• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 29 September 2022

Metropolis

Santri Pesantren Teknologi Informasi Al-Hidayah Diingatkan untuk Jaga Kerukunan

Santri Pesantren Teknologi Informasi Al-Hidayah Diingatkan untuk Jaga Kerukunan
Santri Pesantren Teknologi Informasi Al-Hidayah. (Foto: NOJ/Boy)
Santri Pesantren Teknologi Informasi Al-Hidayah. (Foto: NOJ/Boy)

Mojokerto, NU Online Jatim

Pengasuh Pondok Pesantren Teknologi Informasi Al-Hidayah Kutorejo, Mojokerto Moch Yasin atau Gus Yasin menyebut Indonesia bisa bersatu karena rukun. Presiden Sukarno telah mati-matian berusaha merukunkan masyarakat bumi pertiwi. Tugas santri saat ini adalah menjaga kerukunan semua pihak. Hanya dengan kerukunan masyarakat dapat belajar banyak hal. Hanya dengan kerukunan pula kemajuan dapat dicapai.

 

Hal tersebut disampaikan Gus Yasin saat mengajak 1800 santrinya mengunjungi Makam Pahlawan Mojokerto, Kamis (11/08/2022) pagi.

 

“Di sini ada delapan pijakan, itu menandakan kita merdeka pada bulan agustus. Lalu di sana ada 17 bambu runcing, artinya kita merdeka pada tanggal 17 Agustus. Bambu runcing adalah senjata utama para pahlawan kita. Sebelum para pahlawan menuju medan perang, para pasukan Indonesia sowan dulu ke Kiai Subhi di Jawa Tengah,” ujarnya.

 

Selanjutnya, alumni Pesantren Zainul Hasan Genggong itu pun mengisahkan bagaimana karamah Kiai Subhi saat perang melawan penjajah. Mulai dari dengan pekikkan takbir pesawat penjajah jatuh. Disebutkan bambu runcing adalah senjata yang paling ditakuti oleh belanda. Sekali prajurit Belanda terkena bambu runcing, mereka akan sakit berbulan bulan dan akhirnya meninggal.

 

“Ini tidak lain karena doa beliau dan di ujung bambu ini ditaburi racun khusus. Dua ratus ribu pasukan Belanda meninggal karena bambu runcing,” terangnya.

 

Sementara kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Teknologi Informasi Al-Hidayah, Gus Ulil menyebutkan ada tiga hal yang menjadi pesan para pahlawan.

 

“Mereka ingin kita semua meneruskan perjuangan. Mereka ingin doa dari kita semua dan mereka Ingin dikenang untuk menjadi pengingat agar perjuangannya diteruskan, " tuturnya. 

 

Selanjutkan, Ustadzah Kuswatun Kasanah membacakan pesan-pesan para pahlawan yang tertulis di prasasti makam pahlawan kepada para santri.

 

“Kami yang kini terbaring di sini, yang tinggal tulang diliputi debu. Kami sudah beri kami punya jiwa. Tapi adalah kepunyaanmu. Kaulah lagi yang tentukan, jiwa kami melayang untuk kemerdekaan atau tidak untuk apa-apa. Kenang-kenanglah kami yang kini terbaring di sini” ucapnya.

 

Kegiatan ini diikuti oleh lembaga pendidikan yang dinaungi Pondok Pesantren Teknologi Al-Hidayah yang meliputi Firdaus Daycare, Playgroup Plus Al-Hidayah, TK Plus Al-Hidayah, TPQ Al-Hidayah, SDIT Firdaus, SMP Teknologi Informasi Al-Hidayah, dan MAS Teknologi Informasi Berlian. 


Metropolis Terbaru