• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 7 Juli 2022

Kediri Raya

Pandangan Aktivis NU Lintas Daerah di Jatim Memaknai Hari Perempuan Internasional

Pandangan Aktivis NU Lintas Daerah di Jatim Memaknai Hari Perempuan Internasional
Diana Dwi Oktavia, Ketua Fatayat NU Kabupaten Blitar (Foto: NUOJ/Ika Nur Fitriani)
Diana Dwi Oktavia, Ketua Fatayat NU Kabupaten Blitar (Foto: NUOJ/Ika Nur Fitriani)

Blitar, NU Online Jatim
Tepat hari ini, 08 Maret merupakan Hari Perempuan Internasional. Menurut Diana Dwi Oktavia, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Blitar, perempuan saat ini cukup dominan dalam berperan di masyarakat.
 

Ning Diana mengungkapkan, tipe  perempuan ideal adalah yang aktif  bukan apatis serta senantiasa menebar kebermanfaatan. Selain itu juga peka terhadap keadaan sekitar, memiliki kepedulian yang besar, serta ikut andil dalam membangun masyarakat yang bermoral. 
 

Selain itu, Ning Diana juga menuturkan bahwasannya saat ini perempuan harus berani bersuara, untuk keadilan, bergerak menebar manfaat sesuai bidang yang ditekuninya serta ikut andil dalam membangun masyarakat demi kemaslahatan bersama.
 

Maka dari itu, Fatayat NU Kabupaten Blitar berusaha mengambil peran untuk perempuan muda, khususnya perempuan Nahdliyyin melalui program yang dijargokan Fatayat 'Mempesona'. Melalui program tersebut, Fatayat NU telah melaksanakan berbagai gerakan di bidang pendidikan, pengkaderan, ekonomi, budaya, sosial, politik, kesehatan serta hukum.
 

"Program tersebut juga turut bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengkaji dan ikut hadir dalam menangani isu-isu krusial di masyarakat," jelas Ning Diana.
 

Disisi lain, Fatayat NU Kabupaten Blitar juga memiliki kader di seluruh ranting yang berperan aktif dalam program Fatayat NU 'Mempesona' diantaranya yaitu, daiyyah yg tergabung dalam Forum Daiyyah Fatayat NU (Fordaf).
 

Ada juga yang terjun sebagai penggerak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Program Lembaga Konsultasi untuk Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (LKP3A), yang menangani advokasi serta kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
 

"Serta program lainnya yang bertujuan untuk membangun keadilan, kesetaraan serta lingkungan yang ramah untuk perempuan," ungkapnya.
 

Fatayat NU juga diarahkan untuk menjadi perempuan yang inspiratif, tidak cukup dengan berdiam diri, namun harus ada gerakan di berbagai bidang. Menurut Ning Diana, perempuan harus hadir menjadi penggerak baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan hukum.
 

"Sebab sudah waktunya perempuan mengambil peran untuk kebermanfaatan dan kemaslahatan umat," tuturnya.
 

Fatayat NU Kabupaten Blitar berharap, momentum hari Perempuan Internasional ini perempuan harus bahagia dan bangga dengan dirinya. Karena dari perempuan yang bahagia akan terlahir generasi penerus yg luar biasa. Perempuan juga harus berani bersuara dan menyuarakan keadilan, sebab masih banyak ketimpangan yang terjadi di masyarakat, dan perempuan yang menjadi korbannya.
 

"Oleh sebab itu, melaksanakan advokasi dan edukasi sangatlah penting, agar posisi perempuan tidak lagi menjadi nomor dua,  perempuan yang setara, yang senantiasa menebar manfaat dimanapun dan kapanpun," pungkas Ning Diana.​​​​​​​
 

Tiga peran penting perempuan dalam keluarga​​​​​​​
Yulia Habibah Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Lumajang menjelaskan tiga peran penting perempuan yang menentukan baik tidaknya sebuah keluarga.​​​​​​​
 

Yulia Habibah mengatakan, peran perempuan dalam sebuah keluarga tidak bisa dianggap remeh, terutama seorang ibu. Seorang ibu yang bisa dikatakan madrsah pertama bagi anak-anaknya, sehingga jika peran ini kurang atau bahkan tidak dijalankan dengan baik maka secara otomatis berpengaruh terhadap pendidikan seorang anak.
 

"Jadi peran pertama ini menjadikan kunci utama pendidikan seorang anak, apabila ibunya baik dalam mendidik anaknya insyallah akan menjadi anak yang baik," jelas Yulia saat diwawancarai NU Online Jatim pada Selasa, (08/02/2022).​​​​​​​
 

Yulia menambahkan, peran perempuan yang kedua juga tidak kalah pentingnya, karena hal ini berhubungan dengan ekonomi keluarga. Menurut Yulia peran perempuan sebagai pengatur keuangan menjadi penentu perjalanan keharmonisan keluarga sebab ekonomi.
 

"Bahkan tidak sedikit perempuan yang bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya menjadi tulang punggung keluarga. Maka kalau perempuan tidak baik maka ekonomi keluarganya akan berantakan bahkan bisa-bisa suaminya melakukan tindak kriminal," imbuhnya.

 

Peran penting perempuan selanjutnya adalah sebagai motivator. Kesuksesan suami dan anak-anak dalam segala hal menurut Yulia tak lepas dari dukungan dan motivasi dari seorang perempuan, sehingga hal itu menjadi pelecut semangat keluarga 
 

"Karena dibalik kesuksesan seorang suami dan anak-anak, ada sosok perempuan tangguh dengan doa dan perhatiannya. Maka kuncinya menjadi perempuan seperti itu adalah agamanya baik, punya ilmu, sabar dan ikhlas serta menjadi contoh dan panutan bagi keluarganya," pungkasnya.​​​​​​​
 

Hak perempuan
Winda Badiatul Jamila, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo menyampaikan, perempuan tentunya memiliki hak yang sama dalam semua kegiatan positif di masyarakat.
 

Karena peran perempuan baik di ranah publik maupun domestik sudah banyak diakui oleh banyak kalangan. "Sebab ada beberapa masyarakat awam yang masih kukuh terhadap stigmanya yang negatif terhadap perempuan," ucapnya.
 

Menurutnya, mereka beranggapan tugas perempuan hanya memasak, melahirkan dan berdandan. Justru gencarnya perempuan untuk tetap berdaya semakin digaungkan. "Perempuan yang mampu dan adil itu keduanya justru dipandang lebih baik," jelasnya.
 

Kemudian, lanjut  Winda, tentunya perempuan mempunyai ruang-ruang di ranah publik untuk kemaslahatan bagi sesama.
 

"Maka dengan mengisi banyak waktu dengan kegiatan-kegiatan yang positif, seperti berorganisasi sesuai passion memberikan pengaruh yang cukup baik untuk terbentuknya karakter perempuan yang lebih tanggap dan luwes," paparnya.
 

Ia berharap, perempuan di momen hari perempuan Internasional ini yakni saling mengingatkan,  menguatkan, mendukung, baik dalam perbaikan intelektual maupun moral.
 

"Karena perempuan ada untuk saling berkolaborasi, bukan untuk berkompetisi, apalagi ajang aktualisasi diri," tegasnya.
 

"Buktikan bahwa kita bukan manusia lemah dan takut terlihat tidak cantik dan buktikan bahwa kita manusia-manusia kuat paling tidak dalam menyelesaikan pekerjaan domestik di rumah," tutupnya.


Editor:

Kediri Raya Terbaru