beberapa hari yang lalu.

 

Secara singkat, pria kelahiran Tulungagung tersebut mendefinisikan secara bahasa, bahwa gender berasal dari bahasa Inggris yang artinya jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan.

 

“Di Indonesia realitanya kalau berbicara gender penunjukan maknanya itu feminisme. Kalau sudah berbicara gender, selalu hak-hak perempuan,” katanya.

 

Lebih lanjut, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur tersebut mengutip majaz mursal dalam ilmu balaghah yang berbunyi:

 

إطلاقُ الْكُلَّ  وَإِرَادَةُ الْجُزْءِ

 

“Menyebutkan sebagian sedangkan yang dimaksud adalah keseluruhan. Dalam hal ini, kalau berbicara gender yang dimaksud adalah feminisme, semacam kita menggunakan kaidah itu,” jelasnya.

 

Ia menambahkan bahwa gender menurut pandangan Islam berarti berbicara jenis kelamin yaitu laki laki dan perempuan, bukan dalam konteks feminisme yang dikhutbahkan oleh Charles Fourier, seorang filsuf sosialis Prancis.

 

“Gender dalam pandangan Islam berbicara sebatas laki-laki dan perempuan sedangkan gender dalam konteks feminisme adalah satu rukun liberalisme. Salah satunya disebut the right of woman yang kita kenal dengan feminisme,” imbuhnya.

 

Sementara itu, ciri dari ajaran Charles ada beberapa diantaranya, tidak ada penyatuan agama dan negara, the right of women yang dikenal dengan feminisme, demokrasi, membela hak minoritas dan progress (bersifat rasionalisme).

 

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut mengawali dasar perspektif Islam mengenai isu gender dengan mengutip ayat 13 surat Al-Hujurat.

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى ...  إلَى آخِرِهِ

 

“Huruf wau (و) nya itu disebut wau athof, wau (و) mutaqul jamik. Yang maksudnya kalimat sebelum dan sesudah huruf wau tersebut, yaitu dzakarin (laki-laki) dan untsa (perempuan) kedudukannya sama. Dari konteks itu sudah jelas kalau kedudukan laki-laki dan perempuan sama,” terangnya.

 

Prof Ali mengungkapkan bahwa Islam datang memandang laki dan perempuan sama kedudukannya.

 

“Laki-laki dan perempuan setara dalam nilai amalnya, tidak ada namanya orang perempuan puasa, pahalanya setengah pahala laki-laki, kan tidak begitu,” ungkapnya.

 

Bahkan di dalam Al-Quran, kalimat “untsa (perempuan) lebih banyak disebutkan daripada dzakar (laki-laki). Maknanya apa? Bisa saja dimaknai perempuan sebagai aspek yang dihormati dan dimuliakan. Sebagaimana kita tahu sebelum Al-Quran datang, perempuan sangat dihinakan.

 

"Maka yang lebih tepat adalah keseimbangan. Kata tersebut lebih menunjukkan sikap saling mengisi atau memberi antara laki-laki dan perempuan," pungkasnya.

 

Editor: Risma Savhira


Metropolis Terbaru