• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 5 Desember 2022

Opini

Mengenang Gus Dur sebagai Pengamat Sepakbola

Mengenang Gus Dur sebagai Pengamat Sepakbola
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Foto: Beritasatu)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Foto: Beritasatu)

Oleh Rijal Mumazziq Z

 

Presiden Gus Dur sedang asyik mempersiapkan kabinetnya. Sosoknya, sebelum dan sesudah jadi presiden, tak banyak berubah. Ceplas-ceplos, terbuka, dan konsisten dalam ucapan (dan tindakan) kontroversialnya. Tiba-tiba, nongol tulisan di salah satu harian ibu kota. Ditulis oleh Sindhunata. Judulnya Surat Buat Gus Dur (7/6/2000) dan Catenaccio Politik Gus Dur (16/12/2000). Isinya memberi kritik dan masukan pada presiden, namun disampaikan dengan “gaya bahasa” dan istilah sepak bola.

 

Uniknya, Presiden Gus Dur menanggapi artikel Romo Sindhu dengan gaya yang sama, berjudul Catenaccio Hanyalah Alat Belaka (18/12/2000). Keduanya menggunakan taktik dan strategi permainan total football, catenaccio, hingga kick and rush, sebagai dasar pijakan analisa kondisi pemerintahan dan politik dalam negeri. Unik, memang.
Kata Romo Sindhu, Gus Dur seperti Johan Cruyff, legenda Belanda. Sistem Cruyff menuntut pemain berkemampuan tinggi. Pemain kelas rata-rata tak mungkin efektif memainkannya. Tak heran jika Cruyff sering tak dimengerti pemainnya. Gus Dur, dalam pandangan Romo Sindhu, setali tiga uang dengan Cruyff. Ia ingin memainkan total football yang bertempo tinggi dan terbuka bagi pemerintahannya, tetapi “kesebelasannya” tak mampu memainkannya, karena pemainnya hanya dari kelas rata-rata. Gus Dur memang hebat sebagai pemikir, namun berhubung sistemnya selalu kreatif dan berkembang, maka tidak mudah dipelajari. Begitu tulis Romo Sindhu dalam polemiknya dengan Gus Dur.

 

Maka, berbesar hatilah para maniak bola di Indonesia. Mereka pantas berbangga punya (mantan) presiden berhobi sama. Saat Presiden Brasil Fernando Henrique Cardoso melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, alih-alih menanyakan perkembangan ekonomi, sosial, dan politik Brasil, Gus Dur malah bertanya ”Bagaimana caranya supaya persepakbolaan Indonesia bisa bagus, sehingga bisa melahirkan seniman bola berbakat kayak negara Anda,”. Gus Dur serius? Mungkin. Cardozo menjawab? tak tahulah. Konon, Cardozo hanya manggut-manggut sambil memuji pengetahuan sepak bola Gus Dur.

 

Kalau ingin bernostalgia dengan Gus Dur sebagai pengamat sepakbola, silahkan baca buku 'Gus Dur dan Sepakbola: Kumpulan Kolom Gus Dur tentang Sepakbola' (Surabaya: Imtiyaz, 2014). Buku ini merupakan kumpulan tulisan Gus Dur sebagai pengamat sepakbola saat mengulas Piala Eropa 1988, 1992 hingga 1996, maupun saat membahas World Cup 1982, 1986, 1990, 1994, hingga 1998. Bahkan dalam World Cup edisi 1998 ini, Gus Dur sempat diwawancarai TV swasta. Ia diminta memprediksi hasil pertandingan perdana antara Brasil Vs Skotlandia. Uniknya, skor prediksinya tepat, 2-1 untuk Tim Selecao.

 

Melalui berbagai tulisan di dalam buku tersebut, kita bisa melihat Gus Dur sebagai seorang pengamat yang jeli. Perkara si kulit bundar, yang selama ini kita pahami sebatas permainan-olahraga yang terpopuler, nyatanya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Demikian kurang lebih pernyataan Gus Dur dalam sebuah kolomnya di buku ini. Lebih lanjut, sepak bola juga bisa dipakai sebagai pisau bedah sosial-budaya yang rumit. Hal ini ditunjukkan pula oleh Gus Dur yang pada tahun 1994, melalui salah satu tulisannya, telah memprediksi bahwa era 2000-an ke atas adalah era kebangkitan sepak bola Korea Selatan dan membanjirnya para legiun Afrika di kancah persepakbolaan Eropa.

 

Selain menganalisis mengapa tidak ada kiper hebat yang kahir dari rahim persepakbolaan Brasil, kiai nyentrik ini juga mahir mengulas taktik dan strategi setiap negara berikut ciri khas permainan, skill pemain, hingga kemampuan pelatih. Tak hanya itu, cucu pendiri NU ini—tanpa sadar–telah memulai sebuah kajian yang oleh Franklin Foer, seorang sosiolog sepak bola, dalam How Soccer Explains the World: an Unlikely Theory of Globalization, disebut sebagai soccer sociology.

 

“Saya mengikuti perkembangan sepak bola dan pertandingannya di TV. Apa yang saya lihat, saya tulis. Selanjutnya orang suka dengan tulisan saya. Saya kaget kok bisa ya saya menjadi pengamat sepak bola ha..ha..ha.” jawab Gus Dur saat diwawancarai penulis pada 7 Januari 2009 silam, di kantor PBNU.

 

Orang awam menyebutnya ramalan, akademisi menyebutnya analisa, dokter menyebutnya sebagai diagnosa. Pengamat sepak bola menyebutnya prediksi. Begitulah. Dan, Gus Dur tak mau pusing dengan istilah. Ia linier saja. Tak ambil pusing dan apa adanya.

 

Memang, sulit ditebak kapasitas dan “jatidiri” seorang mantan presiden penggila sepak bola itu. Dalam ungkapan KH.A. Mustofa Bisri, Gus Dur bukan agamawan, budayawan, negarawan, apalagi pengamat sepak bola. Melainkan semuanya.

Wallahu a’lam bisshawab.

 

Dimuat di kolom Free Kick, rubrik Sportainment Jawa Pos, 21 Juni 2018.

 

Penulis adalah peminat pemikiran Gus Dur, dan Rektor Inaifas, Kencong, Jember.


Editor:

Opini Terbaru