Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Nyai Khodijah Nafis, Tokoh Milenial dari Kampung ke Kampung

Nyai Khodijah Nafis, Tokoh Milenial dari Kampung ke Kampung
Nyai Khodijah Nafis bersama keluarganya. (Foto: NOJ/HM)
Nyai Khodijah Nafis bersama keluarganya. (Foto: NOJ/HM)

Surabaya,  NU Online Jatim

Ustadzah Khodijah Nafis biasa dipanggil Nyai Khodijah, lahir di Kabupaten Sampang, Madura. Ia adalah istri dari Ustadz Fauzi Azhary salah satu pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di Surabaya.

 

Perempuan kelahiran 23 Juni 1981 tersebut dikaruniai empat orang anak, satu putri dan tiga putra. Shonia Malika Khoiroti, Sun'an Sa'adunnajah, Abqori lffan Bi Khoir, Achmad Junaid Rijalullah.

 

Sempat mengenyam di bangku kuliah S1 dan S2 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel yang kini menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Waktu itu, Nyai Khodijah tercatat sebagai mahasiswi S1 Program Studi Al-Ahwal As Syakhsiyyah (AS) dan S2 di Program Studi Syariah.

 

Lulus sebagai sarjana pada tahun 2006 dan magister pada tahun 2016 di salah satu kampus ternama tidak membuat Nyai Khodijah enggan untuk terus berdakwah dimana pun dirinya berada. Termasuk mengisi majelis-mejelis di kampung-kampung baik yang masih merintis atau pun yang sudah berjalan.

 

Menurutnya mengisi pengajian ibu-ibu memiliki rasa kepuasan tersendiri sehingga timbul rasa nyaman yang didapat ketika berbaur dengan mereka.

 

“Saya selalu diajarkan bahwa setiap hal apa pun diharuskan karena lillahi ta'ala, karena Allah dari Allah dan semua karena Allah. Sehingga yang saya rasakan ketika bersama ibu-ibu di majelis nyaman dan tenteram mungkin karena keikhlasan mereka,” katanya, Jumat (19/02/2021).

 

Dirinya bercerita, bahwasannya di awal mengisi pengajian sekitar 2004 sempat gugup kerena belum terbiasa mengisi di luar.

 

”Dulu ketika masih bertempat tinggal di rumah mertua awal-awal mengisi pengajian di Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq, Rangkah, Surabaya. Dua hari dua malam terbawa pikiran terus. Tapi ketika dicoba pasti akan bisa,” kenangnya saat mengingat saat pertama kali mengisi pengajian di luar meski sudah terbiasa mengisi di dalam pesantren.

 

Ketika pindah tempat tinggal di Sencaki, Simokerto pada tahun 2010 dirinya didatangi oleh salah satu pimpinan majelis yang ada di wilayah sekitar. Nyai Khodijah diminta kesediaannya untuk mengadakan pengajian khusus wanita sebab pengajian laki-laki sudah berjalan.

 

“Meskipun ada penawaran untuk membuka pengajian saya terlebih dahulu pamit kepada suami. Begitu dapat restu, sekitar tahun 2012 pengajian yang diberi nama Da’watul Khoirot khusus perempuan mulai berjalan walau di awal-awal hanya sekitar 25 orang yang hadir. Namun kini sudah mencapai sekitar 100 orang dari berbagai kalangan baik yang masih remaja maupun ibu-ibu,” jelasnya.

 

Melihat kiprah yang ada di masyarakat sekitar, Nyai Syifa Thobrani dari Pesantren Al-Ichsan Jrangoan Sampang, mendatangi Nyai Khodijah untuk turut serta mengurus kegiatan-kegiatan alumni pesantren tersebut.

 

“Nyai Syifa Thobrani memberi pesan kepada saya, kamu alumni Al-Ichsan Jrangoan, sejauh mana pun kamu melangkah, kamu tidak boleh meninggalkan pesantren di mana kamu pernah menjadi santri di sana. Kemudian pesan itu saya sampaikan kepada almarhumah umi, asalkan bermanfaat umi merestui,” ungkapnya.

 

Dengan takdir Allah waktu itu Nyai Khodijah yang masih muda membantu menjadi wakil alumni yang bernama Ikatan Santri Alumni Al lhsan Jrangoan (IKSAAJ) Sampang.

 

Suatu saat Nyai Khodijah bermimpi bertemu dengan almarhum mertuanya yang sambil tersenyum  mengusap kepalanya, dengan perawakan rapi dan segar.

 

“Ketika paginya saya ceritakan kepada suami dengan menyebutkan ciri-ciri dan perawakannya yang ada dalam mimpi ternyata bener setelah dilihat fotonya, itu adalah sang mertua. Mertua saya dulunya termasuk orang  yang dermawan, cinta pada ulama dan ingin punya sekolah di daerah tempat tinggalnya yang bertempat di daerah Krembangan, Surabaya,” tuturnya.

 

Sekitar 2017 ketika silaturahmi ke keluarga dan tetangga di Krembangan, salah satu warga ada yang mengajak agar mengadakan pengajian rutinan untuk warga sekitar. Dengan catatan tanpa ada konsumsi agar meringanan warga sekitar.

 

Majelis yang bernama Raudhatul Jannah dengan berjumlah delapan anggota mulai giat dirutinkan setiap dua minggu sekali pada hari Jumat malam. Hingga sampai sekarang anggota kurang lebih 70 sampai 80 orang setiap pengajiannya.

 

Lulusan Kampus Kok Ngisi Pengajian Kampung?

Tahun-tahun berikutnya hingga sekarang sudah ada sederet majelis rutinan maupun kajian umum yang diisi Nyai Khodijah dari berbagai kalangan baik dari seminar-seminar mahasiswa maupun pengajian ibu-ibu di kampung.

 

Dari sekian aktivitas yang dijalani, pernah ada pertanyaan menarik dari salah satu jamaah yang menanyakan kenapa nyai yang lulusan kampus lebih sering terlihat mengisi di kampung-kampung dari pada di kegiatan-kegiatan besar.

 

“Dengan nafas panjang saya jawab sebenarnya sama saja terkadang juga mengisi kajian di kalangan mahasiswa juga sering mengisi pengajian di majelis ibu-ibu. Tapi jika di pengajian ibu-ibu ada kenyamanan tersendiri mungkin keikhlasan dan ketulusan para ibu-ibu yang bikin betah dan selalu bikin rindu untuk mengisi pengajian lagi,” ujarnya.

 

Karena itu di ujung pembicaraan, Nyai Khodijah berbagi kunci dalam keberhasilannya sampai saat ini.

 

“Yang pertama setiap apa saja yang kita lakukan harus lillahi ta’ala. Kedua Jangan remehkan kekuatan doa, kepada siapa pun kita harus meminta didoakan. Ketiga jangan lupakan barokah orang tua dan guru sangatlah penting. Terakhir yang kelima jangan terlalu banyak nafsu dalam setiap langkah kita,” pungkas Ketua Bidang Dakwah Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kota Surabaya ini.

 

Editor: Risma Savhira

Bank Jatim (31/7)