• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Keislaman

Amar Ma'ruf Nahi Munkar adalah Manifestasi Kasih Sayang

Amar Ma'ruf Nahi Munkar adalah Manifestasi Kasih Sayang
Mengajak kebaikan dengan cara yang baik dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik (Foto:NOJ/Ltnnujabar.or.id)
Mengajak kebaikan dengan cara yang baik dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik (Foto:NOJ/Ltnnujabar.or.id)

Banyak ayat al-Quran hadits yang menegaskan pelaksanaan prinsip amar ma’ruf nahi munkar, bahkan al-Quran hadits menyebutkan berkali-kali. Hal ini mengisyaratkan betapa pentingnya prinsip ini bagi manusia, sehingga memberikan arti hidup yang bermakna. Penggunaan prinsip ini tidak hanya terpaku pada persoalan keagamaan saja, melainkan berkait-paut dengan hubungan sosial yang meliputi etika dan tanggungjawab sosial, baik secara personal maupun sosial.

 

Salah satu hadis Nabi yang diriwayatkan Muslim dari jalur Abi Said al-Khudri:
 

عَنْ أَبِيْ سَعيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).

 

Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya (kekuasaannya). Kalau dia tidak mampu hendaknya dia ubah dengan lisannya dan kalau dia tidak mampu hendaknya dia ingkari dengan hatinya. Dan inilah selemah–lemahnya iman.
 

Dalam Syarah Arbain karya Ibn Daqiq al-Id dijelaskan bahwa asbabul wurud hadits ini bermula dari Marwan yang mendahulukan khutbah hari raya sebelum shalat id. Kejadian ini pun memancing reaksi salah satu sahabat bahwa khutbah hari raya lebih dahulu daripada shalat id itu tergolong mungkar, karena belum pernah dilakukan Nabi Muhammad.
 

Hadits yang menjadi prinsip amar ma’ruf nahi munkar ini mencerminkan bagaimana reaksi seorang mukmin tatkala melihat kemungkaran di depan mata. Merespon kemungkaran itu dipersilahkan menggunakan tiga cara; dengan tangan, dengan ucapan dan dengan hati. Namun tetap kedepankan kesantunan, bukan malah mencegah kemungkaran dengan kemungkaran baru.
 

Teknis pelaksanaan prinsip ini tidak serta merta dipahami secara letterleijk saat ada kemungkaran dengan cara memukul, menghantam, apalagi merusak dan  membakar. Alih-alih melahirkan kebaikan, justru dengan menggunakan cara yang keras akan muncul kemungkaran baru. Terlebih ini juga bertentangan dengan prinsip Islam sendiri yang mengajak umat dengan lembut menuju kebaikan. Bahkan Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan “amar ma’ruf nahi munkar adalah manifestasi kasih sayang” dengan artian “amar ma’ruf bil ma’ruf, nahi munkar bil ma’ruf.”
 

Artinya  hadits amar ma’ruf nahi munkar ini sebenarnya mencakup dimensi personal dan sosial. Dikatakan secara personal, sebab ajakan/ perintah kebaikan akan mudah terealisasi tatkala dia juga melatih, mencontohkan sendiri secara istiqomah bagaimana melakukan perbuatan baik dan menghindarkan diri dari perbuatan buruk. Dikatakan sosial karena contoh baik tersebut memiliki dampak sosial bila disebarkan, disampaikan kepada orang lain agar tercipta kondisi sosial yang baik, kondusif, aman, stabil.
 

Walhasil, terwujudnya penegakan amar ma’ruf nahi munkar berkelindan dengan person, mereka harus mampu mencontohkan amar ma’ruf nahi munkar yang termanifestasikan dalam bentuk akhlaqul karimah, tidak mudah tersulut oleh nafsu amarah tatkala berhadapan dengan kemungkaran yang berujung anarkisme. Sudah saatnya seluruh elemen bersatu dan menerapkan amar ma’ruf bil ma’ruf dan nahyul munkar bil ma’ruf (mengajak kebaikan dengan cara yang baik dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik).


Editor:

Keislaman Terbaru