• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Tokoh

Kisah Kiai Badrudin Trenggalek Lawan Penjajah, Bawa Pasir hingga Garam

Kisah Kiai Badrudin Trenggalek Lawan Penjajah, Bawa Pasir hingga Garam
Makam Kiai Badrudin Jajar, Trenggalek saat dikunjungi peziarah. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)
Makam Kiai Badrudin Jajar, Trenggalek saat dikunjungi peziarah. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)

Banyak ulama dan kiai di daerah yang ikut andil berjuang di masa kemerdekaan hingga akhirnya meraih kemenangan pada 10 November 1945. Salah satunya adalah Kiai Badrudin asal Jajar Desa Sumbergayam Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Menariknya, ia ikut mempertahankan kemerdekaan dari serangan Belanda dengan membawa jagung, pasir, dan garam.


Kisah Kiai Badrudin dalam mempertahankan kemerdekaan di Kota Surabaya terjadi tidak begitu saja. Menukil buku 'Biografi Tiga Tokoh Darussalam, Kisah Perjalanan Hidup Masayikh', hal itu berawal saat Pemerintah Indonesia meminta setiap daerah mengirim perwakilannya untuk berjihad.


Sementara di wilayah Trenggalek yang ditunjuk adalah Kiai Badrudin dengan didampingi Kiai Mu'in Durenan. Kedua tokoh inilah yang turut serta menyingkirkan pasukan Belanda.


Singkat cerita, Kiai Badrudin yang saat itu sedang sakit didatangi seorang utusan yang adalah seorang santrinya. Utusan tersebut memohon Kiai Badrudin untuk ikut berperang melawan Belanda. Namun, karena kondisinya masih lemah, Kiai Badrudin tidak bisa ikut berperang.


Namun, utusan yang diketahui bernama Mundzir itu yakin bahwa gurunya tersebut bisa sembuh. Mundzir pun memutuskan untuk menunggu sampai Kiai Badrudin sembuh. Saat malam hari, ketika Kiai Badrudin terlelap dalam tidur, ia seolah mendapat isyarat untuk sembuh. Dalam mimpi itu, ia merasa kedatangan seorang sufi yang menganjurkan agar mandi di sungai yang ada di timur Masjid Jajar.


Lantas, sufi itupun berpesan agar setelah sembuh Kiai Badrudin berangkat perang ke Surabaya. Dalam mimpi itu, seorang sufi itu berjanji akan membantu Kiai Badrudin dalam berperang. Kiai Badrudin meyakini bahwa seorang sufi yang datang ke dalam mimpinya itu tidak lain adalah Nabi Khidir AS.


Alhasil, setelah mandi di sungai tersebut, atas izin Allah SWT Kiai Badruddin sembuh seperti sediakala. Ia pun akhirnya berangkat ke Kota Surabaya. Namun, sebelum berangkat Kiai Badruddin berpesan kepada keluarga dan para santri agar didoakan supaya ia tetap dalam lindungan Allah SWT. “Anu yo, sak isone, sak kuasane sak jerone aku lungo wacakna Al-Qur'an.” (Sebisanya, sekuatnya selama aku pergi bacakanlah Al-Qur'an).


Tepat pada hari yang telah ditentukan, ia dijemput oleh serombongan tentara jihad yang datang dengan seragam perang serta mobil sedan yang diperuntukan khusus untuk menjemputnya. Kiai Badrudin tidak menggunakan pakaian seperti layaknya orang yang hendak berperang, melainkan pakaiannya mirip orang mau pergi mengaji.


Kiai Badrudin memakai kopiah, sarung, dan baju putih lengan panjang, serta sebilah Bungkul (sejenis Parang) melekat di tubuhnya. Sekalipun demikian, penampilannya tetap berbeda dari biasanya, di pinggangnya terselip keris bernama ‘Keris Mangku Negoro’.


Di lain cerita, awal mula Kiai Badrudin berperang di Surabaya lantaran sebelum peperangan ia mengadakan gemblengan. Pesertanya dari berbagai daerah dengan membawa senjata tajam, termasuk pula bambu runcing.


Bambu runcing itu dibacakan hizib oleh Kiai Badruddin. Atas izin Allah, bambu itu mengeluarkan pijaran api dan kesaktian Kiai Badruddin terdengar ke segala penjuru. Sebab itulah pemerintah Indonesia mencarinya supaya ikut berperang di Surabaya.


Kiai Badruddin berangkat ke Surabaya diiringi oleh pekikan takbir dan shalawat para keluarga, santri, dan masyarakat sekitar. Pertempuran yang berlangsung kurang lebih 15 hari itu dimenangkan pasukan Indonesia dan memukul mundur Belanda.


Dalam peperangan tersebut, Kiai Badrudin menaburkan garam dan pasir. Pasir yang ditaburkan kepada panjajah tersebut membuat matanya tidak bisa melihat dengan sempurna. Ketika pejuang Indonesia hendak pulang ke daerah masing-masing, Kiai Badrudin dibuntuti oleh Belanda untuk dijadikan target serangan.


Pasukan Belanda pun ingin menghancurkan wilayah Jajar. Bahkan, beberapa kali Belanda menjatuhkan bom dari udara di daerah Jajar Durenan Trenggalek, namun selalu tidak berhasil dan bahkan suara ledakan pun tidak terdengar.


Pentolan Belanda yang mengetahui hal itu geram dan bersumpah akan menangkap Kiai Badrudin, hidup ataupun mati. Berangkatlah pimpinan pasukan Belanda itu ke Jajar, namun saat bertemu Kiai Badrudin hal yang diniatkan semula urung dilakukan. Pimpinan Belanda itu tubuhnya lemas dan gemetar usai bersalaman dengan Kiai Badrudin, sehingga akhirnya meminta ampun dan menyerah.


Atas kejadian itu, penjajah Belanda berjanji tidak akan mengganggu ketenangan penduduk Jajar. Selama singgah di Jajar, Belanda membuat sebuah dam sungai yang menghubungkan Dusun Jajar dengan Dusun Bakalan. Hingga sekarang, dam tersebut masih berfungsi dan dikenal dengan 'Dam Londo'.


Tokoh Terbaru