• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Metropolis

Viral Kitab Tafsir Ibnu Katsir Dibakar, Ini Respons Aswaja NU Center Sidoarjo

Viral Kitab Tafsir Ibnu Katsir Dibakar, Ini Respons Aswaja NU Center Sidoarjo
Tangkap layar video viral pemuda bakar kitab tafsir Ibnu Katsir. (Foto: Istimewa)
Tangkap layar video viral pemuda bakar kitab tafsir Ibnu Katsir. (Foto: Istimewa)

Sidoarjo, NU Online Jatim
Viral di media sosial sebuah video yang menunjukkan tiga pemuda sedang berkomentar miring terkait kitab Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Risalah al-Qushayriyya fi 'Ilm al-Tasawwuf. Tidak hanya memberi komentar miring, dalam video yang salah satunya diunggah ulang oleh akun Instgaram @generasi_muda_nu_official, Rabu (07/08/2022) malam itu nampak tiga pemuda itu juga membakar dua kitab tersebut.


Tiga pemuda itu menyebut dua kitab di atas dan kitab yang semacamnya adalah kitab iblis karena penulis dianggap menetapkan makna Al-Qur’an. Padahal menurutnya setiap penulis berbeda.


Merespons hal itu, Tim Kajian Ahlussunnah wal Jama’ah (Kiswah) Aswaja NU Center (Asnuter) Sidoarjo, Kiai Syaiful Anwar menilai apa yang dituduhkan dalam video itu sama sekali salah kaprah dan menunjukkan adanya kesalahan cara berpikir.


“Mereka ini tidak belajar Al-Qur'an kecuali melalui terjemahan. Karena jelas dia tidak bisa berbahasa Arab dengan baik,” katanya saat dihubungi NU Online Jatim, Kamis (08/09/2022).


Kiai Syaiful mengatakan, apa yang dikatakan pemuda dalam video bahwa dua kitab di atas menyesatkan karena ditulis atas pemikiran pribadi tidaklah dapat dibenarkan. Kiai Syaiful lantas menanyakan terjemahan Al-Qur’an yang dibuat belajar apa bukan dari pemikiran orang?.


“Dengan belajar Al-Qur’an melalui terjemah berarti dia mempelajari Al-Qur'an melalui pemikiran orang lain yang melakukan terjemah dan belum tentu orang itu penguasaan tentang Al-Qur’an lebih baik dari Ibnu Katsir atau Al-Qusyairi,” ujarnya.


Disebutkan, tidak ada seorang pun penulis kitab yang mengklaim karyanya sendiri yang paling layak dijadikan pedoman. Juga tidak seorang pun dari mereka memaksa orang lain untuk mempelajari karya tulisnya.


“Motivasi para pengarang kitab murni sebatas sumbangsih pemikiran bagi dunia ilmiah untuk menjadi bagian dari studi menuju jenjang temuan-temuan pemikiran baru,” ucapnya.


Karenanya, kemudian terjadi banyak perbedaan pemikiran di antara para penulis kitab dan semua itu akan mengkristal pada pemikiran orang-orang yang mempelajarinya. “Sehingga dapat diambil kesimpulan berupa terobosan pemikiran yang sesuai konteks masa,” pungkasnya.


Metropolis Terbaru