• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 27 November 2022

Metropolis

Webinar Pergunu Jatim Ungkap Seni Mendidik ala Mbah Wahab

Webinar Pergunu Jatim Ungkap Seni Mendidik ala Mbah Wahab
Kegiatan haul Mbah Wahab beberapa waktu berselang. (Foto: NOJ/Pan)
Kegiatan haul Mbah Wahab beberapa waktu berselang. (Foto: NOJ/Pan)

Surabaya, NU Online Jatim

KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab merupakan pemimpin visioner dan tidak kenal putus asa. Selain itu, jiwa nasionalisme yang tertanam kuat dalam diri menjadikannya sebagai teladan bagi semua orang, termasuk para dzurriyah atau keluarga.

 

“Beliau merupakan sosok yang luar biasa dan menjadi suri teladan bagi keluarga dan semua orang. Beliau sangat menginspirasi bagi kami,” ujar Hj Ema Umiyatul Chusna, Sabtu (27/03/2021).

 

Pandangan tersebut disampaikan cucu Mbah Wahab ini saat menjadi pembicara pada webinar nasional yang digelar Pimpinan Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Timur.

 

Ning Ema, sapaan akrabnya menuturkan, melihat dari cerita dzurriyah, Mbah Wahab merupakan tipikal cerdas dalam menyampaikan suatu hal. Juga mengimplementasikan segala lekuk persoalan yang terjadi di akar rumput.

 

“Meskipun saya tidak mengetahui dan bertemu langsung dengan Mbah Wahab, namun saya mendapatkan cerita-cerita dari dari orang tua, paman dan bibi, terkait dengan keunggulan Mbah Wahab dalam berbagai hal,” ungkapnya dalam webinar bertajuk ‘Seni Mendidik ala Muassis NU; KH Abdul Wahab Chasbullah’.

 

Dijelaskan bahwa, dalam hal kepemimpinan, Mbah Wahab merupakan sosok visioner. Pencipta lagu Syubbanul Wathan ini memiliki sifat tegas, dinamis, dan solutif atas beberapa persoalan yang menghendaki masyarakat bawah.

 

“Seperti halnya ketika di awal berdirinya NU, Mbah Wahab kerap kali bergerilya dan membangun komunikasi yang kuat dengan masyarakat,” tutur anggota DPR RI tersebut.

 

Menurutnya, sikap nasionalisme yang tertanam dalam diri Mbah Wahab tidak perlu diperdebatkan. Terbukti, di masa awal mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan, yang kemudian menjadi cerminan atas kuatnya sikap nasionalisme dan anti-penjajahan.

 

“Kecintaan terhadap tumpah darah, dan kebencian terhadap penjajah, menjadikan Mbah Wahab sebagai sosok nasionalis sejati,” ungkapnya.

 

Pada webinar yang digelar dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-69 Pergunu ini juga menghadirkan KH Azam Choiruman Nadjib sebagai narasumber. Gus Heru, begitu ia karib disapa, lebih banyak berbicara tentang peran Mbah Wahab dalam pendidikan pesantren dan madrasah.

 

Dijelaskan bahwa, konsep besar Mbah Wahab dalam mengelola pendidikan mengerucut pada dua hal, yaitu mengacu pada kedaulatan dan kemerdekaan. Namun demikian, dua hal tersebut menjadi satu kesatuan yang saling memiliki keterkaitan satu sama lain.

 

“Kedaulatan tersebut terurai pada masing-masing individu atau personal untuk menjadi sosok yang memiliki kuasa atas dirinya. Begitu pula setiap orang dapat menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir, bertindak, dan lain sebagainya,” kata Gus Heru menjabarkan.

 

Dalam mengelola pendidikan pesantren atau madrasah, Mbah Wahab kerap mengedepankan kelembutan hati, ketegasan sikap, dan punya jiwa merdeka.

 

“Keterangan ini merupakan hasil wawancara yang cukup panjang yang kami lakukan terhadap murid beliau atau alumni sepuh di beberapa daerah,” jelas Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang ini.

 

Disebutkan pula bahwa, Mbah Wahab juga jeli dan teliti dalam memilih dan memilah untuk menggali potensi setiap santri yang berbeda. Bahkan menurut pitutur sepuh, Mbah Wahab juga turut mengawal agar santri mampu berkembang dalam memanfaatkan potensi tersebut, tanpa batas waktu tertentu.

 

Selain itu, Mbah Wahab melakukan tiga jenjang dalam proses pendidikan, yaitu jenjang dasar, khusus, dan penugasan. Pada jenjang dasar ini yang dilakukan ialah ngaji, tausiyah, hingga praktik amaliyah dan ubudiyah. Sedang di jenjang khusus ialah untuk meningkatkan potensi khusus yang dimiliki santri, seperti literasi dan lain sebagainya.

 

“Semua ini terprogram secara sistematis hingga target tujuan tercapai sesuai jenjangnya. Namun demikian, hal ini tanpa disadari oleh masing-masing santri,” pungkas pria yang juga cucu Mbah Wahab ini.

 

Editor: Syaifullah


Editor:

Metropolis Terbaru