• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Rehat

Kisah Sa’ad bin Abi Waqash yang Dipaksa Kufur oleh Ibunda

Kisah Sa’ad bin Abi Waqash yang Dipaksa Kufur oleh Ibunda
Sa’ad bin Abi Waqash adalah sahabat Rasulullah yang tergolong pertama kali masuk Islam atau al-sabiqun al-awwalun. (Foto: NOJ/MDj)
Sa’ad bin Abi Waqash adalah sahabat Rasulullah yang tergolong pertama kali masuk Islam atau al-sabiqun al-awwalun. (Foto: NOJ/MDj)

Sa’ad bin Abi Waqash adalah sahabat Rasulullah SAW yang tergolong pertama kali masuk Islam atau al-sabiqun al-awwalun. Ia memeluk Islam di usia yang masih muda, yakni di usia 17 tahun. Pengaruh dan kontribusinya terhadap dakwah Islam sangatlah besar. Terbukti, hampir di setiap perang Rasulullah, ia turut berjihad bersama Nabi untuk menegakkan panji-panji Islam serta ekspansi wilayah. Ia terkenal dengan inisiatifnya untuk menjadi awal mula pemanah pada peperangan.


Sayangnya, kehidupan Sa’ad bin Abi Waqash begitu dilematis tatkala ia berkomitmen untuk memeluk agama Islam, namun terbentur ridha dari sang ibu. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi?


Kisah ini diangkat dari Tafsir al-Baghawi yang menceritakan asal mula turunnya surat al-‘Ankabut ayat 8: 


وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

 

Artinya: Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) baik kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak mengetahui ilmu iu, maka jangan taati mereka. Kepada-Ku lah tempat kembalimu dan Aku beritakan kepadamu atas apa yang selalu kamu perbuat. (QS Al-‘Ankabut: 8)


Sa’ad bin Abi Waqash terkenal dengan anak yang selalu taat kepada ibunda, Hamnah binti Abu Sufyan bin Umayyah. Namun, kecintaan sang ibu kepada Sa’ad menjadi pudar seiring tragedi masuk Islamnya yang menggemparkan, termasuk ibunya. Sang ibu selalu mempertanyakan tentang apa motif yang memantiknya untuk masuk Islam? Apa keuntungannya? Parahnya, sang ibu justru mengancam Sa’ad bahwa ia tidak enggan makan dan minum sampai Sa’ad kembali ke agama semula atau sang ibu akan meninggal dalam kondisi demikian.


Ancaman yang dilontarkan tersebut sontak menggegerkan masyarakat. Sa’ad kemudian diolok-olok dan dicaci maki akibat ingin menelantarkan ibunya sendiri. Ia sering diejek: “Wahai anak yang ingin membunuh ibunya sendiri!”. Kalimat tersebut selalu dilontarkan kepada Sa’ad hingga timbul persepsi negatif padanya, bahkan semua warga telah memberi cap buruk kepadanya sebagai anak durhaka. Kendati demikian, umpatan dan cacian tersebut tidaklah digubris oleh Sa’ad. Ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya.​​​​​​​


Sa’ad sama sekali tidak memperdulikan ajakan sang ibu untuk kembali lagi pada agamanya, namun ia justru khawatir terhadap ancaman yang hakikatnya sangat merugikan sang ibu. Ketika ajakan tidak dipenuhi, sang ibu benar-benar merealisasikan ancamannya. Betul, ia mengurung diri dan tidak makan serta minum selama sehari semalam. Bahkan, ia menampakkan dirinya di luar rumah tersengat matahari dan disapu dinginnya malam. Ia melukakannya hingga masuk keesokan harinya.


Kemudian Sa’ad mendatangi sang ibu seraya berkata: 


وَقَالَ: يَا أُمَّاهُ، لَوْ كَانَتْ لَكِ مِائَةُ نَفْسٍ فَخَرَجَتْ نَفْسًا نَفْسًا، مَا تَرَكْتُ دِيْنِي، فَلِيَ وَإِنْ شِئْتِ فَلَا تَأْكُلِي

 

Artinya: Wahai ibuku, seandainya engkau memiliki 100 nyawa, lalu nyawa itu melayang satu per satu demi memaksaku untuk keluar dari agamaku, niscaya aku tetap teguh pada pendirianku untuk tidak keluar dari agamaku. Aku tidak akan merespons ancaman-ancaman itu. Silakan saja jika memang tidak mau makan.


Ibunda lalu tersadar bahwa hati anaknya telah kokoh dan tak dapat diruntuhkan. Ia berpegang teguh terhadap keyakinan Islam yang kuat. Sang ibu lalu mengurungkan niatnya dan kembali makan dan minum seperti biasanya. Selepas kejadian, Sa’ad bertemu Rasulullah SAW dan menceritakan hal tersebut, kemudian turunlah ayat ini. (Al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, [Beirut: Dar Ihya’ Turats al-‘Arabi, 1420 H], Juz 3, halaman: 551)


Dari kisah di atas, secuplik nasiat yang dapat dipetik bahwa anak memiliki kewajiban untuk selalu taat kepada orang tua dalam kondisi dan situasi apapun. Bilamana diperintah untuk mengerjakan hal yang wajib, maka harus dilakukan. Kalau diperintah mengerjakan yang sunah, maka disunahkan. Akan tetapi, Allah melarang untuk taat dalam hal yang menjerumuskan pada kemaksiatan. Teriring sebuah maqalah: 


لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

 

Artinya: Tidak ada bentuk ketaatan apapun kepada seorang makhluk dalam hal bermaksiat kepada Sang Khaliq. (Al-Mawardi, Al-Nukat wa al-‘Uyun, [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.th], Juz 4, halaman: 277)​​​​​​​


Wallahu a’lam.

 

*Muhammad Fashihuddin, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar.


Editor:

Rehat Terbaru