• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 1 Juli 2022

Tapal Kuda

Webinar Aswaja-Literasi, Upaya NU di Banyuwangi Optimalkan Dakwah Digital

Webinar Aswaja-Literasi, Upaya NU di Banyuwangi Optimalkan Dakwah Digital
Webinar Aswaja dan Literasi MWCNU Siliragung, Banyuwangi demi optimalisasi dakwah di era digital. (Foto: NOJ/ Vina Yunda Safitri)
Webinar Aswaja dan Literasi MWCNU Siliragung, Banyuwangi demi optimalisasi dakwah di era digital. (Foto: NOJ/ Vina Yunda Safitri)

Banyuwangi, NU Online Jatim

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Siliragung, Banyuwangi mengadakan Webinar Aswaja dan Literasi. Kegiatan yang diinisiasi oleh Creative Team NU Siliragung, sebuah Cyber Media MWCNU setempat tersebut dilaksanakan via zoom meeting, Rabu (29/09/2021).

 

Webinar yang mengusung tema “Memahami Aswaja dan Literasi dalam Bingkai Nahdlatul Ulama” ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Hadir sebagai narasumber H Khotibul Umam, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Mukhtar Syafa’at Blokagung, serta Zainal Anshari, dosen UIN KH Achmad Siddiq Jember.

 

H Khotibul Umam menyampaikan, bahwa kaum milenial menjadi populasi terbesar di dunia. Hal ini berdasarkan data dari sensus tahun 2015 yang menyebutkan terdapat 269,9 juta generasi milenial di Indonesia.

 

Kiai muda ini menambahkan, model dakwah di kalangan millenial perlu analisa atau dengan memahami lingkungannya terlebih dahulu sebelum terjun ke lapangan. Kaum milenial, menurut Gus Uman, memiliki karakteristik khusus, seperti adaptasi dengan perubahan, melek teknologi, dan berorientasi pada pencapaian. Selain itu, kaum milenial butuh perhatian lebih, pikiran terbuka, dan mudah bosan.

 

“Oleh karenanya, dalam menyampaikan konsep Ahlussunnah wal Jamaah perlu menyesuaikan dengan tipologi beragama, yakni islam, iman dan ihsan,” jelas Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Jawa Timur periode 2018-2021 ini.

 

Sementara Zainal Anshari mengatakan, Nahdlatul Ulama mempunyai tradisi  yang kuat dalam hal tulis menulis. Terbukti dengan beberapa literatur yang khas Aswaja baik itu berbentuk buku atau kitab kerap mudah ditemui.

 

“Literasi perihal Aswaja itu memerlukan keseriusan dalam membaca. Karena  tantangannya di masyarakat sangat riil. Makanya, penting melahirkan generasi literasi Aswaja di kalangan milenial untuk melakukan counter atas upaya kelompok radikal yang menyusupkan ajarannya ke kitab-kitab Aswaja yang belum lama ini marak kembali,” ujarnya.

 

Wakil sekretaris MUI Jember menambahkan, ghazwul fikr atau perang pemikiran yang terjadi antara umat Islam dengan pihak yang hendak meruntuhkan Islam dilakukan dengan berbagai cara.

 

“Dalam konteks dakwah, perbedaan bukan berarti bermusuhan. Mereka yang berbeda hendaknya dirangkul dan diajak ke jalan yang baik dengan hikmah. Karena dengan nasihat yang baik akan membuatnya mampu berpikir kritis,” ungkap Ketua umum Yayasan Azka Al-Baitul Amin Jember itu.

 

Sebelumnya, Panitia Pelaksana Konferensi M Haris Jamroni mengatakan, hampir dua tahun pandemi Covid-19 telah mengubah banyak tatanan kehidupan, semisal segala aktivitas yang diganti dengan sistem dalam jaringan (daring).

 

Pria yang juga Ketua LP Maarif NU Siliragung ini menuturkan, inovasi dalam melakukan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, utamanya di kalangan milenial, hendaknya terus digalakkan sebagai wujud akulturasi atas keadaan yang terjadi.

 

 

“Oleh karenanya, diharapkan kegiatan-kegiatan daring sebagaimana yang dilakukan saat ini diharapkan tidak menghambat ghirah kita berkhidmat dan berdakwah untuk NU,” pungkasnya.


Tapal Kuda Terbaru