• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 14 Agustus 2022

Tapal Kuda

Korban Gempa Lumajang Tarawih di Masjid dan Mushala yang Retak

Korban Gempa Lumajang Tarawih di Masjid dan Mushala yang Retak
Masjid Baiturrohim di Pronowijo, Kabupaten Lumajang, yang tampak kokoh dari luar namun sebetulnya retak-retak di bagian dalam karena gempabumi beberapa waktu lalu. (Foto: NOJ/nu.or.id)
Masjid Baiturrohim di Pronowijo, Kabupaten Lumajang, yang tampak kokoh dari luar namun sebetulnya retak-retak di bagian dalam karena gempabumi beberapa waktu lalu. (Foto: NOJ/nu.or.id)

Lumajang, NU Online Jatim

Gempabumi yang mengguncang Kabupaten Lumajang,  Sabtu (10/04/2021) lalu masih menyisakan duka bagi para korban. Salah satunya adalah Amiruddin Zuhri. Bagian belakang rumah Ketua Gerakan Pemuda Ansor Ranting Pronojiwo itu rusak cukup parah. Begitu juga mushala miliknya, juga mengalami retak temboknya.

 

“Walaupun retak cukup parah, mushala tersebut masih kita pakai untuk khatmil Qur’an habis Ashar bagi anak-anak,” tutur Amir, sapaan akrabnya di kediamannya, dikutip dari NU Online, Selasa (20/04/2021).

 

Desa Pronojiwo termasuk daerah yang cukup parah dihantam gempa bumi. Di lingkungan Ustadz Amir dan sekitarnya, sedikitnya terdapat 50 rumah yang rusak akibat guncangan gempa berkekuatan magnitudo 6,1 itu. Rata-rata temboknya retak, bahkan bolong. Walaupun begitu, rumah-rumah tersebut masih ditempati oleh penghuninya.

 

“Ya gimana lagi, wong itu rumah satu-satunya bagi korban. Mau tinggal di mana lagi,” jelasnya.

 

Yang juga cukup parah diguncang gempa bumi adalah Masjid Baiturrohim yang berlokasi tak jauh dari rumah Ustadz Amir. Meski dari luar masih tampak utuh dan bagus, namun di bagian dalam, tembok masjid di sisi kiri dan kanan, juga depan banyak yang menganga akibat retak diguncang gempa bumi. Meski demikian, masjid tersebut tetap digunakan untuk kegiatan Ramadlan, misalnya shalat Tarawih dan sebagainya.

 

“Shalat Tarawih tetap kita laksanakan, namun di shaf paling depan agak dimundurkan sekitar satu meter untuk jaga-jaga kalau keramik di tembok tersebut jatuh karena retak cukup parah,” ungkap Ustadz Amir.

 

Bagi warga sekitar, masjid tersebut menjadi tumpuan karena itulah satu-satunya masjid di lingkungan tersebut. Karena itu, walaupun retak dan beberapa bagian masjid rusak, warga tetap menggunakannya untuk shalat Tarawih dan  kegiatan Ramadlan lainnya.

 

“Ramadlan adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam, karena itu meskipun masjidnya rusak tapi tetap ramai oleh jamaah, seakan-akan tidak ada apa-apa,” urainya.

 

Editor: Nur Faishal


Tapal Kuda Terbaru