• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 23 April 2024

Tapal Kuda

Jalan Panjang Pesantren Nuris Jember Rintis Jaringan Aswaja Asia Tenggara

Jalan Panjang Pesantren Nuris Jember Rintis Jaringan Aswaja Asia Tenggara
Peserta Nuris Student Exchange Program atau NSEP. (Foto: NOJ/Aryudi AR)
Peserta Nuris Student Exchange Program atau NSEP. (Foto: NOJ/Aryudi AR)

Jember, NU Online Jatim

Pondok Pesantren Nurul Islam atau Nuris Jember merintis jaringan Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Asia Tenggara. Salah satu upayanya adalah melakukan pertukaran pelajar antara pesantren ini dengan sejumlah pesantren di Thailand dan Malaysia. Pertukaran pelajar yang dikenal dengan istilah Nuris Student Exchange Program (NSEP) bahkan sudah dimulai sejak  8 tahun lalu.


“Memang baru Thailand yang kami garap, sedangkan dengan Malaysia kami sudah menjalin komunikasi dengan mufti di sana,” kata pengasuh Pondok Pondok Pesantren Nuris Jember, Gus Robit Qashidi di Jember, Ahad (25/02/2024).


Program NSEP dimulai tahun 2016. Kongkretnya adalah sejumlah pesantren di Thailand selatan mengirimkan santrinya untuk belajar di Nuris. Begitu juga sebaliknya, santri melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren di Thailand selatan, tapi bukan untuk belajar melainkan untuk berbagi ilmu.


Sejak tahun 2106, pertukaran pelajar antara Nuris Jember dengan sejumlah pesantren di Thailand selatan tak pernah absen kecuali tahun 2020 dan 2021 lantaran timbul bencana Covid -19.


Santri-santri asal Thailand di Nuris, selain menempuh pendidikan di lembaga formal Madrasah Aliyah Unggulan Nuris, mereka juga secara khusus belajar kitab-kitab Aswaja dan ke-Aswaja-an. Setelah lulus dari MA Unggulan Nuris, mereka pulang ke kampung halamannya untuk melanjutkan dakwah. Sebagian dari mereka juga ada yang malanjutkan kuliah di Jember.


“Saya yakin, pada saatnya kelak mereka juga menjadi kader Aswaja yang tangguh, dan mampu mencetak kader-kader Aswaja di Thailand,” kata Gus Robith.


Tidak cukup dengan itu, sejumlah santri di Nuris juga dikirim ke Thailand untuk mengajar di sejumlah pesantren selama 1 bulan. Mereka mengajar hadits, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, dan Aswaja.


Tahun ini sebanyak 48 santri dikirim ke Thailand untuk mengajar. Mereka berpencar dan berbagi tugas di 11 pesantren. Yaitu  Eakkappap Sasanawich (Provinsi Krabi), Santiwich College, ⁠Bamrong Wittaya School, ⁠Suksawad Lamphlai (Provinsi Songkla), Suttisart Wittaya School, ⁠Suntisart Wittaya School, ⁠Pattana Islam Wittaya, ⁠Kabang Sasanasart School, ⁠Bannangsta Suksa School, ⁠dan Wittaya Islam School (Provinsi Yala).


“Tahun ini adalah tahun yang ke-8 program NSEP digelar, dan mereka sudah kembali ke Nuris dengan selamat,” jelas Gus Robit.


Untuk memperdalam Aswaja, sejumlah pesantren di Thailand selatan itu juga mengaji kitab karangan Syaikhul Ma’had Nuris, KH Muhyiddin Abdusshomad yang berjudul Hujjah Al-Qoth’iyah. Kitab ini berisi dalil-dalil amalan keseharian warga NU.


“Bahkan agar lebih mudah santri dan masyarakat memahami isi kitab tersebut, salah satu pesantren di sana akan menerjemahkan kitab itu ke dalam bahasa Thailand,” jelasnya.


Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir itu mengungkapkan bahwa peningkatan pemahaman Aswaja kepada mereka, bukan hanya soal amalan dan dalil-dalilnya tapi juga penekanan pentingnya sikap wasathiyah atau moderat. Sehingga Islam ala Ahlussunnah wal Jama'ah menjadi solusi di tengah kehidupan bernegara warga muslim Thailand.


“Islam di sana (Thailand) minoritas, namun dengan mengedepankan sikap moderat, Islam yang ramah, insyaallah pemerintah Thailand juga welcome,” pungkasnya.


Editor:

Tapal Kuda Terbaru