• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 9 Agustus 2022

Tapal Kuda

JQHNU Lumajang Jelaskan Pentingnya Talaqi dalam Belajar Makhraj

JQHNU Lumajang Jelaskan Pentingnya Talaqi dalam Belajar Makhraj
Penasihat PC JQHNU Lumajang, Ustadz Abdul Halim. (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)
Penasihat PC JQHNU Lumajang, Ustadz Abdul Halim. (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)

Lumajang, NU Online Jatim

Penasihat Pimpinan Cabang (PC) Jam'iyyatul Qurra' Wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kabupaten Lumajang Ustadz Abdul Halim menjelaskan, bahwa di dalam belajar makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) Al-Qu'ran penting dengan Talaqi atau bertemu langsung dengan guru yang ahli tajwid.

 

Hal itu disampaikan saat siaran program ‘Satu Jam bersama JQHNU Lumajang’ dengan tema "Belajar Makharijul Huruf", Sabtu (29/01/2022). Kegiatan tersebut disarkan langsung dari studio Media Center An-Nahdloh (MCN) Gedung NU I, jalan Alun-alun Timur, Lumajang.

 

Ustadz Abdul Halim menjelaskan, membaca Al-Qur'an dengan tartil hukumnya wajib. Di antara kerangka bacaan tartil, menurutnya adalah ketepatan seseorang dalam membaca huruf secara benar sesuai dengan makhrajnya menjadi syarat wajib yang tidak boleh ditinggalkan.

 

"Sebelum kita belajar baca Al-Qur'an, maka pada satu keterangan dalam kitab Al-Jazariyyah dijelaskan kita wajib belajar makharijul huruf dulu. Kemudian makharijul huruf itu sendiri ada syarat-syaratnya agar kita pas saat membacanya," jelas Pengasuh Kampung Qur'an, Desa Kalidilem, Kecamatan Randuagung, Lumajang ini.

 

Ia menuturkan, syarat-syarat itu menjadi bagian proses yang harus dilakukan bagi seseorang yang belajar tajwid. Sehingga bacaan Al-Qur'an sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW.

 

"Semua orang tidak akan pas bacaannya kecuali Rasulullah yang memang langsung dari Malaikat Jibril. Maka, seperti yang dicontohkan Nabi, belajar makharijul huruf haruslah bertalaqi, yaitu bertatapan muka dengan guru, melihat bagaimana caranya membaca huruf demi huruf Al-Qur'an," imbuhnya.

 

Lebih lanjut, hal itu merupakan cara Rasulullah belajar membaca Al-Qur'an kepada Malaikat Jibril, yakni dengan melihat dan meneliti secara seksama cara membaca yang benar huruf-huruf Al-Qur'an.

 

"Ini yang dinamakan metode Jibril. Malaikat Jibril mengajar Nabi kita dengan bersentuhan lutut, sangat dekat," tegasnya.

 

Hal ini tentunya perlu ketekunan dan keuletan, mengingat pengaruh dialek di setiap daerah berbeda-beda. Sehingga siapapun orangnya dan dari suku apapun, jika membaca Al-Qur'an sebisanya harus memakai lahjah atau logat arab sesuai yang diajarkan ulama. 

 

"Belajarnya harus kontinu, jangan satu kali. Terutama pada surat Al-Fatihah, karena setiap hari kita baca membacanya dalam shalat," pungkasnya.

  

Di akhir penyampaian, Ustadz Abdul Halim pun menjelaskan satu persatu 17 makharijul huruf dalam Al-Qur’an disertai dengan praktik pelafalannya.


Tapal Kuda Terbaru