• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Tapal Kuda

Kiai Marzuki Ungkap Indikator Kurang Ikhlasnya Ibadah

Kiai Marzuki Ungkap Indikator Kurang Ikhlasnya Ibadah
Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar. (Foto: NOJ/ Diana Putri Maulida)
Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar. (Foto: NOJ/ Diana Putri Maulida)

Pasuruan, NU Online Jatim

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar mengingatkan, bahwa salah satu tanda kurang ikhlasnya ibadah seorang pencari ilmu adalah saat mereka meninggalkan shalat berjamaah tanpa adanya udzur. Namun, shalat tersebut ditinggalkan karena rasa malas.

 

“Dengarkan para santri, tanda orang mondok tetapi tidak sepenuhnya ikhlas adalah ketika meninggalkan shalat berjamaah hanya karena malas,” ungkapnya saat mengisi pengajian rutin Kitab Kifayatul Atqiya’ yang disiarkan di NU Channel, Ahad (21/11/2021).

 

Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Rosyad Gasek Malang tersebut menegaskan, bahwa perilaku demikian termasuk indikator mengerjakan sesuatu dengan niat selain Allah.

 

Sebab, dalam kitab tersebut diterangkan, apabila niatnya memang untuk mencari ilmu agama dan memperoleh kebahagiaan di akhirat, maka pasti lebih memilih shalat berjamaah.

 

“Karena mereka tahu pahala shalat berjamaah itu 27 derajat, lebih besar pahalanya dari shalat sendirian. Bonus pahala yang berlipat ganda ini jelas tidak akan menghalanginya dari rasa malas,” tambah Kiai kelahiran tahun 1966 tersebut.

 

Namun, menurut Kiai Marzuki hak tersebut diampuni apabila ada udzur syar’i, semisal hujan dan lainnya. “Misalkan ada hujan, maka tidak apa-apa tidak berjamaah,” imbuhnya.

 

Menurutnya, indikator lain dari belum ikhlasnya ibadah seseorang adalah lebih mengutamakan pekerjaan yang fardhu kifayah dari pada fardhu `ain.
 

Dicontohkannya misal ketika seseorang lebih serius mempelajari ilmu-ilmu nahwu, balaghah, kedokteran. Sedangkan ilmu yang berkaitan dengan ibadah fardhu tidak dipelajari.

 

“Mbak-mbak ini misalnya sudah mendapat gelar sarjana agama, tetapi shalatnya masih salah. Seperti ketika sujud yang seharusnya dahi tidak tertutup kain, tapi malah sebaliknya,” ungkapnya.

 

Kiai Marzuki pun menceritakan, bahwa Rasulullah SAW pernah didatangi seorang pemuda untuk belajar ilmu yang berhukum fardhu kifayah, tetapi Rasulullah tidak mengiyakan.

 

“Pemuda tersebut terlebih dahulu diminta mengokohkan keyakinannya kepada Allah SWT. Setelahnya, diminta kembali untuk belajar ilmu yang gharib (aneh),” pungkasnya.


Tapal Kuda Terbaru