• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Metropolis

Sofyan Tsauri Beberkan ‘Vaksin’ Ampuh Terhindar Radikalisme

Sofyan Tsauri Beberkan ‘Vaksin’ Ampuh Terhindar Radikalisme
Muhammad Sofyan Tsauri saat talkshow virtual, Sabtu (07/08/2021). (Foto: NOJ/ Sutrisno Akbar).
Muhammad Sofyan Tsauri saat talkshow virtual, Sabtu (07/08/2021). (Foto: NOJ/ Sutrisno Akbar).

Sidoarjo, NU Online Jatim

Kader Anti Intoleransi dan Radikalisme (Kanira) Surabaya menggelar Talkshow tentang deradikalisasi secara virtual melalui zoom meeting, Sabtu (07/08/2021). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber. Di antaranya Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Surabaya Masdar Hilmy,  aktivis perdamaian YIPC Jenny Saragih dan  mantan narapidana kasus terorisme Muhammad Sofyan Tsauri.

 

Dalam acara ini, Sofyan Tsauri yang juga mantan anggota polisi memaparkan, pemuda bisa mewujudkan deradikalisasi dengan beberapa pilihan cara. Di antaranya adalah mengisi hal-hal positif dan produktif.

 

Selain itu, pemuda harus memahami berbagai paham dengan guru yang tepat. Menyaring informasi yang belum jelas kebenarannya dan perlu menanamkan nilai-nilai perdamaian. Serta jangan mudah terprovokasi oleh virus kebencian terhadap pemerintahan. 

 

"Jadi ijinkan saya menyampaikan hal ini sebagai pemberi vaksin bagi para pemuda. Karena ketika bertemu dengan virus radikalisasi, setidaknya pemahaman yang saya sampaikan ini bisa menjadi kekebalan iman kita agar tidak mudah terprovokasi oleh ajakan dan doktrin mereka yang berdalih agama," ungkap Sofyan. 

 

Lebih lanjut Sofyan menjelaskan, pemuda memiliki idealisme yang kuat. Bahkan tidak sedikit yang enggan mengikuti begitu saja terhadap yang diwariskan orang tuanya.

 

Generasi muda juga haus ilmu dan informasi. Sehingga hal inilah yang kini dimanfaatkan kelompok radikal untuk melakukan propaganda guna merekrut anggota baru, yaitu generasi muda.

 

“Karena itu kita harus bekali generasi muda dengan pengetahuan dan ilmu positif, terutama ideologi dan kebangsaan. Ini penting karena masa depan bangsa ini berada di tangan generasi muda,” imbuhnya.

 

Sofyan juga meminta generasi muda Indonesia untuk bisa mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah bangsa. Pasalnya, bangsa Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berawal dari sumpah pemuda 1928.

 

Nilai dan semangat sumpah pemuda inilah yang harus terus diteladani agar tidak salah jalan sehingga terjerumus pada kelompok radikal terorisme.

 

“Generasi muda harus cerdas dalam mengaktualisasi diri terutama dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme,” tutur Sofyan.

 

Sofyan yang kini aktif membantu pemerintah dalam menyuarakan perdamaian dan anti radikalisme terorisme itu juga mengungkapkan, banyak teladan yang bisa dijadikan pelajaran generasi muda Indonesia dalam menghadapi era globalisasi ini. Salah satunya adalah teladan dari Rasulullah Muhammad SAW.

 

Pertama generasi muda harus mempunyai karakter dan jati diri. Bahwa indonesia adalah bangsa yang majemuk. Bangsa indonesia adalah bangsa yang menghargai perbedaan.

 

"Ideologi kekerasan ini justru membuat perpecahan antar bangsa dengan motif agama. Ini harus benar-benar diwaspadai generasi muda agar mereka tidak salah jalan," ungkapnya.

 

Pentingnya Toleransi

Sementara itu, Jenny Saragih yang juga hadir dalam kesempatan itu membagikan pengalaman kepada generasi muda saat berada dalam komunitas Young Interfaith Peacemaker Community. Ia menyampaikan tentang pentingya toleransi dengan pengenalan beberapa agama yang bisa menambah rasa keterbukaan.

 

"Pentingnya semangat menyala api nasionalisme di lingkungan pemuda generasi Z," ujarnya.

 

Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga menyampaikan bahwa pesan Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat memahami sejarahnya sendiri adalah sesuatu yang penting.

 

Menurutnya, bagaimana bangsa bisa besar jika kita tidak tahu sejarah. "Dengan memahami sejarah, pemuda dapat mengatasi tantangan intoleransi," imbuhnya. 

 

 

Jenny juga berbagi cara menghindari intoleransi. Di antaranya memulai dari diri sendiri menanamkan nilai perdamaian. Selain itu, mengatasi prasangka, merayakan keberagaman, mengatasi konflik tanpa kekerasan, meminta dan memberi maaf, berdamai dengan lingkungan, berdamai dengan Allah.

 

"Dengan menanamkan nilai ini pada pemuda dapat menjadi benteng dari hal-hal yang menggoyahkan persatuan," tandasnya.

 

Kontributor: Sutrisno Akbar dan Abdullah Muwaffaq 

Editor: Romza


Editor:

Metropolis Terbaru