• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Tapal Kuda

LPBI NU Kraksaan Tanam Ribuan Mangrove Kurangi Resiko Bencana

LPBI NU Kraksaan Tanam Ribuan Mangrove Kurangi Resiko Bencana
Penanaman ribuan mangrove di Pantai Grinting Desa Karanganyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. (Foto: NOJ/ SN).
Penanaman ribuan mangrove di Pantai Grinting Desa Karanganyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. (Foto: NOJ/ SN).

Probolinggo, NU Online Jatim

Banyak hal yang dilakukan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kota Kraksaan dalam melakukan gerakan Pengurangan Resiko Bencana (PBR). Di antaranya ialah keterlibatannya dalam penanaman 5.000 mangrove.

 

Penanaman mangrove dengan sistem tampolongsasi ini dilakukan di Pantai Grinting Desa Karanganyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo, Ahad (27/06/2021). Lebih kurang 200 orang terlibat dalam kegiatan ini.

 

Selain LPBI NU Kota Kraksaan, terlibat dalam kegiatan tersebut di antaranya para fasilitator lingkungan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, nelayan setempat, dan simpatisan peduli lingkungan.

 

“Kegiatan  penanaman mangrove ini melibatkan partisipasi masyarakat, khususnya nelayan dan semua unsur relawan kebencanaan,” ujar Eko Sumedhi, Ketua LPBI NU Kota Kraksaan.

 

Bang Eko, sapaan akrabnya juga menyampaikan, partisipasi masyarakat termasuk LPBI NU sangatlah dibutuhkan dalam gerakan tersebut. Karena PBR bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tapi semua unsur masyarakat dan dunia usaha.

 

"Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengurangi potensi bencana yang ada di pesisir pantai yang diakibatkan oleh abrasi," ujarnya.

 

Bang Eko berharap, masyarakat dapat melaksanakan kegiatan serupa tanpa menunggu perintah pihak terkait. Bahkan, dirinya menyebut pesantren merupakan salah satu komunitas yang perlu didorong untuk terlibat pula pada kegiatan PRB.

 

"Optimalisasi potensi masyarakat seperti kalangan pesantren hendaknya juga didorong agar terlibat dalam kegiatan semacam ini," jelasnya.

 

Sementara Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo, Rachmad Waluyo menyatakan, analisis terhadap kondisi lingkungan, perencanaan, dan aksi PRB di Kabupaten Probolinggo ini mengacu pada prinsip-prinsip dasar partisipatoris.

 

Partisipasi tersebut, menurutnya, antara lain keterlibatan semua unsur masyarakat dan relawan dalam memecahkan persoalannya sendiri, tanpa campur tangan pihak luar.

 

 

"Oleh karena itu, para relawan harus tetap menempatkan masyarakat sebagai subyek (pelaku) penting dalam kegiatan PRB ini," pungkasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Tapal Kuda Terbaru