• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 5 Juli 2022

Metropolis

Sosok KH Qohwanul Adib Langitan di Mata Sahabatnya

Sosok KH Qohwanul Adib Langitan di Mata Sahabatnya
KH Qohwanul Adib Munawwar semasa hidupnya. (Foto: NOJ/ Istimewa).
KH Qohwanul Adib Munawwar semasa hidupnya. (Foto: NOJ/ Istimewa).

Surabaya, NU Online Jatim

Majelis A’wan Ponpes Langitan, KH Qohwanul Adib Munawwar meninggal dunia, Kamis (03/12/2020). Dibalik kepergian Kiai Adib meninggalkan duka bagi banyak orang, termasuk sahabat dari almarhum.

 

Salah satunya, Zainuddin Ibad sahabat sekaligus santri Kiai Adib. Ia menilai sosok almarhum adalah orang alim. “Alim sederhana polos dan tawadhu',” kata Zainudin dalam tulisannya yang diterima NU Online Jatim.

 

Ia kemudian menceritakan saat berkenalan dengan Kiai Adib. “Kala itu saya berkesempatan nderek (ikut) bersama para kiai dan Habaib ke Malaysia. Rombongan yang dipimpin oleh Gus Tajul Mafakhir ini untuk berdakwah dan silaturrahmi dengan Ulama di Malaysia, sekaligus berziarah kepada wali-wali negeri jiran. Disitu saya berkenalan dengan Gus Adib. Sapaan akrabnya. Sosoknya kalem murah senyum dan rendah hati,” jelas Zainuddin.

 

Pasca berkenalan, ia merasa Kiai Adib telah membuatnya penasaran. “Sempat berbincang-bincang agak lama dan membikin saya penasaran. Pasalnya beliau (Kiai Adib) semacam membaca kerangka kehidupan yang saya jalani. Menghitungnya berdasarkan tanggal kelahiran nama ayah dan juga ibu,” ungkapnya.

 

Ia sempat merasa tidak begitu percaya dengan kemampuan yang ditunjukkan Kiai Adib. “Entah awalnya kurang begitu percaya, setelah beberapa hal beliau sebutkan baru nggeh. Beberapa peristiwa seperti bisa terbaca dari yang lalu maupun yang akan datang. Kemudian saya tanya, kok saget ngeten Gus, njen uruk i kulo (kok bisa begitu gus, coba saya diajari),” paparnya.

 

Zainuddin melanjutkan ceritanya setelah perjalanan di Malaysia. “Setelah pulang ke indonesia sering kontak-kontakan melalui whatsapp. Saya pun mengikuti kajian beliau Nasoihul Ibad di chanel Youtube Walisongo Langitan. Ngaji pasan (ngaji ramadhan) yanh diselenggrakan online karena memang di saat pandemi,” ulasnya.

 

Ia juga mengaku pernah mencapat cerita dari salah satu murid Kiai Adib. “Beliau termasuk yang mbalah ngaji Ikhya menggantikan Kiai Faqih Langitan. dan juga mbalah kitab-kitab besar semisal Fathul Wahab, Mahalli dan lain-lain beliau sedari awal memang Kiai yang Muttoli' ( ahli mutola'ah),” ungkapnya.

 

 

Zainuddin juga memaparkan tentang keikhlasan Kiai Adib dalam mengaji. “Pernah suatu ketika saat ngaji dan yang datang sedikit. Kemudian beliau berujar "aku bien kaleh Mbah Yai Faqih di utus ngaji, nggak di utus ngoprak-ngopra'i ". Rohimahu Allahu Kiai Qohwanul Adib. Beberapa chat dengan Kiai Adib, saat saya ingin mirengakan (mendengarkan) pengajian beliau yang sudah direkam. Kata beliau "Tujuanku ngaji direkam gawe tinggalan (untuk peninggalan) anak-anakku mbesok," pungkasnya melalui tulisan.

 

 


Editor:

Metropolis Terbaru