• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 5 Desember 2022

Opini

Pendidikan Karakter di Indonesia

Pendidikan Karakter di Indonesia
Pendidikan karakter sebaiknya dimulai sejak dini. (Foto: NOJ/Sib)
Pendidikan karakter sebaiknya dimulai sejak dini. (Foto: NOJ/Sib)

Oleh: Firdausi 

Para ahli pendidikan di Indonesia sepakat bahwa pendidikan karakter sebaiknya dimulai sejak dini atau usia anak-anak. Karena di usia tersebut akan menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensi dan bakatnya. Oleh karena itu sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai di lingkungan keluarga yang merupakan lingkungan awal bagi pertumbuhan anak didik. 

 

Implementasi pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran berkaitan dengan norma atau nilai yang harus dikembangkan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak terkesan pada pengembangan kognitif saja, tetapi mampu menyentuh pada internalisasi atau pengalaman nyata dalam kehidupan anak didik di masyarakat. 

 

Mestinya pemberdayaan karakter dilaksanakan dengan strategi makro dan mikro. Secara makro pengembangan karakter dibagi menjadi tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. 
Tahap pertama, perencanaan dikembangkan perangkat karakteristik yang dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber ideologi bangsa, perundangan, pertimbangan teori psikologis, nilai atau moral, pendidikan, sosio-kultural, pertimbangan berupa pengalaman dan praktik dari tokoh, kelompok kultural, dan pesantren. 

 

Tahap kedua, pelaksanaan yang dikembangkan pengalaman belajar dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri anak didik. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. 

 

Di setiap pilar, dua jenis pengalaman belajar dibangun melalui intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi pembelajaran yang dirancang untuk mencapai pembentukan karakter dengan penerapan pengalaman belajar terstruktur. Sedangkan habituasi membiasakan diri berperilaku sesuai nilai. Pada tahap evaluasi hasil dilakukan asesmen untuk perbaikan berkelanjutan.

 

Dalam ranah mikro, sekolah memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar untuk memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara kontinu proses pendidikan karakter di sekolah. Mulai dari kegiatan pembelajaran di kelas, keseharian dalam bentuk budaya sekolah, kokurikuler, dan masyarakat. Dalam hal ini pengembangannya menggunakan pendekatan integrasi dalam semua mata pelajaran. 

 

Untuk mata pelajaran pendidikan agama dan kewarganegaraan, menjadi fokus utama yang dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan pengiring. Sedangkan mata pelajaran lain, pendidikan karakter dikembangkan sebagian kegiatan pengiring terhadap karakter dalam diri anak didik. Contohnya, guru bisa melakukan refleksi dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa dengan cara selalu berdoa pada awal dan akhir pembelajaran. 

 

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi diniyah dan ijtimaiyah meneruskan kiprah muassis yakni Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh almaghfurlah KH Abd Wahab Chasbullah untuk menanamkan karakter cinta Tanah Air sejak dini. Kali ini NU hadir dalam bidang pendidikan yang mampu menelorkan muatan lokal dalam KBM yang berwujud buku ajar Aswaja. Di mana buku yang digagas oleh Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama mampu membentuk anak didik di pedesaan dan perkotaan menjadi manusia yang bertakwa, berakhlakul karimah sesuai dengan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Dengan diluncurkannya buku ajar Ke-NU-an ini diharapkan outputnya memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dirumuskan dalam kurikulum mata pelajaran Ke-NU-an yang bentuk oleh Lembaga Pendidikan Ma'arif NU. 

 

Dalam perspektif historis, nilai-nilai karakter sudah lama hadir di Indonesia, baik dari tradisi budaya, ajaran agama maupun ajaran kepemimpinannya. Dan banyak lagi nilai yang dapat diimplementasikan di setiap sekolah. Namun tidak semua nilai tersebut diambil. Tetapi setiap satuan pendidikan dapat mengambil inti yang akan dikembangkan di sekolah masing-masing. Hal ini dapat dicocokkan dengan visi-misi sekolah, tradisi budaya sekelilingnya, keinginan warga, kehendak pemegang kepentingan di sekolah, kondisi lingkungan, dan sebagainya. 

 

Dosen Instika Guluk-guluk dan Wakil Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, Sumenep.


Editor:

Opini Terbaru