• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 23 Mei 2022

Opini

Bijak Bermedsos dalam Petuah Madura

Bijak Bermedsos dalam Petuah Madura
Aib atau kejelekan orang lain yang mudah diumbar-umbarkan oleh beberapa oknum, itu salah menurut kacamata Islam. (Foto:NOJ/Posjateng.id)
Aib atau kejelekan orang lain yang mudah diumbar-umbarkan oleh beberapa oknum, itu salah menurut kacamata Islam. (Foto:NOJ/Posjateng.id)

Di era digital, pelajar, remaja atau pun pemuda sulit dipisahkan dengan gawai. Pusat informasi di zaman 5.0 dijadikan aktivitas sehari-hari. Dibalik itu terdapat nilai negatif yang dapat memicu perkelahian, penghinaan, dan sejenisnya. Semestinya, permasalahan pribadi (internal keluarga dan semacamnya) tidak ketahui oleh orang lain.
 

Tempat curhat (meluapkan permasalahan pribadi) yang paling ideal adalah kepada orang-orang terdekat, seperti orang tua, guru, dan lainnya. Hal ini bisa dirasakan saat warganet seolah-olah rentetan cerita hidup menjadi konsumsi publik. 
 

Bagi kawula muda yang sedang galau terkait permasalahan pribadinya, cukup mengamalkan pesan moril yang pernah disampaikan oleh Sunan Bonang dalam tembang 'Tombo Ati'. Antara lain, membaca Al-Qur'an dan maknanya, shalat tahajud di tengah malam, berpuasa, zikir malam berpanjangan, dan senang bersahabat dengan orang-orang shalih.
 

Di lain sisi, dunia maya acap kali dikejutkan dengan berbagai cacian, hinaan, dan membuka aib orang lain. Misalnya, screenshoot chat yang di dalamnya terdapat percakapan satu sampai lebih. Itu sama halnya menyebarkan aib orang lain.
 

Aib atau kejelekan orang lain yang mudah diumbar-umbarkan oleh beberapa oknum, itu salah menurut kacamata Islam. Tujuannya adalah demi menjaga ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, Nahdliyah, dan Basyariyah. Sebagaimana Nabi menganjurkan pada umatnya untuk menutupi aib orang lain. Jika dilakukan, maka Allah SWT akan merahasiakan aibnya di dunia sampai akhirat. Sebagaimana dalam Nadham KH Muhammad Habibullah Rais di dalam kitab Tarbiyatus Shibyan.

 

وان أردت ذكر عيب الغير # ففتشن نفسك قبل الذكر
فقد رأى المرء القذى فى غيره # ولا يرى جدعا بعين نفسه
 

Artinya: Kalau mau menyebut aib temanmu, ingatlah bahwa lebih besar aibmu. Kesalahan orang lain engkau lihat, kesalahanmu sendiri tak kau lihat.
 

 

Serta dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al- Bazzar dengan sanad hasan.

 

 طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ  


 

Artinya: Beruntunglah orang yang menyadari pada aibnya sendiri sehingga tidak pernah memperlihatkan kesalahan orang lain.
 

Dari penjelasan di atas, sebelum menyebarluaskan kesalahan orang lain, berkacalah terlebih dahulu, tengoklah dalam dirinya bahwa manusia memiliki kesalahan dan kekeliruan. Karena hanya Nabi yang mempunyai sifat ma'shum.

 

Keterlaluan Bercanda

Di setiap platform, entah di Facebook, Instagram, WhatsApp dan lainnya, terkadang seseorang bercanda guna menjalin keakraban antar sesama. Bercanda itu boleh-boleh saja. Asalkan tidak berlebihan. Misalnya, tidak saling menghina dan menjatuhkan kehormatan seseorang. Hal inilah yang menyebabkan jalinan emosional akan runtuh atau berdampak pada permusuhan. Sebagaimana dalam kitab Tarbiyatus Shibyan yang menegaskan bahwa bergurau manis awalnya, sengsara belakangnya.

 

لا تكثر المزاح ان بدأه # حلاوة عداوة آخره
ان عدوا واحدا كثير # وألف خل الف يسير
 

Artinya: Jangan terlalu banyak engkau bercanda, sebab bisa bertengkar dengan sesama. Satu musuh sungguh sangat menyusahkan, seribu teman terasa menyenangkan.

 

Yang sering lagi adalah penggunaan diksi yang salah dan gambar yang tidak senonoh yang menyebabkan orang lain tersinggung. Perdebatan di beberapa platform mengakibatkan permusuhan, bahkan terjadi pembunuhan. Sesepuh orang Madura yang menjunjung tinggi tata krama memberikan pasemon pada generasi muda.


"Patao ajhalan, jhalana jhalane, patao neng-enneng, patao acaca". 

 

Artinya: Seseorang harus menjalankan kewajibannya sesuai aturan yang berlaku, harus tau kapan saat berbicara.

 

"Oreng reya banne bhaghusa, tape tatakramana. Sanajjan bhaghus tape tape tatakramana jhube', ta' cellep ka ate." 

 

Artinya: Seseorang itu bukan dinilai dari ketampanan dan kecantikan, tetapi tata kramanya. Segagah atau secantik apapun seseorang tapi tata kramanya tidak, kehadirannya tidak menyejukkan hati.


Opini Terbaru