• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 6 Februari 2023

Madura

Apa Itu Organisasi? Begini Penjelasan Kiai Asy’ari Khatib

Apa Itu Organisasi? Begini Penjelasan Kiai Asy’ari Khatib
Workshop Keorganisasian. (Foto: NOJ/Firdausi)
Workshop Keorganisasian. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
KH Asy’ari Khatib, Wakil Ketua Mejelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan mengatakan, organ-organ di dalam sebuah sistem organisasi harus saling mendukung satu sama lain. Tidak menusuk dari belakang, apalagi menggunting dalam sebuah lipatan.


Pernyataan ini disampaikan saat mengisi workshop keorganisasian yang dihelat oleh peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Integratif Posko 56 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Jum’at (19/08/2022) di Pendopo Kecamatan Ambunten, Sumenep.


Menurutnya, organisasi tidak berdiri begitu saja, tetapi dibangun oleh sebuah harapan dan mimpi yang ditulis dalam sebuah visi, misi dan tujuan. Sedangkan tugas pemimpim adalah menggerakkan semua organ untuk melangkah bersama guna meraih tujuan yang diinginkan.


“Di dalam sebuah pelatihan keorganisasian mencakup tiga hal, yaitu keorganisasian sebagai wadahnya, manajemen untuk menghubungkan organ satu dengan yang lainnya, dan kepemimpinan. Karena pada hakikatnya manusia adalah seorang pemimpin yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah,” ungkap alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu.


Kiai Asy’ari menegaskan, organisasi bukan sekedar wadah saja. Karena banyak orang melihat sebuah organisasi pada wadahnya, bukan pada aktivitasnya. Padahal secara teoritis, organisasi menekankan pada pengelolaan.


“NU besar karena pengelolaan dan manajerialnya baik. Maksudnya menjalankan prinsip Planning, Organizing, Actuating and Controlling (POAC),” terangnya.


Dijelaskan pula, planning tidak sekedar diucapkan tetapi ditulis. Pasalnya, sesuatu yang dibicarakan akan berlalu dengan angin. Sedangkan hal-hal yang ditulis akan abadi bersama sejarah. Seperti halnya tulisan Al-Ghazali yang sampai detik ini bisa didialogkan.


“Di masa Orde Baru, Soeharto memiliki program Pembangunan Lima Tahun (Pelita) sebagai konsep tinggal landas. Hemat kami, sudah tercapai tujuan itu walaupun terlepas dari catatan buruknya. Lebih baik mengenang yang baik daripada mengingat buruknya seseorang,” sergahnya.


Guru di Pesantren Annuqayah itu mengingatkan pada peserta bahwa Rasulullah selalu merencanakan sesuatu sebelum bertindak, misalnya saat peperangan. Maksudnya, sebelum perang, Nabi bermusyawarah guna mengatur strategi perang dengan cara bermusyawarah bersama sahabat.


“Dengan demikian, dalam sebuah organisasi, masing-masing seksi wajib membuat rencana, lalu dimusyawarahkan dalam bentuk pleno. Tujuannya untuk direvisi (dipandang ulang). Hasil pleno inilah yang dijadikan pijakan dalam langkah selanjutnya. Selain musyawarah, jangan lupa diistikharahkan,” pintanya.

 

Workshop yang bertajuk ‘Pemuda Kuat, Pesantren Kuat untuk Indonesia Bermartabat’ ini diikuti oleh seluruh pengurus pesantren, karang taruna, badan otonom NU, dan pelaku UMKM.


Madura Terbaru