• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 11 Agustus 2022

Keislaman

Ingin Cepat Kaya? Segera Menikah Saja!

Ingin Cepat Kaya? Segera Menikah Saja!
Ada jaminan bahwa pasangan yang menikah akan kaya. (Foto: NOJ/HJy)
Ada jaminan bahwa pasangan yang menikah akan kaya. (Foto: NOJ/HJy)

Salah satu motivasi yang dipercayai orang ketika hendak menikah adalah bahwa Allah SWT akan membukakan pintu rezeki bagi siapa saja yang memasuki jenjang pernikahan. Janji tersebut termaktub dalam an-Nur (24:32):


وأنكحوا الأيام منكم والصالحين من عبادكم وامائكم ان يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله… 

 

Artinya: Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.

 

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa jika seseorang menikah dalam keadaan miskin, maka Allah akan memberi karunia berupa kekayaan. Tetapi apakah setiap orang yang menikah akan otomatis menjadi kaya? Pertanyaan inilah yang mungkin timbul dalam benak banyak orang.

 

Dulu ketika menikah, tidak sedikit juga mempercayai ayat ini. Bahkan waktu itu ada yang berani memasuki jenjang pernikahan sekaligus mengambil kuliah pascasarjana walaupun belum memiliki pekerjaan tetap. Bahkan juga belum memiliki penghasilan cukup untuk membiayai dua keputusan besar tersebut.

 

Tetapi jika melihat realita yang terjadi di tengah masyarakat, banyak pasangan yang masih kesulitan dalam bidang ekonomi setelah menikah. Tidak sedikit pula yang akhirnya pernikahannya harus berakhir dengan perceraian karena faktor ekonomi. Justru faktor ekonomi ini menjadi faktor yang dominan dalam kasus perceraian di pengadilan agama.

 

Lantas, apakah ini berarti ayat di atas tidak sesuai dengan kenyataan? Atau cara penafsiran yang masih belum sesuai dengan maksud dari ayat tersebut?

 

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa referensi tentang pendapat ulama dalam menafsirkan kata: يغنهم الله.

 

Dari beberapa referensi, yang menarik antara lain penafsiran Sayyid Muhammad bin Muhammad al-Husaini al-Zabiidi dalam kitab Ithaf al-Sadat al-Muttaqin. Sayyid Muhammad memang bukan ulama tafsir, tapi tinjauannya tentang ayat ini sangat menarik untuk dikaji. 


Berikut kutipan dari kitab Ithaf al-Sadat al-Muttaqin, Bairut Libanon, juz 5 halaman: 285.


ثم قال ان يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله والله أعلم بالأغناء كيف هو فقد يغنيهم بالأشياء وقد يغنيهم عن الأشياء وقديغني نفوسهم عن الأعراض وقد يغنيهم باليقين 

 

Artinya: Kemudian Allah berfirman: Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya, Allah lebih tahu tentang makna ‘kaya’ sebagaimana mestinya. Terkadang Allah akan menjadikan ia kaya dengan memiliki sesuatu, terkadang Allah akan menjadikan ia kaya dengan tidak membutuhkan sesuatu, terkadang Allah akan menjadikan hatinya kaya dengan tidak menginginkan harta benda, dan terkadang Allah  akan menjadikan ia kaya dengan keyakinan.

 

Imam al-Zabiidi memberikan empat penafsiran terhadap kata يغنهم الله.

 

Pertama, Allah akan menjadikan mereka kaya dengan memiliki sesuatu (يغنيهم بالأشياء). Artinya setelah menikah orang tersebut akan mendapatkan anugerah berupa harta benda, sehingga menjadi kaya secara materi. Penafsiran inilah yang biasa dipahami secara umum tentang ayat di atas.

 

Kedua, Allah akan menjadikan pasangan kaya dengan tidak membutuhkan atau tidak punya keinginan memiliki sesuatu (يغنيهم عن الأشياء). Penafsiran kedua ini bisa dimaknai dengan kekayaan itu bukan terletak pada apa yang dimiliki, tapi pada apa yang dibutuhkan dan diinginkan. Semakin banyak hal yang tidak kita butuhkan atau inginkan, maka pada dasarnya kita semakin kaya. Karena kita tidak perlu mengejar untuk mendapatkan sesuatu tersebut.

 

Bisa jadi, ada orang yang terlihat miskin, karena ia telalu banyak memiliki keinginan dan tidak mampu membeli apa yang ia inginkan, walaupun sebenarnya hartanya banyak. Sebaliknya, ada orang yang terlihat kaya, walaupun tidak memiliki banyak harta, karena ia tidak memiliki banyak keinginan atau kebutuhan terhadap berbagai macam benda tersebut, sehingga hidupnya menjadi cukup.

 

Penafsiran ketiga adalah  Allah akan menjadikan jiwanya kaya dengan tidak menginginkan harta benda (يغني نفوسهم عن الأعراض).

 

Penafsiran ini lebih menekankan pada aspek batin. Artinya kekayaan bukan terletak pada materi, tetapi pada jiwa dan hati. Dalam hal ini miskin dan kaya menjadi sebuah persoalan mental. 

 

Sering kali bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari, orang yang terlihat kaya tetapi memiliki mental orang tidak punya, sehingga terkadang mau merendahkan diri untuk mendapatkan sesuatu. Sebaliknya ada orang yang terlihat miskin, tapi mental dan jiwanya seperti orang kaya. Tetap menjaga kehormatan dirinya, tidak mau meminta-minta, dan tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa memandang dirinya sebagai orang miskin. 


Sedangkan penafsiran keempat adalah Allah  akan menjadikan kaya dengan keyakinan (يغنيهم باليقين). 
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, khususnya dalam kehidupan rumah tangga, keyakinan adalah modal sangat penting. Karena dalam menghadapi berbagai macam permasalahan rumah tangga, seringkali merasa tidak mampu menghadapi problem itu. Tetapi jika memiliki keyakinan kepada Allah SWT, Yang Maha Kuasa, Maha Berkehendak, dan Maha Memberikan Pertolongan, maka permasalahan besar akan menjadi kecil. Dan kita akan kuat menghadapinya. Kekuatan menghadapi permasalahan berasal dari keyakinan yang ada di dalam hati. Karenanya, keyakinan adalah anugerah yang luar biasa dari Allah kepada seorang hamba.

 

Pengalaman pribadi penulis ketika awal pernikahan harus hidup di tiga kota yaitu Pacitan tempat mengabdi, Surabaya tempat kuliah pasca, dan Jombang sebagai tempat tinggal dengan istri. Dalam sepekan harus berpindah-pindah dari dan ke tiga kota tersebut. Dengan pendapatan yang masih sangat minim, tanpa anugerah keyakinan yang diberikan Allah SWT, rasanya tidak mungkin bisa bertahan hidup dalam keadaan seperti itu.

 

Tetapi, itulah anugerah dari Allah kepada hamba-Nya yang mau memasuki jenjang pernikahan. Allah menjanjikan sebuah anugerah. Yang harus dipahami adalah, anugerah bukan hanya soal kekayaan materi. Mungkin saja jika tidak diberi harta yang berlebih, akan diberi hati dan jiwa yang kaya dan lapang sehingga tidak memiliki banyak keinginan.

 

Tidak hanya itu, mungkin anugerah juga berupa keyakinan penuh bahwa Allah Maha Pengasih yang akan selalu menjaga diri dan keluarga kita. Maka, apakah benar pernikahan bisa membuat kaya? Jawabannya ada di dalam diri masing-masing.

 

Ustadz Mustaufikin adalah Alumnus Pesantren Tremas, Pacitan dan Mengajar di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. 


Editor:

Keislaman Terbaru